Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
98 Istri Tua


__ADS_3

Freya menyiapkan bekal makan siang untuk dia, Chiro dan Arby. Hari ini pekerjaannya tidak banyak, jadi dia bisa segera pulang untuk memasak.


Dia akan menjemput Chiro lebih dulu, lalu pergi ke kantor Arby.


Ibu dan anak itu akhirnya tiba di perusahaan. Kehadiran keduanya tentu saja menarik perhatian para karyawan yang ada di sana.


"Pantas saja tuan Erlangga gagal move on, pesonanya benar-benar luar biasa."


"Iya. Cantik, kaya, pintar, pengusaha dan dokter pula."


"Enggak punya kekurangan itu, mah."


Mereka salah!


Tentu saja setiap orang punya kekurangan, termasuk Freya. Andai saja mereka tahu masa lalu perempuan itu, mungkin mereka akan mencibirnya.


Saat Freya dan Chiro masih di loby, Arby datang bersama Evan.


"Kalian datang? Kenapa enggak bilang-bilang?"


"Kami sengaja datang diam-diam. Siapa tahu saja daddy menyembunyikan perempuan lain di kolong meja!" ucap Chiro.


Kecuali Arby, yang lain menahan tawa.

__ADS_1


"Kebanyakan nonton sinetron dan baca novel kamu, Chiro!" ucap Arby dengan manyun.


Kadang Arby berpikir, kenapa Chiro seperti musuh dalam selimut?


Kalau saja bukan anak, pasti Chiro sudah dipacking sama Arby dan dikirim ke Antartika. Tapi akhirnya Arby memeluk Chiro dan mengecupi seluruh wajahnya, membuat para karyawan iri dengan kebahagiaan keluarga kecil ini.


"Kalian mau makan siang?" tanya Freya.


Arby melihat Freya yang membawa bekal makan siang dengan box berwarna biru dengan gambar pesawat.


"Iya, sekalian mau meeting dengan clien. Ayo, kalian juga ikut."


"Tapi ...."


Evan menahan tawa, karena yang Arby bilang sudah tua itu, umurnya paling hanya beda dua tiga tahun saja dari Freya.


Mereka tiba di restoran.


"Aku dan Chiro menunggu di kursi yang lain saja."


"Jangan. Sudah, kamu sama Chiro ikut aku."


Mereka menuju bagian yang sudah diisi beberapa orang. Bukan ruangan VIP, tapi sangat nyaman.

__ADS_1


"Ayo Sayang, duduk."


Chiro duduk di antara Freya dan Arby.


"Mereka teman-teman aku saat di Jepang, Yang."


Freya mengangguk dan tersenyum. Ada yang melihat Freya dengan tatapan iri (biasalah, sudah pasti itu perempuan), ada juga yang terpesona, mau juga yang yang seperti Freya (dan sudah pasti ini laki-laki).


Meeting dimulai. Sesekali Arby akan meminta pendapat Freya, dan itu menarik perhatian mereka yang ada di sana. Saran yang diberikan Freya memang sangat bagus, dan tentu saja akan menguntungkan kerja sama itu.


Arby juga tidak merasa canggung meminta saran Freya.


"Saran dan doa istri itu penting, agar pekerjaan berjalan dengan lancar."


mereka yang sudah menikah langsung diam. Selama ini mereka tidak pernah bertanya tentang pendapat istri.


Ada yang berpikir, istri enggak tahu apa-apa soal bisnis.


Ada juga yang berpikir, malulah, masa suami nanya pekerjaan ke istri, walau mungkin istrinya bisa memberikan saran yang bagus. Tapi ya gengsi, dong!


"Apalagi kalau sudah punya anak, doa anak juga penting," lanjutnya.


Freya tersenyum memandang Arby. Dia merasa dihargai. Bisa saja kan, Arby merasa tersaingi karena Freya mampu dalam banyak hal. Tapi pria yang menjadi suaminya ini, tidak merasa minder atau merasa saingan sedikit pun dengannya.

__ADS_1


__ADS_2