
Perut Freya sudah semakin membesar, dan itu membuat Arby semakin gemas. Pria itu lebih sibuk daripada siapa pun. Bukan masalah sibuk kerja, tapi sibuk membeli baju hamil untuk istrinya itu. Sepatu teplek yang nyaman dan semua yang dibutuhkan oleh Freya, Arby yang mengurusnya.
Bukan karena Freya tidak bisa mengurus diri sendiri dan bersikap manja, tapi memang Arby yang ingi melakukan kesemuanya demi Freya.
Dalam hati juga Arby sudah menyiapkan nama anak mereka. Jika nanti anaknya laki-laki lagi, akan dia beri nama apa, dan jika perempuan siapa namanya.
Memikirkan nama anak mereka, membuat hati Arby menghangat dan senyum merekah di wajahnya. Arby ingin sekali punya anak kembar, seperti Radhi dan Raine. Nanti di kanan dan kirinya, dia bisa menggendong anak kembarnya itu, dan kembali memproduksi anak.
Arby terkikik sendiri.
Pluk
Kulit pisang mendarat di wajah Arby.
"Pasti lagi mikir mesum."
"Kok tahu?"
"Wajahmu menunjukkan semuanya."
"Aku mah mesum juga ada tempat untuk menyalurkannya. Dari pada mesum malah kabur ke kamar mandi. Masih jaman ya, ngayal di kamar mandi?"
Kamvret memang nih cowok!
"Apalagi kalau musim hujan begini. Apalah artinya guling dan selimut?"
Anjir, sialan!
"Ada yang playboy, tapi tetap saja enggak nikah-nikah. Jomblo kok dipelihara. Emangnya jomblo bisa dibanggakan?"
Apa boleh aku menyantet pria ini?
__ADS_1
"Kaya iya, ganteng lumayan, tapi kalau enggak punya gandengan, kan malu-maluin."
Heleh, sombong. Kemarin ditinggal Freya serasa mau kiamat.
"Ya ampun, dingin banget. Enak nih pelukan di kasur sama my bebeb."
Satu
Dua
Tiga
Mereka kembali mengeroyok Arby.
"Buka bajunya, terus ikat dia. Biarkan dia kedinginan begitu."
"Iya. Biar dia tahu gimana rasanya kedinginan tanpa ada yang memeluk."
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan sosok Freya dan Chiro. Mereka meringis melihat Arby yang sudah ditelanjangi oleh Ikmal dan yang lainnya.
"Aaaa ... kalian para pria mesum. Apa yang kalian lakukan pada suami aku. Pantas saja kalian belum ada yang menikah. Dan kamu Marva sialan, berani-beraninya kamu menggoda suami aku di saat kamu sudah punya anak dan istri!"
Glek
"Freya ...."
"Bukan begitu!"
"Aku normal!"
__ADS_1
"Aku juga normal."
"Aku akan mengadukan ini pada orang tua kalian. Berani sekali kalian menyentuh tubuh suami aku."
"Mommy, suruh saja eyang Frans mengirim mereka ke hutan Amazone."
"Jangan!"
Frans yang sangat menyayangi Freya dan sikapnya juga sangat keras dan disiplin, tentu saja akan memberikan apa yang Freya mau.
Arby langsung melepaskan dirinya, dia dan Freya saling lirik. Arby juga ketar-ketir, takut Freya marah dengan candaan dia dan sepupu-sepupunya itu.
Freya mulai terisak.
"Bagaimana kalau berita ini sampai tersebar?" katanya merana.
"Enggak, Freya."
"Freya, kami akan melakukan apa saja yang kamu mau. Tapi jangan menyebar gosip."
"Benar, kalian akan melakukan apa saja yang aku mau?"
"Iya, janji."
"Yes!" ucap Freya girang. Dia dan Chiro langsung melakukan tos, dan kini mereka sadar sudah terjebak dengan akal bulus istrinya Arby itu.
"Ingat, janji adalah janji. Jadi kalian harus menepatinya." Freya berkata dengan senyum mengembang, sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.
Chiro hanya tertawa.
"Mommy keren!" ucap anak itu, dan memeletkan lidahnya ke pada para uncle nya yang dkam merana.
__ADS_1