
Hari-hari Arby semakin penuh warna. Dia selalu ingin pulang cepat untuk bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Arby selalu merasa gemas dengan baby Sachi Yang makin hari makin terlihat gembul.
"Sachi,kenapa kamu mirip banget dengan Daddy? Apa kamu takut enggak diakui?"
Plok
Wajah Arby kena tendang kaki Sachi. Untung saja Sachi masih bayi, jadi tidak sakit. Saking gemasnya, Arby menggelitik telapak kaki Sachi yang terbuka, membuat bayi itu tertawa lalu tidak lama kemudian menangis kencang.
Bukannya mendiamkan, Arby malah tertawa, tidak sadar di belakangnya ada nyonya rumah yang sudah siap untuk menerkamnya.
"Bagus, ya. Anak nangis bukannya didiamkan malah diketawain."
Glek
"Sayang, tadi Sachi ngambek. Masa aku ditendang."
Freya melengos saja, dan langsung menggendong Arby tanpa mempedulikan pria tampan yang untungnya suaminya sendiri.
Tangis Sachi langsung berhenti saat ada dalam pelukan Freya. Arby mendengkus, dia merasa ditolak mentah-mentah oleh anaknya sendiri, juga cemburu karena istrinya kembali direbut oleh bocah kecil yang untungnya anaknya sendiri, yang lebih untungnya lagi, sangat mirip dengannya.
"Sayang, jangan abaikan aku. Apa kamu tidak tahu, setiap hari aku merana karena merindukan pelukan hangat darimu."
"Kan setiap malam juga kamu hangat, karena dipeluk oleh Chiro dan Sachi."
__ADS_1
"Itu bukannya hangat, Yang. Tapi remuk badan aku."
Sejak kelahiran Sachi, Chiro ngebet banget untuk tidur bersama mereka. Kan kan kan ... kan Arby jadi enggak bisa meluk gemes Freya.
Dia merasa dijajah oleh anaknya sendiri. Maka dari itu harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan haknya sebagai seorang suami.
"Sayang, gimana kalau kita bukan madu saja. Sachi sama Chiro kita ungsikan ke rumah ayahnya."
Pluk
"Freya langsung melempar selimut Sachi yang bau ompol ke wajah pria itu.
"Anak baru lahir mikirin bulan madu. Emangnya mau bikin anak lagi?"
"Heleh, ini saja kamu ngeluh karena tidurnya kesempitan."
"Hehehe, aku pura-pura enggak dengar, ah."
Pembicara yang entah bermakna atau tidak itu, terus saja berlanjut.
"Hai hai hai ...." Seruan dari tangga membuat meeting pasangan suami istri itu berhenti.
Biasa lah, para perusuh itu datang. Entah kenapa rumah Arby itu menjadi markas berkumpulnya para jomblo. Giliran nanti Arby dan Freya mesra-mesraan, mereka protes, tapi terus saja datang saat akhir pekan.
__ADS_1
Ya apalagi kalau bukan ingin makan dan minum gratis. Arby yang sangat mencintai Freya, tentu saja selalu menyiapkan makanan dan minuman yang bukan hanya sehat, tapi juga enak dan banyak.
"Tuh Yang, baby sitter Sachi dan Chiro sudah datang. Jadi kita bisa melanjutkan rencana bulan madu kita."
"Apa?"
"Bulan madu?"
"Tidak boleh!"
"Sachi masih kecil."
"Kami belum merenggangkan otot-otot kami, kalian malah mau bikin yang baru lagi."
Lagi-lagi Arby pura-pura tidak mendengar. Dia sangat senang membuat para sepupu plus sahabatnya itu kesal.
Pria itu mulai berkhayal nanti mau bukan madu ke mana.
Ikmal yang tahu pikiran Arby, langsung menggendong Sachi dan langsung memberikannya ke dalam pelukan Arby.
"Ingat anak masih bayi. Masih mau nambah."
"Yeee, mendingan aku nambah anak, daripada nambah istri!"
__ADS_1
Iya sih, mendingan nambah anak dari pada nambah istri.