Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
199 Klinik


__ADS_3

"Ayo ikut kami!" ucap salah satu polisi.


"Kembar!" teriak Freya. Di belakangnya ada yang lain, termasuk Chiro dan Sachi.


"Mommy ... Mommy."


"Sayang, kenapa kamu ke sini?"


"Kamu kenapa enggak ajak-ajak aku kalau ke sini?"


Freya lalu memeluk Ichi dan Ishi.


"Apa kalian baik-baik saja? Kalian sudah makan?" tanya Freya, juga memeriksa seluruh tubuh si kembar. Apa ada bekas penyiksaan atau tidak.


Ternyata aman, tidak ada bekas cubitan, pukulan atau apa pun.


"Udah mamam, Mom. Enak, tu macih ada."


Freya lalu melihat meja kayu yang sedikit reyot. Di atasnya, ada banyak makanan yang masih banyak juga. Freya memperhatikan makanan itu, terlihat mewah.


Dia memeriksanya, lalu mencicipinya.


"Yang, jangan dimakan!"


Freya tidak peduli, dia tetap harus mencobanya.


Kok enak?


"Ini siapa yang masak?"


"Om Jan, Jon, Jun."


Freya lalu dengan cueknya makan makanan itu, entah karena lapar atau memang benar-benar enak. Si kembar juga ikutan makan lagi.


"Yang, jangan makan sembarangan. Kamu lagi hamil!"

__ADS_1


"Ini enak."


"Itu makanan hasil malak, nanti kamu buncit."


"Sembarangan, kamu ngatain aku buncit?"


"Enggak, kan emang kamu lagi hamil, makanya kelihatan sedikit endut." Arby langsung menepuk bibirnya, salah ngomong dia.


"Om-om ini baik, Mommy. Kacih kita makan enak."


"Enak tapi hasil malak!" sungut Arby.


"Ck, bayar saja ke penjualnya," ucap Freya.


"Kalian bertiga, ayo ikut kami."


"Bang Ti J, ibu kalian kondisinya tambah parah," teriak salah seorang.


"Pak, tolong biarkan kami ke klinik dulu."


Naluri dokter seorang Freya langsung keluar.


Yang kaya begini, dibilang klinik?


Freya sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat kondisi pasien yang ada di sana.


Nuna, Nania, Aruna, Rei, Marcell dan Agam ikut memeriksa pasien, karena hanya ada satu dokter saja di sana.


"Kenapa bisa ada klinik seperti ini?" tanya Freya.


"Bu, ibu yang sehat ya. Kami pasti akan dapat uang buat biaya pengobatan ibu."


"Boro-boro dapat uang yang banyak, Jon. Yang ada kita bakalan dipenjara," bisik Jan.


Tentu saja Freya mendengarnya. Dia jadi kerasa kasihan.

__ADS_1


"Panggil ambulans, kita bawa saja ke rumah sakit Jakarta."


"Jangan, kami enggak punya uang," ucap Jan.


"Kalian selama ini kerja apa?" tanya Freya.


"Malak dan nyopet."


"Kadang serabutan juga."


"Baru mau nyoba terobosan baru, jadi penculik biar kerenan dikit."


"Tapi gagal, yang diculik malah bikin repot."


Jujur sekali mereka, ya.


"Yang masak semua itu, kalian?"


"Iya."


"Ayah kalian?"


"Pergi sama perempuan lain sejak kami masih kecil. Ibu sudah sakit-sakitan sejak kami masih kecil, jadi kami sudah terbiasa mengurus diri sendiri."


Rei menunduk sedih, jadi teringat dengan masa lalunya.


"Saya yang akan menanggung biaya pengobatan ibu kalian."


"Apa? Benar, Tante?"


"Tante, tante, jangan panggil saya tante! Oya, kalian ini kembar, kan?"


"Iya, kami kembar."


Freya terus memperhatikan mereka. Sejak masih ada di dalam rumah kecil tadi, dia terus memberikan penilaian.

__ADS_1


"Yang?" bisik Arby.


"Ck, aku kasihan sama mereka. Kalau si kembar diculik sama orang lain, belum tentu kembar masih baik-baik saja. Tidak ada penyiksaan apa pun, kembar juga tadi bilang mereka baik-baik. Kamu juga tahu sendiri kan, anak-anak kita itu seperti apa."


__ADS_2