
Arby dan para bocil sedang berenang. Mereka sangat asyik menikmati kegiatan hari ini. Freya sendiri hanya melihat, sambil sibuk ngemil. Ibu hamil itu memang gemar ngemil, apalagi di kehamilan yang sekarang. Bobot tubuhnya bertambah banyak, membuat Arby gemes pengen ngedusel-dusel, tapi di kamar.
Arby tiba-tiba saja mencium aroma. Bukan aroma bau, tapi ini sangat wangi. Air kolam renang itu jadi terlihat sedikit keruh.
"Sachi, Ichi, Ishi, apa yang kalian lakukan?"
"Nyuci baju, Daddy."
"Nyuci baju?"
"Yes, kata ibu gulu, kita harus melingankan beban olang tua. Daddy nih, gak pelnah bantu-bantu Mommy nyuci baju. Kan kacian Mommy, bajunya banyak."
Arby mengerjapkan matanya.
"Kenapa harus di sini? Ini kan buat berenang."
"Kan cekalian, Daddy. Olang-olang juga cuka cuci baju sambil mandi. Ya kan, Bang Sachi?"
"Iya. Tapi di sini gak ada batu-batu."
"I ... itu sungai yang kalian lihat."
"Yang penting ailnya banyak."
"Dah, Daddy duduk aja yang anteng, bial kami yang nyuci. Daddy jangan ili, ya. Bacok kami yang bantuin Daddy."
__ADS_1
"Bacok, bacok ... besok!"
"Belicik, kami kan lagi pokus ini!"
"Heleh, nyuci cuma dicolek-colek doang, kok."
Arby lalu melihat air kolam, harus dikuras, deh!
"Apa yang kalian pake itu? Kenapa busanya banyak?"
"Pake cabun, lah. Maca begitu aja gak tau. Enggak pelnah nyuci begini, nih."
Arby mendengus, bisa-bisanya dia di-bully oleh anaknya sendiri. Dsn apa katanya tadi? Gak pernah nyuci?
Tiba-tiba saja asisten rumah tangga yang biasa mencuci baju datang.
"Semua? Memangnya ada berapa banyak?"
"Dua puluh bungkus, Nya."
Arby langsung naik ke atas, bisa-bisa badannya jadi gatal-gatal. Chiro sendiri sudah lebih dulu naik ke atas sejak melihat ketiga adiknya menyelundupkan sabun.
"Kalian ini, kenapa ada saja yang kalian lakukan, hah?" tanya Arby, gemes.
"Kan bantuin Mommy. Becok balu bantuin Daddy."
__ADS_1
Arby menatap curiga. Bantuin versi mereka berarti tanda bahaya bagi Arby.
"Memangnya kalian mau apa?" Arby harus tahu dulu, biar bisa jaga-jaga.
"Bacok kami ikut ke pelucahaan. Bial nanti kami yang tanda tangan belkas. Daddy duduk cantai aja sambil mimi kopi."
"Heleh, gaya mau tanda tangan berkas. Ngomong aja masih cadel. Paling juga kalian coret-coret berkas Daddy."
Freya cekikikan saja di tempatnya. Anak-anak mereka itu memang selalu membuat Arby ngelus-ngelus dada.
"Udah ah, Daddy. Kami cape. Ini Daddy saja yang lanjutin," ucap Sachi, si pemimpin Ichi dan Ishi.
Chiro malah memalingkan wajahnya, kalau urusan begini, dia sama kaya Freya, langsung mode kalem. Ketiga anak itu memang selalu bikin heboh. Ada saja kelakuan yang membuat seisi rumah merasa sangat lelah, seperti bekerja puluhan tahun tanpa istirahat.
Kolam renang sebesar ini harus dikuras. Arby segera menghubungi petugas untuk menguras kolam renangnya, padahal baru satu minggu yang lalu dikuras.
Perut Ichi dan Ishi yang endut itu megal-megol karena tertawa. Sachi juga berlindung di belakang Freya, takut diomelin Arby.
"Kalian berlima mandi dulu," ucap Freya.
Mereka langsung mandi, tidak mau membantah perintah nyonya ratu. Lagi-lagi mereka berlima sangat rusuh. Arby menyampoi Chiro, Sachi, Ichi dan Ishi.
Meskipun sudah besar, tapi bukan berarti perhatian Arby pada Chiro berkurang, tidak sama sekali. Dia juga tidak akan membiarkan Chiro berpikir karena sudah punya banyak adik, maka dia akan menjadi urutan ke sekian.
Rasa sayang Arby malah semakin besar pada Chiro, karena Chiro selalu membantu dia menjaga adik-adiknya dan mau bermain bersama mereka saat Arby dan Freya sibuk.
__ADS_1
Tapi kalau mereka bertiga isengnya kumat pada Arby, Chiro suka pura-pura gak tahu.
Mereka hanya takut pada Freya, karena takut Freya ngambek terus mereka berlima disuruh tidur di luar.