
Freya (Freya dewasa) seolah sedang menonton film atau sedang bermimpi. Dia melihat dua anak kecil, yang wajahnya familiar menurutnya. Melihat mereka saling mengungkap janji, yang terdengar lucu diucapkan untuk anak seumuran mereka, meski yang laki-laki usianya memang lebih tua. Namun ada yang aneh, dia bukan anak kecil itu, tapi mengapa jiwa mereka seolah terikat. Dia bukan pemeran anak kecil itu, tapi mengapa sepertinya dia yang sedang berbicara dengan anak laki-laki kecil itu.
Freya merasa ingin tertawa, sedih, lucu, gemes dan ... entahlah. Dia ingin mencubit gemas pipi chuby anak perempuan itu. Bisa dilihat dengan jelas, bahwa anak laki-laki itu terlalu menanggapi pembicaraan si anak perempuan.
Tiba-tiba jantung Freya berdetak kencang, dia seperti merindukan sesuatu.
"Freya?"
"Freya?"
"Ya?"
"Ya?"
Aku adalah kompasmu, aku adalah petamu, aku adalah kakimu, dan aku tempatmu pulang."
"Arby?"
"Arby?"
"Ayo pulang!"
"Ayo pulang!"
"Ya."
"Ya."
Perkataan Arby kecil itu, sama persis dengan suara seorang pria dewasa. Begitu juga dengan perkataan Freya kecil, sama dengan suaranya.
.
.
.
Arby bermimpi, lebih tepatnya ingatan masa kecil yang kembali hadir dalam wujud mimpi. Dia seperti melihat sebuah video yang menunjukkan seoasang anak kecil yang mengucap janji.
Arby tertawa pelan, mengingat betapa lucunya mereka saat masih kecil dulu, membicarakan tentang perjodohan dan rencana menikah saat dewasa nanti. Pembicaraan Freya yang masih anak-anak itu, entah kenapa sangat dianggap serius olehnya. Padahal, mungkin Freya sendiri tak serius saat membicarakan hal itu.
"Bisa saja dengan Ikmal, keluarga kami kan juga akrab."
Ada perasaan tak rela saat Freya menyebut nama Ikmal.
Sewajarnya anak-anak, ada kalanya mereka merasa lebih berhak dengan sesuatu yang menurutnya, dia lah yang lebih dulu kenal dengan Freya, jadi dia yang lebih berhak bersama Freya, bukan Ikmal apalagi orang lain.
"Jangan-jangan, nanti kamu yang malah melupakan janji kita."
Benar, kamu melupakan janji bocah ingusan kita, Freya. Hanya aku yang ingat akan rahasia masa kecil kita, omongan anak-anak yang terdengar memalukan, membicarakan soal perjodohan dan pernikahan di usia yang masih sangat kecil dengan pemikiran yang labil. Tapi entah mengapa, meski pun tak pernah ada pembicaraan itu, aku tetap ingin menikahimu saat usia kita telah cukup dewasa.
Apa kamu tahu? Aku meminta daddy menikahkanku denganmu di usia muda, karena kamu tak pernah sekali pun mengingatku. Aku takut seiring berjalannya waktu, kamu akan semakin jauh dari gengamanku. Bagaimana nanti jika kamu bertemu dengan pria lain yang kamu sukai saat kamu telah kuliah atau bekerja?
__ADS_1
Aku hanya mempercepat untuk memenuhi janjiku, karena aku lah yang tak pernah melupakan dirimu.
Jarak yang memisahkan kita bukan karena tempat yang berbeda, bukan juga karena waktu yang tak sama, tapi hati yang terbelenggu, yang hingga saat ini belum benar-benar menyatu, juga ingatan yang terlupakan.
Aku ingin mengikis jarak itu, menyatukan hati yang seharusnya terpaut sejak lama. Mengembalikan ingatan kepada tempat yang seharusnya.
"Baik, aku tidak akan melupakannya. Akan aku tepati meski rintangannya begitu berat."
Tahu kah kamu, Freya, sudah berapa banyak rintangan yang harus aku lalui hingga saat ini?
Lima belas tahun berlalu sejak kita membicarakan rahasia masa kecil kita itu.
Lima belas tahun aku selalu berdoa, agar tiba waktunya kamu mengingatku sebagai Aby yang suka mencubit pipi chubymu.
"Ya. Aku yang akan melengkapi hidupmu. Aku yang akan menjadi buku harianmu. Jadi, jika tiba waktunya kamu bertanya tentang masa lalu, aku yang akan memberikan jawabannya. Jika kamu kehilangan arah, aku yang akan menjadi kompasmu. Jika kamu tersesat, aku yang akan menjadi petamu. Jika kamu takut melangkah, aku yang akan menjadi kakimu. Aku tempatmu pulang."
Aku buku harianmu, tidak kah kamu penasaran bagaimana caraku menulis kisah tentang kita?
Aku kompasmu, aku petamu, dan aku kakimu.
Aku memintamu untuk kembali!
"Freya?"
"Freya?"
"Ya?"
"Ya?"
"Aku adalah kompasmu, aku adalah petamu, aku adalah kakimu, dan aku tempatmu pulang."
"Arby?"
"Arby?"
"Ayo pulang!"
"Ayo pulang!"
"Ya."
"Ya."
.
.
.
Chiro melihat daddynya yang ketiduran di samping brankar mommynya. Tangan kedua orang tuanya terpaut.
__ADS_1
"I love you, Mommy, and i miss you so much. Kapan Mommy bangun?"
Chiro ikut menggengam tangan mommy dan daddynya yang terpaut itu.
"Mommy, apa Mommy tidak ingin bangun dan bermain bersama Ecan lagi? Ecan janji akan menuruti semua perkataan Mommy. Ayo kita pulang ke rumah, Mommy. Apa Mommy tidak merasakan tangan daddy dan Chiro yang menggengam tangan Mommy?"
Chiro menangis, bahkan air matanya jatuh ke tangan mommy dan daddynya.
"Mommy, jika Mommy bisa mendengar kata-kata Ecan, Mommy harus bangun. Hanya Mommy dan daddy yang Ecan butuhkan.
Di dalam hatinya, Chiro membacakan doa untuk orang tua. Doa agar mommynya segera sadar dan sehat kembali.
"Mommy, katanya kasih ibu itu bagai sang surya yang menyinari dunia. Jika Mommy terus tidur, bagaimana dunia Ecan akan terang? Bagaimana Ecan bisa berdiri dan melangkah dengan benar? Mommy, bangunlah! Teruslah menyinari dunia Ecan."
Chiro mencium telapak tangan Naya, juga kening dan kedua pipinya. Lalu dia memeluk kedua kaki Naya yang masih diperban setelah operasi.
Chiro membuka sedikit selimut yang membungkus kaki itu, mengusap pelan kaki Naya, lalu menciumnya.
Mommy adalah mommy terbaik di dunia ini. Pasti kaki mommy sakit setelah dioperasi, biar Ecan pijitin.
Chiro terus mengusap kaki Naya, dan sesekali menciumnya dengan lembut.
Erlang terbangun dari tidurnya, dilihatnya Chiro yang mencium kedua telapak kaki Naya dengan air mata yang menetes.
Sungguh pemandangan yang menggetarkan hati bagi siapa saja yang melihatnya.
"Chiro."
"Daddy."
"Ayo kita ke luar. Maaf ya, tadi daddy ketiduran di sini."
Chiro mengangguk, meskipun enggan untuk meninggalkan Naya.
Sast akan melangkah, Erlang merasa ada sesuatu yang menahannya. Dia lau sedikit menunduk, dan melihat tangannya dan tangan Naya masih terpaut dengan erat.
Dia ingin melepaskan genggaman tangan itu, namun genggaman itu seperti tertahan. Matanya kini beralih menatap Naya.
Bola mata yang terlihat redup bertatapan dengan bola mata penuh kerinduan.
Air mata sama-sama terjatuh, tanpa sepatah kata pun.
Rasa haru dan bahagia membuncah di dalam dada.
"Mommy?"
Chiro langsung memeluk tubuh Naya, diikuti oleh Erlang. Bahkan kedua pria berbeda generasi itu saling berebut untuk.mencium seluruh area wajah Naya.
Erlang langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
Terima kasih sudah kembali mommy/Freya, batin Chiro dan Erlang bersamaan.
__ADS_1