Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
104 Sebutir Pasir


__ADS_3

Hari ini Arby mengajak Freya shoping.


"Daddy, apa mommy juga punya baju bagus? Apa kalau musim dingin, mommy punya mantel yang tebal dan hangat? Apa baju mommy bolong-bolong?"


Kembali mengingat perkataan Chiro saat itu. Setiap kali apa yang Arby belikan atau lakukan untuk Chiro, maka anaknya itu langsung bertanya tentang hal yang sama akan mommynya.


Makanan


Pakaian


Tempat tinggal


"Apa mommy tinggal di tempat yang bagus? Atau di gubuk reot?"


"Mommy baik-baik sja, Chiro."


"Darimana Daddy tahu, Daddy kan bekum pernah bertemu mommy lagi."


"Mommy kamu itu perempuan yang hebat, pasti akan baik-baik saja."


Ya, Arby sangat tahu bagaimana Freya. Dulu saja, saat masih tinggal bersama kedua orang tuanya, Freya berjualan kue untuk menambah uang jajannya. Mungkin lebih tepatnya bukan uang jajan, tapi memperbanyak uang tabungannya.

__ADS_1


Apa uang itu sekarang kamu gunakan, Freya? Apa memang kamu sudah merencanakannya sejak awal, untuk pergi jauh, bahkan sebelum kita menikah?


Tepukan di punggung Arby menyadarkannya dari lamunan masa lalu.


"Daddy, jangan membelikan mommy baju yang tipis-tipis dan bolong-bolong lagi. Masa jauh-jauh ke sini, itu lagi, itu lagi yang Daddy belikan."


Arby mendengkus mendengar perkataan Chiro. Dia kan memang ingin membelikan banyak lingerie untuk bebebnya, tapi sudah diskak duluan oleh anaknya itu.


Kalau Chiro itu bukan anaknya, ingin sekali dia mem-packing Chiro, lalu memaketkannya dengan layanan yang biasa biar nyampe ke Jakartanya lama.


Freya selalu merasa terhibur dengan dua pria kesayangannya itu. Pengen dia masukin ke kantong, dan bisa dibawa ke mana saja. Jadi, saat ada pasien menyebalkan yang cerewetnya minta ampun, dia tinggal mengeluarkan Arby dan Chiro untuk menghiburnya. Freya jadi terkikik sendiri dengan bayangannya itu.


"Erlangga, kan?"


"Kamu apa kabar?" Perempuan itu menyerobot, menyenggol Freya dan ingin memeluk Arby. Tapi Freya dan Chiro tentu tidak akan membiarkannya. Freya langsung menarik Arby, dan perempuan itu langsung memeluk udara kosong.


"Kamu siapa?" tanya perempuan itu pada Freya.


"Kamu yang siapa, seenaknya saja mau memeluk Arby!"


"Arby? Kamu memanggil dia Arby? Beraninya kamu!"

__ADS_1


"Memang namanya Arby, ya aku panggil Arby. Eh salah, seharusnya aku panggil Sayangku, ya? Atau Honey? Darling? Sweet Heart?"


Hidung Arby tentu saja langsung kembang kempis, dengan senyum lebar dan mata berbinar.


"Apa yang kamu dan anak kecil ini lakukan?"


"Aku dan mommy sedang menjaga daddy, agar tidak kemasukan roh halus. Misalnya saja kuntilanak!"


Perempuan itu melotot, dia tahu Kuntilanak itu apa, tapi apa maksud anak ini mengatakan dia Kuntilanak?


"Memangnya kalian siapa?" tanya dia lagi.


"Kan sudah Chiro bilang, ini daddy Chiro. Dan ini mommy Chiro yang paling cantik sedunia. Apakah artinya tante yang bagaikan sebutir pasir yang masuk ke mata, bikin sakit mata saja!"


Ya ampun, anakku ketus sekali, seperti mommynya.


Ya ampun, anakku galak banget, seperti daddynya.


Dalam hati, mereka saling mengatai, tidak sadar dengan diri masing-masing.


Perempuan itu, merasa terhina. Dia yang cantik dan seksi ini disamakan dengan sebutir pasir yang masuk ke dalam mata, dan bikin perih mata?

__ADS_1


Tapi kalau dipikir-pikir, wajah anak ini memang mirip dengan Arby. Sifatnya juga seperti Arby, yang kalau bicara suka bikin orang sakit hati.


__ADS_2