
"Sayang, ayo makan apel ini."
Freya membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Bukan, bukan dari Arby, tapi dari Mico.
Arby melengos, bisa-bisanya Mico memanfaatkan keadaan dan mendekati Freya seperti itu.
Ibu-ibu yang ada di sana hanya cengo. Sementara Freya mendapat suapan dari Mico, tapi kepala perempuan itu bersandar di pundak Arby.
Pakai pelet apa, dia?
"Sayang, kamu cape?" tanya Arby, berusaha menarik perhatian Freya, dengan mwngusap tangan dan perut Freya.
"Enggak. Aku tidak akan lelah, selama ada kamu tempatku bersandar."
Wajah Arby langsung merah, dengan senyum sempurna.
Kini giliran Mico dan yang lain yang melengos. Hanya Freya saja yang bisa merayu Arby dengan rayuan abal-abal seperti itu.
"Kamu tahun engga, Sayang? Aku tuh beruntung banget punya suami tampan seperti kamu."
Jantung Arby sudah berdetak sangat kencang, dia ingin jingkrak-jingkrak, tapi harus tetap cool.
"Apalagi kamu perhatian banget sama aku. Lihat deh, kamu sampai menyuruh mereka selalu menjaga aku. Perempuan mana lagi, yang punya bodyguard seorang dokter dan CEO. Ganteng, kaya, baik, perhatian. Sering kasih aku hadiah. Ikmal saja baru kasih aku jet pribadi."
Bohong, sudah jelas itu kebohongan Freya.
__ADS_1
Ikmal tidak membelikan Freya jet pribadi.
TAPI
Tapi itu adalah sebuah kode, kalau setelah ini pria itu harus menguras uangnya untuk membelikan istri tercinta sepupunya itu jet pribadi.
Apes banget aku. Aku aja belum pernah membelikan istriku jet pribadi, malah ngasih istri orang jet pribadi.
Tentu saja Ikmal belum pernah membelikan istrinya jet pribadi, dia kan belum menikah.
"Sudah gitu, Vian juga baru mau membelikan aku kapal pesiar. Nanti kita bulan madu di kapal pesiar yuk, Yang. Kaya Lexa."
Arby tersenyum bahagia, dan melirik Vian, memastikan pria itu akan membelikan kapal pesiar untuk dia dan Freya bulan madu.
Mereka yang mau bukan madu, kok orang lain yang rugi.
Dasar istri matre. Suaminya siapa, yang diporotin siapa.
Ibu-ibu itu menelan saliva mereka. Mansion mana yang mau dijadikan gudang mainan anaknya?
"Coco juga katanya mau menghadiahkan sesuatu padaku, tapi tunggu bayi kita nanti lahir."
"Apa pun untuk kamu, Sayang," jawab Mico santuy. Hanya dia saja yang menjawab dengan riang dan mesra, karena membuat Arby kesal adalah hobinya yang tidak bisa hilang.
"Marva dan Agam juga, hmmm ... oya, mereka mau kasih aku pulau pribadi dan saham perusahaan."
__ADS_1
Mulut Freya itu begitu enteng, ya. Dasar tukang halu.
"Wah, bisa-bisa aku jadi wanita terkaya."
Pasti habis ini mereka pulang dengan merengek, minta dibelikan juga sama suami mereka, atau gencar mencari selingkuhan yang kaya. Tapi bodoh juga mereka, kalau langsung percaya begitu saja.
Freya, dilawan!
"Iya Sayang, iya. Nanti mereka akan memberikan kamu semua itu. Tenang saja ya. Itu namanya rejeki anak. Makanya kita harus punya banyak anak. Banyak anak banyak ...."
"Rejeki ...." Free menyambung ucapan Arby.
Dasar suami istri kurang ajar!
"Berarti setelah yang ini lahir, kita harus ...."
"Bikin lagi ...."
"Berapa banyak?"
"Ratusan ...."
"Uluh uluh uluh, co cweetnya istriku. Ayang Ayang Ayang."
Anjir, pengen aku keplak nih mereka berdua.
__ADS_1
Agam menunduk menaha tawa. Tadi dia diseret dari rumah sakit hanya untuk melihat dan mendengar ini?