
"Aku punya sesuatu untuk kamu," Mico memberikan kotak kecil ke hadapan Freya. Hal itu membuat Arby ketar-ketir. Saat ini Freya main ke apartemen Nuna, Nania, Aruna dan Kirei (mereka masih satu unit apartemen).
Mico juga meminta Ikmal, Vian dan Marcell datang. Sedangkan Arby, tak perlu Mico yang menyuruh, dia pasti akan langsung datang begitu tahu bahwa mantan istrinya itu ada di sini, dan ternyata dia memang datang tanpa diundang.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Freya membuka kotak yang dihiasi pita itu.
"Flashdisk?"
Mico langsung mencolok flashdisk itu ke televisi. Sebuah video saat perayaan ulang tahun sekolah di mana Freya bernyanyi sedangkan Mico memainkan alat musik.
Mereka kembali terkenang saat sekolah dulu.
"Apa itu mommy dan uncle Mico saat sekolah dulu?" tanya Chiro.
"Iya."
"Kenapa uncle yang lain dan para aunty tidak ada yang bernyanyi?"
"Mungkin karena suara mereka jelek, Chiro," jawab Mico asal.
Lalu video selanjutnya, saat Arby cs menyanyikan lagu dokter cinta. Wajah Arby cs mendadak merah. Sedangkan Freya cs dan Mico tertawa melihat gaya lima pemuda di video.
"Ternyata penampilan kita seperti itu?"
"Daddy, Chiro malu melihat Daddy yang seperti itu."
Mico dan para perempuan semakin tertawa. Lalu giliran Freya cs yang bernyanyi.
"Kenapa kita juga bernyanyi?"
"Buat memeriahkan suasana."
Freya mengangguk saja.
"Pasti kamu pikir aku mau melamar Freya, kan?" bisik Mico di telinga Arby sambil tertawa pelan.
Freya sendiri tetap tak ingat apapun, meski melihat video-video itu.
...💕💕💕...
...Dua orang...
...Di tempat yang berbeda...
...Namun sama-sama memandang langit...
...Berpikir tentang masa depan yang masih menjadi teka-teki...
...Melamunkan masa lalu yang kadang dirindu...
...💕💕💕...
"Ayo," ajak Arby.
"Ke mana?"
"Kita bahas masalah kerja sama di restoran saja, sekalian makan siang."
Freya mengikuti Arby, mereka jalan bersisian dengan aura yang sama-sama kuat.
Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di restoran itu. Mereka masuk ke ruang VVIP yang telah dipesan oleh Arby.
Selagi menunggu jam makan siang, mereka membahas masalah pekerjaan dengan sangat serius.
"Aku sudah memesan makanan sebelum kita ke sini."
"Ya sudah kalau begitu."
__ADS_1
Tak perlu risau soal menu yang dipilihkan oleh Arby. Arby itu sudah seperti ahli gizi pribadi untuk Chiro dan Freya.
"Frey, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu."
Wajah Arby terlihat serius.
"Kamu tahu kan, Chiro sudah semakin besar. Dia membutuhkan seseorang yang bisa dia ajak bermain, juga teman yang bisa dia ajak cerita saat pulang sekolah. Dia membutuhkan sosok ibu, jika bisa, dia juga membutuhkan adik agar dia tak selalu kesepian saat aku sibuk kerja atau kamu yang sibuk kerja. Apalagi kita tak lagi bersama."
Deg
Deg
Deg
Apa dia bermaksud mengatakan ingin menikah lagi? Apa dengan Jasmine? Apa Chiro benar-benar akan memiliki ibu baru? Apa kasih sayangnya Chiro akan terbagi?
Freya merasa Arby seperti pernah mengatakan hal seperti ini, tapi kapan?
"Ayo kita menikah!"
"Hah?"
"Ayo kita rujuk. Apa pun yang terjadi di masa lalu, lupakan saja. Kita mulai semuanya dari awal. Biarkan Chiro memiliki orang tua yang utuh."
"...."
"Ayo kita besarkan Chiro bersama-sama dan memberikan adik yang banyak untuknya."
"Hah?"
"Ayo kita bikin adik perempuan yang lucu untuk Chiro!"
"...."
"Aku tidak menerima penolakan. Apa pun yang aku inginkan harus aku dapatkan!"
"Ka ... kamu ...."
Dilihatnya tangan itu menggenggam erat tangannya. Suaranya tercekat, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Freya tiba-tiba saja tersadar.
"Eh? Aaa ... enggak, enggak. Kamu salah dengar, pokoknya kamu salah dengar."
"Enggak, aku enggak salah dengar, kan kamu barusan ngajak aku nikah, kan!"
"Enggak!" Freya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Freya berdiri lalu menghentak-hentakan kakinya.
"Pokoknya kamu salah dengar. Titik! Awas kalau cerita-cerita ke orang lain!"
Freya lalu langsung kabur, dengan wajah yang sudah sangat merah karena malu.
Sedangkan Arby, pria itu juga ikut berdiri dan menghentak-hentakkan kakinya.
Chiro, mommy, daddy ... aku baru saja dilamar Freya, dong. Ini bukan mimpi, kan?
Arby mencubit pipinya sendiri.
Sakit, anjirrr!
Lalu dia meloncat-loncat sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas, lalu memegang kedua pipinya dan mutar kiri kanan.
Dilamar, dilamar, dilamar .... uhuyy, ayeee ... ayeee!
Eh, my bebeb naik apaan kaburnya?
Arby ikut ke luar, dan kembali masuk dengan tergesa-gesa untuk mengambil berkas-berkas Freya dan dirinya yang tertinggal di dalam. Bahkan mereka belum makan sedikit pun.
Sebenarnya sudah sering Arby bilang, gak usah rapat juga sudah pasti diacc oleh Arby, tapi kalau gak meeting, juga dia jadi gak punya alasan buat ketemu ayang bebebnya, kan.
__ADS_1
Keluar dari ruang VVIP itu, wajah Arby sangat cerah, secerah terik matahari yang membuat jemuran langsung kering. Tak lupa dia senyum-senyum sendiri sambil bergumam dalam hati.
Ternyata begini rasanya dilamar.
Dia bagaikan anak remaja yang masih perawan dan ditembak oleh gebetannya. Sesekali masih menepuk pipinya yang masih merona malu-malu.
Arby tak menemukan Freya di sekitar restoran itu. Tentu saja, dia kan kelamaan jingkrak-jingkrak di dalam.
Arby memegang dadanya yang berdetak kencang.
Goodbye status duda. Aku mau nikah lagi, dong.
Digenggamnya kotak kecil yang berisikan cincin, yang sebelumnya dia simpan di saku jasnya. Tadinya dia berniat melamar Freya, makanya mengajak Freya makan di luar dan memesan ruang VVIP. Siapa sangka, malah dirinya yang dilamar.
Ini namanya rejeki nomplok. Gercep juga, dia! Tapi kenapa dia tiba-tiba melamarku?
Sedangkan Freya, wanita itu ngoceh-ngoceh sendiri di dalam taksi. Membuat supir taksi itu bingung.
Aaa, mau taruh di mana ini muka? Apa ... apa tadi itu benar-benar aku? Aku baru saja melamar pria untuk menjadi suamiku?
Chiro, sepertinya mommy salah minum obat!
Tapi ini seperti dejavu. Aku seperti pernah membicarakan pernikahan dengan seseorang. Hah, sudah lah, mungkin saja dulu saat aku dan Arby mau menikah kami membahas pernikahan.
Freya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu menepuk-nepuk pipinya. Kepalanya juga mutar kiri kanan kiri kanan.
Arby teringat ketika dia dan Freya masih SD dulu, saat membicarakan tentang pernikahan dan Freya yang menawarkan dirinya untuk menjadi calon suami Freya. Kenapa tidak kamu saja yang menikah denganku?
Arby tersenyum saat mengingat itu.
Takdir
Sejauh apa pun kita melangkah, ujian seperti apa pun yang dihadapi, jika takdir mengatakan untuk bersama, maka mereka akan bersama.
Freya mungkin tak sadar bahwa dirinya mengulang masa-masa itu meski tak sama persis.
Aku kan hanya bertanya, bukannya memintamu untuk menikah denganku.
Itu yang dulu.
Kamu salah dengar, pokoknya kamu salah dengar. Titik!
Itu yang sekarang.
Rahasia masa kecil yang tetap menjadi rahasia.
Jangan sampai ini hanya mimpi. Bisa-bisa aku minum obat tidur terus agar tak bangun-bangun.
Freya masuk ke rumahnya dengan tergesa-gesa.
"Kamu kenapa, Freya? Kok buru-buru gitu?"
"Mama, aku sibuk banget. Kalau ada yang datang mencari aku, bilang aku enggak ada di rumah. Ingat ya, Ma, siapa pun yang datang. Jangan ada yang ganggu aku. Sampaikan ini ke yang lain. Aku enggak ikut makan malam."
"Kalau Chiro yang nyari kamu?"
"Sama, bilang aja aku enggak ada. Apalagi kalau datangnya sama Arby yang tak tahu malu itu."
Wajah Freya langsung merah saat menyebut nama Arby. Ami yang melihat wajah Freya yang merah dan terlihat kesal, berpikir jangan-jangan mereka bertengkar.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 😃
Arby mau bobo dulu, mimpiin Freya. Eh, tapi kayanya dia bakalan gak bisa tidur dah tujuh hari tujuh malam. Kan dilamar dadakan gitu 😁
Siapa yang bacanya sambil senyam senyum?
__ADS_1
Harus banjir like dan komen ini, mah. Klo gak entar aku bikin mewek lagi 😂😂😂😂
Canda canda ... good nigth, have a nice dream 😊