Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
52 Ulang Tahun Freya


__ADS_3

Mereka duduk di lantai sambil mengusap air matanya. Para dokter dan perawat, tua dan muda, senior dan junior, berpelukan, menangis terisak, memukul pelan dada mereka sebagai bentuk pelampiasan emosi.


Seumur hidup mereka, selama mereka menjadi dokter, sepanjang perjalanan mereka berada di ruang operasi, belum pernah mereka seemosional ini. Entah pasien itu akhirnya tetap hidup atau berpulang ke Sang Pencipta di saat operasi tengah berlangsung atau setelahnya, paling mereka hanya akan merasakan sedih sesaat, lalu akan kembali normal setelah beberapa waktu.


Tapi ini, diawal pisau bedah itu menyentuh tangan mereka, tangan bekerja, otak berpikir, dan hati selalu merasa cemas, doa terus dirapalkan.


Kumohon selamatkan dia.


Kembalikan dia pada keluarganya.


Mengoperasi orang yang dikenal itu memang terasa berbeda, ada beban tersendiri. Takut akan gagal, juga takut tak dapat mengontrol emosi.


Pukul 13 lebih sedikit, pintu terbuka, setelah sejak jam lima subuh tadi tertutup rapat.


Mereka melihat seorang dokter dengan wajah sembab keluar.


"Dok?"


Sebelum menjawab, dokter menetralkan suaranya.


"Kita hampir kehilangannya, kita hampir kehilangannya!"


Hanya kalimat itu yang ke luar dari mulut dokter.


"Maksudnya?"


"Detak jantungnya sempat berhenti, tapi sekarang sudah kembali normal. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU."


Mereka menghela nafas lega, bukankah itu berarti Naya selamat?


.


.


.


Naya sudah dipindahkan ke ruang ICU. Hanya boleh dua orang saja yang melihat, itu pun tak bisa lama.


"Daddy, kapan mommy bangun?"


"Nanti."

__ADS_1


Nanti, nanti itu kapan? Jawaban yang Erlang sendiri tidak tahu.


.


.


.


Dua hari, dua hari sudah Naya masih memejamkan matanya.


"Kenapa belum bangun juga?"


Tak ada yang salah, meskipun Erlang marah dan mengatakan mereka telah melakukan malpraktik. Jika kondisi pasien tidak sesuai seperti yang diharapkan, bukan berarti kesalahan ada dalam proses pengobatan, juga bukan kesalahan dokter.


Hari ini ulang tahun Freya Canaya Zanuar


Mico berdeham pelan, merasakan hawa panas, bukan di dalam ruangan ber-AC ini, melainkan di hatinya, di nafasnya, di pelupuk matanya.


"Aku ... aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua. Ini ... ini tentang surat wasiat Freya ...."


Bugh


Bugh


Bugh


"Maksudnya apa ngomongin wasiat Freya? Dia cuma lagi tidur. Lo kira dia enhgak bakalan selamat? Bang*e ya, lo!"


Bugh


Bugh


Bugh


Mico diam saja saat oukulan bertubi-tubi itu menyerangnya.


"Aku juga tidak mau menyampaikan ini. Kalian pikir aku senang? Kalian kira aku suka, menjadi orang yang langsung mendengar permintaannya? Saat dia memohon untuk menyampaikan semua ini di saat ulang tahunnya, jika dia belum sadar atau tak akan lernah kembali? Aku juga tidak mau! Aku pun menolak. Tapi dia tetap ingin mengatakan ini pada kalian, dan akulah yang ditugaskan olehnya."


Mico lalu membuka laptopnya, dan memutar sebuah video.


Wajah Freya dengan senyuman namun mata sembab, memenuhi monitor laptop itu.

__ADS_1


"Hai, kalian yang di sana. Jika kalian melihat video ini, berati aku belum bangun, atau tak pernah kembali. Ehm, langsung saja ya, karena aku bukan orang yang bisa berbasa-basi, hehehe. Saat ulang tahunku ini, aku ingin membagikan semua asetku untuk kalian. Pertama, untuk My Chiro ... mommy memberikan Chiro semua aset mommy yang berada di London, berupa dua unit mobil, tiga apartemen, empat cafe, tabungan di tiga bank. Untuk kakakku Anya, aku memberikan sahamku di Diamond Style, aku punya saham 20 persen di sana dan semua perhiasanku. Ehm, aku membelinya bukan untukku, tapi memang untukmu karena akan sangat cantik jika kamu yang memakainya. Jadilah model internasional yang membanggakan. Untuk adikku Vanya, aku memberikan sahamku sebanyak dua puluh persen di label musik di London.


Untuk Nuna, Nania, Aruna dan Kirei, aku memberikan cafe-cafeku yang ada di Jakarta dan satu cafe lagi untuk Vian.


Untuk Ikmal, sekitar tiga tahun yang lalu aku membeli saham perusahaan papamu sebanyak lima belas persen. Saat itu aku tidak sengaja mendengar ada yang ingin menghancurkan keluarga kalian. Mm, mereka juga menyebut-nyebut nama Will Will apa gitu, dan beberapa orang lain yang ingin mereka hancurkan. Jadi aku hadiahkan saham ini untukmu, orang yang paling berhak menerimanya.


Untuk Marcell, aku berikan sahamku di klinik.


Untuk Mico, my special friend, aku membeli tempat persembunyian kita saat bolos sekolah dulu. Aku juga memberikan cafeku di dekat klinik.


Tolong di terima, dan jangan berikan lagi pada Chiro, karena Chiro udah ada jatahnya sendiri. Semua itu aku hadiahkan sebagai kado pernikahan kalian yang entah dengan siapa dan kapan. Untuk apartemenku yang di Jakarta, ada dua, aku berikan untuk Arby dan Chiro. Mobil dan satu rumah kecil tolong jadikan rumah singgah dan mobilnya untuk keperluan di rumah yatim piatu milik kita. Tabunganku yang ada di bank di Indonesia, tolong sumbangkan ke yang membutuhkan, sahamku di SnS sebanyak sepuluh persen, hasil tiap bulannya bisa disumbangkan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan klinik dan yayasan sosial milik kita.


Untuk Arby, aku berikan hartaku yang paling berharga, yaitu My Chiro. *Jangan lupa pesanku, jika suatu saat nanti kamu menikah lagi, carilah perempuan yang dengan tulus menyayangi Chiro, bukan hanya baik padanya jika di hadapanmu dan orang-orang saja. Hm, apa mungkin kamu akan menikah dengan sekretarismu itu?


Untuk papa mama, opa oma, kakek nenek, maafkan Freya yang tak memberikan appapun untuk kalian, tapi doa Freya selalu bersama kalian. Maafkan Freya yang belum sempat berbakti dan membanggakan kalian*.


Untuk Kirei, aku membeli rumahmu yang pernah kamu tinggali dulu di Jakarta. Aku tahu rumah itu sangat berarti untukmu. Aku tahu kasih sayangmu sangat tulus untuk mereka. Jadi percayalah, mereka akan kembali ke tempat yang seharusnya.


Terima kasih, sudah menemani dan mewarnai hari-hariku.


Oya, jangan salahkan Mico yang memutar video ini, karena aku yang memaksanya. Aku memberikan kuasa sepenuhnya kepada sahabat sekaligus pengacaraku, Mico, untuk mengurus semua pengalihan aset-asetku. Pernyataan ini aku buat dengan keadaan sadar dan tanpa tekanan dari pihak manapun.


Jika aku belum bangun, mungkin aku masih nyaman bermimpi indah, namun jika ternyata aku tak kembali, tolong maafkan segala kesalahanku, agar jalanku dilapangkan.


Salam sayang, Freya Canaya Zanuar."


Video berhenti, yang terdengar kini hanya isak tangis.


Tega banget kamu, Frey! Bisa-bisanya kamu membagikan wasiat di saat kamu sendiri masih hidup. Apa kamu menyerah akan hidupmu sendiri, di saat kami semua merasakan pilu seolah nyawa kamilah yang berada di antara hidup dan mati. Apakah Chiro masih belum cukup untuk menuntunmu pulang?


Apa kamu memang berniat menjadikanku duda seumur hidupku? Membiarkan Chiro tak lagi merasakan kasih sayang seorang ibu?


Aku menuntut janjimu Freya!


Jika memang ketidak ikhlasan dan tak memaafkan akan mempersulit kepergianmu, maka aku tak akan ikhlas, aku tak akan memaafkanmu yang membuat Chiro kita menangis.


Biarlah aku menjadi jahat, menjadi egois lagi dan lagi. Berdoa agar Tuhan mau memaafkanku namun lagi-lagi mementingkan diri sendiri.


Tidak aku ikhlaskan kepergianmu, Freya Canaya Zanuar. Jadi pulanglah, dan penuhi janji masa kecil kita.


Aku menagih janjimu!

__ADS_1


__ADS_2