
“Jangan cemberut terus kenapa sih, Ar? Pusing mommy melihat kamu yang seperti itu.”
“Lagian Mommy dan Daddy tega banget sama aku, aku kan pengen cepat-cepat nikah, Mom.”
“Kamu kira mengurus pernikahan itu mudah? Nanti kalau kalian menikah tergesa-gesa, orang-orang bisa berpikir yang tidak-tidak. Ya hamil di luar nikah, lah. Pernikahan bisnis, lah,” ucap Arlan yang juga sudah jengah dengan rengekan anak semata wayangnya itu.
Arlan sangat tahu bahwa Arby tidak pernah meminta sesuatu padanya, apalagi sampai memaksa, kecuali permintaan untuk menikah dengan Freya, baik dulu dan sekarang.
Arlan tersenyum mengingat itu, anaknya itu memang benar-benar pria yang tangguh. Dulu, saat Arby masih kecil, dia berusaha keras untuk membuktikan keseriusannya, mendirikan perusahaan untuk masa depan Freya saat menikah dengannya. Lalu saat perempuan itu pergi meninggalkannya dan Chiro, dia membesarkan Chiro seorang diri di tengah kesibukannya kuliah dan mengurus perusahaan. Jika itu pria lain, pasti sudah mencari perempuan lain untuk menjadi ibu sambung bagi Chiro. Arby juga todak pernah main perempuan untuk melampiaskan hasratnya sebagai laki-laki, dia justru bersikap ketus pada perempuan lain, apalagi yang sengaja mendekatinya.
Bagaimana dia tidak bangga memiliki anak seperti Arby? Dia akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan Arby dan Chiro, cucu laki-lakinya.
“Tapi ....”
“Sudah, kamu menyetir saja yang benar. Kapan sampainya kita kalau begini?”
“Lagian, aku yang mau nikah, kenapa sekarang aku yang harus menghadiri pernikahan orang, sih. Malu, kan!”
“Fokus saja menyetirnya, keburu acaranya selesai, tidak enak dengan tuan rumah.”
Kurang lebih lima belas menit kemudian mereka tiba di acara pernikahan rekan bisnis Arlan.
“Jangan cemberut gitu mukanya, malu dilihatin orang-orang. Ganteng-ganteng kok jelek!”
Ganteng-ganteng kok jelek? Sejak kapan ada istilah aneh seperti itu?
“Senyum, dong!”
Arby menghela nafas, lalu berusaha tersenyum meski dalam hati kesal.
Arby melihat suasana acara ini yang sangat megah, bahkan tamu-tamu yang hadir adalah para pengusaha sukses.
Nanti aku akan membuat acara pernikahan yang sangat meriah untuk Freya.
“Hai, Arby!”
“Hai, Zion, Lexa, Dav ....” sederet nama 12 F itu dia sebutkan.
Arby mulai membaur menyapa para kolega bisnisnya.
Dalam hati Arby berdecak kagum akan konsep pernikahan ini.
Tuh kan, jadi enggak sabar nikah. Aku culik juga nih, Freya!
“Calon pengantin perempuannya cantik banget, loh.”
Halah, enggak ada yang secantik Freyaku.
“Tapi dengar-dengar, calon pengantin prianya, wajahnya biasa-biasa saja.”
Oh, ya jelaslah. Aku lah yang paling tampan.
Para tamu itu masih menggosip, membicarakan kedua calon pengantin. Sedangkan Arby menanggapinya hanya dalam hati.
“Jangan-jangan yang perempuan terpaksa.”
Arby melihat Zion cs itu cekikikan dengan pembicaraan mereka sendiri.
Ternyata mereka juga suka menggosip.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih, Ar?” tanya Zion.
“Tidak apa-apa?”
“Ngiri ya, diduluin sama yang lain?”
Arby melirik Zion yang tertawa bersama istri dan sahabat-sahabatnya. Memang hanya mereka yang bisa berbicara seenaknya. Orang-orang yang terkenal bermulut pedas, apalagi Lexa, kalau sudah benci sama orang benar-benar dibabat sampai ke akar-akarnya, tapi akan sangat baik pada orang yang juga baik padanya.
“Hai, kalian juga datang?” tanya Arby pada Ikmal.
Ikmal tidak menjawab, wajahnya terlihat sedih, begitu juga dengan Marcell dan Vian. Marva melihat Arby dengan tatapan iba.
“Sudah deh, jangan ikut-ikutan meledek aku. Pasti kalian mau bilang kasihan kan, ke aku?”
Dilihatnya Mico yang duduk di depan penghulu, yang seharusnya itu adalah posisi pengantin laki-laki.
“Loh, yang nikah Mico? Sama siapa?”
“Calon pengantin perempuannya bisa masuk sekarang,” ucap seseorang.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan memakai pakaian pengantin datang. Semua mata tertuju padanya, termasuk Arby.
Perempuan itu sangat cantik, Arby sampai kehilangan kata-kata.
“Kok mirip Freya?”tanyanya.
Perempuan itu duduk di sebelah Mico. Pandangan mata perempuan itu dan Arby bertemu.
“Sudah siap semuanya?”
Mereka mengangguk, lalu Mico mulai menjabat tangan Wildan. Melihat semua itu, Arby mulai tersadar.
Arby menuju Freya, menarik tangan perempuan itu.
“Frey, kamu apa-apaan, sih?”
Freya tidak menjawab, wajahnya hanya menunduk.
“Jawab aku, Frey!”
“Ma ... Maafkan aku, aku tidak bisa menikah denganmu akhir bulan depan.”
“Kamu gimana, sih? Kan aku yang melamar kamu, dan kamu sudah menerimanya.”
“Maaf ....”
“Kamu waktu itu aku ajakin langsung nikah, tapi gak mau.”
“Maaf ....”
“Kamu aku ajak nikah dulu batu yang lainnya menyusul, tidak mau. Aku ajak buat mengurus surat-suratnya, alasannya sibuk pekerjaan.”
“Maaf, aku ... aku ....”
“Kalau memang tidak mau, kenapa tidak kamu tolak saja langsung, jangan memberikan harapan yang menyakitkan seperti ini!”
Air mata Freya menetes, dia benar-benar tidak berani memandang Arby.
“Enggak, ini pasti mimpi ... Ini pasti hanya mimpi!”
__ADS_1
Arby melihat keluarganya, yang diam namun terlihat wajah kesedihan di sana.
“Ini hanya mimpi, kan?” tanyanya.
Para tamu menyaksikan itu, tidak ada bisikan, hanya ketegangan yang tercipta.
“Mom, Dad, kenapa kalian mengajakku ke sini?”
“Lebih baik kamu tahu sekarang, Ar.”
Elya ikut menangis melihat anaknya yang menangis.
Arby kemudian menarik tangan Freya, tentu saja dia tidak akan membiarkan perempuan uang diperjuangkannya, bahkan sejak kecil, menikah dengan orang lain.
“Kamu mau bawa aku ke mana? Aku tidak bisa meninggalkan pernikahan ini!”
“Berhenti, kamu tidak boleh membawa Freya ke mana-mana!”
Mico melepaskan legangan tangan Arby di tangan Freya. Arby mengepalkan tangannya, dan ingin menonjok Mico, namun dicegah oleh Freya.
“Jangan mengacaukan hari pernikahanku!”
Arby tidak peduli, malah bagus kalau acara ini kacau, pikirnya, biar batal sekalian.
“Pokoknya kalau sampai batal ini salahmu!” ucap Freya.
Hati Arby sungguh tertohok, Freya menyalahkannya, lalu bagaimana dengan hatinya?
Dia yang berjuang mati-matian tapi orang lain yang mendapatkannya.
Jasmine menunduk, menahan senyum, dan mendapat dengkusan dari Evan.
Evan menatap iba bos sekaligus sahabatnya itu.
Arby tidak peduli, dia kembali menarik tangan Freya.
“Daddy, jangan sakiti mommy!”
Tidak ada yang membelanya.
“Sabarlah, Ar. Mungkin ini memang sudah jalannya,” ucap Arlan menepuk punggung Arby.
“Apa pernikahannya jadi dilaksanakan?” tanya penghulu.
Arby mencengkram kerah Mico, bersiap akan memberi bogeman untuk pria itu, namun Ikmal, Vian, Macell dan Marva menahan tubuh keduanya agar tidak saling tonjok.
Ya Allah, aku mohon agar ini hanya mimpi. Sekali pun lamaranku saat itu juga mimpi, tak apa.
Freya menunduk dalam pelukan mamanya, tubuhnya terguncang. Arby melihat seluruh area pernikahan ini, yang tadi sempat dia kagumi karena begitu megah. Pria itu menghela nafas berkali-kali, berharap untuk segera terbangun dari mimpi buruknya.
“Ar ....”
Seseorang mengguncang tubuhnya, namun dia tidak merespon.
“Ar ....”
Tepukan dipundaknya itu semakin kencang. Arby berdoa dalam hatinya, agar rasa sakit yang dia rasakan saat ini hanya sebuah mimpi.
“Ar ....”
__ADS_1