Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
238 Belum Siap, Sayang


__ADS_3

Rumah ramai sekali. Sachi dan kembar berlari sana sini, sambil berteriak-teriak dan mengatakan pada orang-orang kalau mereka punya adik. Padahal tanpa diberi tahu pun, mereka semua sudah tahu.


Aileen benar-benar menjadi primadona. Dia terus saja berpindah tangan, dari gendongan yang satu ke gendongan yang lainnya.


Arby tersenyum bahagia. Anak perempuannya mirip sama Freya, menurutnya.


"Aileen cantik sekali," ucap Raine.


"Iya, imut banget," sahut Radhi.


Suara anak-anak yang bermain semakin menambah ramai suasana. Kamar untuk Aileen juga sudah disiapkan, dengan tema princess.


"Aileen nanti kalau sudah besar, pasti jadi rebutan, nih."


Wajah Arby langsung berubah saat mendengar kalimat itu. Dia harus ekstra menjaga anaknya, jangan sampai didekat oleh pria yang tidak baik.


Tiba-tiba saja mata Arby berkaca-kaca.


"Kenapa kamu sedih? Kamu juga menangis?" tanya Freya.


"Aku belum siap."


"Siap apa?"


"Belum siap menikahkan Aileen dengan seorang pria, Sayang."

__ADS_1


"Astaga Arbyyyy, kamu pikir apaan, sih? Aileen masih bayi, belum juga satu bulan."


"Aku merasa merambah tua."


"Memang kamu sidah tua."


"Perasaan baru kemarin aku gendong kamu di punggung aku. Kenapa sekarang malah gadis kecil lain yang aku gendong? Apa kamu cemburu? Tenang saja Sayang, hatiku hanya untukmu."


Entah Freya harus tertawa atau kesal.


Chiro yang mendengar percakapan absurd kedua orang tuanya itu, lantas memandang Aileen. Dia ikut-ikutan cemberut, tidak mau adiknya direbut oleh orang lain.


Aku harus menjaga Aileen dengan baik.


Aku juga harus mengajarkan Sachi, Ichi dan Ishi untuk menjaga Aileen.


"Biar Chiro yang menggantikan popok Aileen. Mommy duduk saja."


"Sachi ambilkan popok," ucap Sachi.


Sedangkan si kembar menyiapkan botol susu, karena mereka pikir Aileen minum susu dengan botol.


💕💕💕


Malam harinya, Arby dan Freya kembali direpotkan. Sachi dan si kembar ngotot minta tidur di dalam box bayi Aileen.

__ADS_1


"Gak muat. Lagipula, nanti adik kegencet dan ketendang-tendang sama kalian."


"Kalau begitu, pindahin saja adik ke tempat tidul."


"Nanti kalian tendang."


Membayangkannya saja sudah membuat Arby merinding. Si kembar kalau tidur tidak bisa anteng. Muter sana muter sini, tendang sana tendang sini.


Bisa-bisa nanti Aileen penyet.


"Harus dengar apa kata mommy dan daddy, Sachi, Ichi, Ishi."


Akhirnya ketiga anak laki-laki itu menurut. Mereka semua tidur satu kamar dengan wajah menghadap ke arah Aileen semua.


💕💕💕


Arby pulang siang hari. Dia membawa banyak boneka dan baju-baju anak perempuan. Bahkan pria itu juga membelikan banyak aksesoris untuk bayi perempuan.


"Kenapa Daddy tidak mengajak kami belanja."


Arby menghela nafas. Ketiga anaknya bisa ngambek lagi kalau seperti ini.


"Hari Minggu kita belanja sama-sama, ya. Ini untuk kalian."


Tentu saja odia itu tidak lupa membelikan Chiro, Sachi, Ichi dan Ishi makanan dan mainan. Arby membelikan banyak buku untuk Chiro, karena anak itu sama persis seperti Freya yang suka membaca. Entah anaknya mau jadi apa, Arby tidak akan melarang, yang penting hal yang positif.

__ADS_1


Chiro yang dulu pernah ingin menjadi pilot, karena ingin membawa Freya pulang. Entah keinginan anak-anak itu masih ada atau tidak. Mungkin saja Chiro akan menjadi dokter atau pengusaha. Atau mungkin juga seorang publik figur, seperti aunty-autynya dan pihak keluarga ibunya Freya.


__ADS_2