
"Kamu terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, dan belum tentu terjadi, Ar."
Saat ini Arby sedang bicara dengan tante Irma.
"Tapi aku benar-benar khawatir, Tan. Semua kejadian buruk di masa lalu mengacaukan semuanya hanya dalam hitungan detik saja. Bagaimana kalau Freya sampai tahu?"
"Freya yang sekarang berbeda dengan Freya yang dulu. Dulu kalian masih remaja, bahkan masih sangat muda. Sekarang kalian berdua sudah dewasa, bahkan memiliki anak. Freya pasti memutuskan mau menikah dengan kamu lagi, dengan berbagai pertimbangan."
"Tapi kan dia hilang ingatan, Tan. Kalau ingatannya tidak hilang, apa dia mau kembali padaku?"
"Masalahnya sekarang bukan ada pada Freya, tapi pada diri kamu sendiri. Kamu harus berpikir positif, hilangkan semua pikiran buruk kamu."
Arby menghela nafasnya, dia sudah mencoba itu, tapi tetap belum bisa. Dia terlalu takut, dan trauma ini menghantuinya.
Dia hanya terlalu takut saat tiba waktunya Freya kembali mengingat semuanya, maka perempuan itu akan kembali meninggalkan dirinya, untuk yang kedua kalinya, dan selamanya.
"Rileks, Arby. Usia pernikahan kamu saja masih terlalu dini, jangan sampai ketakutan kamu ini menjadi boomerang bagi kamu sendiri."
"Iya, Tan. Aku tahu. Tan, jangan bilang sama siapa-siapa mengenai ini. Siapa pun, Tan. Termasuk kedua orang tua aku."
"Iya, kamu jangan khawatir. Tante ini psikolog, loh, juga harus jaga rahasia."
Dua minggu berlalu
Freya menghela nafas berkali-kali.
Apa aku salah mengambil keputusan? Mungkin aku saja yang baper.
__ADS_1
Nuna, Nania, Aruna dan Rei melihat wajah Freya yang kusut.
"Kamu kenapa, Freya? Ada masalah?" tanya Nuna.
"Enggak ada."
Mana mungkin Freya menceritakan masalah rumah tangganya yang baru seumur jagung.
🍂🍂🍂
Arby merasa kesal, malam ini dia harus pulang larut malam. Dilihatnya Freya yang sudah tidur.
Keesokan paginya.
"Honey, kamu kenapa? Sakit?"
Masalah itu harus dibicarakan, jangan didiamkan saja dengan pikiran yang menerka-nerka.
"Ada masalah apa?"
"Aku mau kamu jawab dengan jujur!"
"Apa?"
"Apa kamu kamu mau menikah denganku lagi karena Chiro? Apa hanya karena kasihan dengan Chiro?"
"Ko bicaranya begitu? Tentu saja aku mau menikahi kamu lagi karena aku mencintai kamu."
__ADS_1
"Tapi kenapa akhir-akhir ini kamu menghindar dari aku? Bahkan kamu ... kamu tidak pernah menyentuh aku. Setiap kali kamu mau menyentuh aku, pasti kamu pucat dan keringat dingin. Kamu ... kamu pasti jijik ya, sama aku?"
Deg
"Ya ampun, Frey. Mana mungkin begitu, kenapa kamu bisa berpikir begitu?"
Arby mau memeluk Freya, tapi langsung ditepis sama perempuan itu.
"Aku enggak masalah kalau kamu mau mengakhirinya sekarang, sebelum terlambat dan pernikahan ini berlangsung lebih lama lagi."
"Apa-apaan sih, Frey. Enggak ada ya pisah-pisah! Aku benar-benar mencintai kamu, bukan karena ada Chiro atau paksaan dari siapa pun."
"Kamu ada perempuan lain?"
"Ya ampun. Perempuan lain dari mana?"
"Terus kenapa kamu seperti ini padaku?"
Aku harus jawab apa? Masa aku cerita yang sebenarnya.
"Aku memang lagi sibuk akhir-akhir ini. Benar deh, enggak ada perempuan lain atau apa pun hal buruk yang kamu pikirkan. Jangan mikir macam-macam, ya. Ya kali Arjun belum melakukan kewajibannya tapi malah minta di kuliti. Rugi bandar, lah!"
Freya, yang tadinya merasa sedih sambil menatap keseriusan di wajah suami super tampan itu, langsung cemberut.
"Nanti kalau Arjun sedang kerja rodi, biarkan saja dia. Jangan beri ampun!"
Ya ampun, suami siapa ini?
__ADS_1