Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
220 Banyak Anak


__ADS_3

Hari-hari berjalan kembali seperti biasa. Chiro, Sachi, Ichi dan Ishi sekolah di lingkungan yang sama. Sachi, Ichi dan Ishi masuk ke play group agar bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebaya mereka dan tidak jenuh kalau terus berada di rumah atau ikut Arby kerja.


Freya dan Arby memang meminta ketiganya ditempatkan bersama, mengingat usia ketiganya hanya selisih satu tahunan saja, dan agar Sachi juga bisa belajar menjaga adik-adiknya.


Yang menjadi guru dari ketiga bocah itu yang sekarang pusing.


"Sachi, Ichi, Ishi, ayo duduk dulu. Kita menggambar, ya."


Ketiganya langsung duduk di bangku kecil di depan bu guru Yessi.


"Sachi mau gambar apa?"


"Helikopter."


"Ichi?"


"Pecawat."


"Ishi?"


"Buyung."


Bu Yessi, bu Laila, dan bu Ana lalu memberikan alat gambar.


"Bu, baling-baling gimana buatnya?"


"Kaya begini ...." Bu Yessi lalu memberikan contoh menggambar baling-baling di buku gambar Sachi.


"Bu, cayap pecawat gimana?"


Bu Laila lalu menggambarkan sayap pesawat di buku gambar Ichi.


"Bu, kalo cayap buyung gimana?"


Kini giliran Bu Ana yang menggambar di buku Ishi.


"Bu, ini gimana?"


"Bu, ini dong ...."


"Bu, itu dong ...."

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian


"Udah selesai, Bu."


Bu Yessi, bu Laila dan bu Ana saling pandang, kenapa malah mereka yang gambarin, sedangkan anak-anak itu hanya melihat saja?


Ketiganya malah sibuk makan bekal dari Freya, padahal belum waktunya makan.


Selesai makan, mata ketiganya merem melek, merem melek. Teman-teman merasa yang lain masih sibuk menggambar, atau lebih tepatnya mencoret-coret buku gambar.


"Sachi, Ichi, Ishi, ayo duduk yang benar."


Sachi lalu duduk di atas karpet matras dan mulai membaringkan tubuhnya, diikuti dengan Ichi dan Ishi. Tidak sampai satu menit kemudian, ketiganya sudah tidur.


Arby tertawa melihat CCTV. Maklum saja, sekolahan ini adalah miliknya.


Dia dari tadi sibuk melihat CCTV. Tidak bersama anak-anaknya membuat dia kangen, giliran dekat malah pusing.


"Kamu lihat apa sih, senyum-senyum begitu? Lihat film 21+, ya?" tanya Freya.


Arby langsung menoleh saat melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba.


Freya mendengus, siang-siang panas begini, malah ngomongin ronde.


Padahal masih jam sembilan, belum siang juga.


"Minum cendol, yuk"


"Oke, ratuku." Arby langsung menggandeng tangan Freya.


Steven dan Didi melihat bos mereka yang keluar dari ruangan kerjanya.


"Anda akan keluar, Tuan?"


"Iya, mau pacaran, dong. Masa laporan mulu yang dipandang. Istri dong, yang dipandang."


Diamkan saja, biar bos mereka senang.


"Ayo, Yang. Kita tinggalkan para pria merana ini."


Begitu Arby dan Freya memasuki lift, keduanya mengelus dada.

__ADS_1


Begitu keluar lagi dari loby, mereka kembali menjadi pusat perhatian. Arby yang wajahnya semakin hari semakin ganteng, dan Freya yang semakin menawan dengan kehamilannya, membuat para karyawan Arby jadi iri.


"Aku punya anak dia saja, mukaku sudah kucel. Kok ini malah makin ganteng dan cantik, sih?"


"Uang bos lebih banyak daripada uangmu!" jawab temannya.


"Kalau aku, baru ibunya anak satu, badan sudah melar ke mana-mana."


"Itu karena uang bos lebih banyak daripada uangmu!"


Mereka lalu sama-sama menghela nafas.


"Tapi bagus deh, kalau anak-anak bis semakin banyak."


"Kenapa?"


"Setiap kali anak bos habis lahiran, kita akan mendapatkan bonus. Belum lagi acara syukuran, akikahan, ulang tahun, sunatan, dan acara lainnya."


"Iya, ya."


"Semoga bos anaknya sepuluh."


"Setiap tahun brojol."


"Aamiin," ucap semuanya.


Awas didengar Freya, sebelum kecebongnya Arby berkembang biak menjadi sepuluh, bisa-bisa mereka sudah di-PHK lebih dulu.


.


.


.


Aku mau infoin cerita terbaruku, ya. Baca dong, baca.



Jangan lupa baca cerita terbaruku, ya🤗


Yang masih punya vote, tolong kasih vote ke sana. Ke sini juga boleh. Aku tunggu kedatangan kalian🤩

__ADS_1


__ADS_2