
Arby dan Chiro kini jalan berdua saja ke mall, tanpa Freya. Mereka membeli banyak kebutuhan bayi, yang harus mereka pilih sendiri. Tadinya mereka mau mengajak Freya, tapi tidak jadi karena ingin memberikan Freya kejutan.
Sidah banyak barang yang mereka beli, tapi tangan mereka masih lenggang karena semua barang belanjaan itu langsung diserahkan kepada pengawal yang mengikuti mereka.
Sepulang dari mall, Arby ingin membelikan sesuatu untuk Freya, tapi bingung apa yang mau dia beli. Memiliki rumah yang sangat besar dengan fasilitas sangat lengkap membuat pria itu bingung sendiri apa yang belum ada di rumah.
Mau membelikan bunga, tapi di rumah ada taman bunga yang lengkap.
Mau membelikan buah, tapi di rumah juga ada kebun buah dan sayur, belum lagi akan ada kiriman buah dan sayur dari vila.
Mau membelikan perhiasan, ngapain beli? Dia saja punya banyak di toko, tinggal ambil, siapa yang mau melarangnya?
"Apa ya, Chiro?"
"Mungkin Daddy harus membawakan mommy pria tampan, karena di rumah, tidak ada pria tampan selain Chiro."
Wajah Arby langsung merah padam. Bisa-bisanya anaknya sendiri berkata seperti itu kepadanya.
"Bukan hanya Chiro yang tampan, tapi Daddy juga tampan!"
"Ya kali saja mommy bosan, Daddy. Chiro sering mendengar mommy berkata bosan sama yang itu-itu terus."
Arby menghela nafas kasar.
"Maksud mommy, mommy kamu bosan kalau harus makan nasi terus, atau makan buah itu terus, minum susu rasa coklat terus."
__ADS_1
"Iya deh, biar Daddy senang."
Ya ampun, kenapa anakku jadi mengesalkan seperti ini? Pasti dia dipengaruhi oleh para ayahnya itu.
Chiro sekarang memang memanggil yang lainnya ayah. Bukan tanpa tujuan ....
"Kan tanggung jawab anak ada pada ayahnya, termasuk memberikan uang jajan dan mainan. Jadi kalau ayah Chiro banyak, nanti Chiro bisa minta uang sama para ayah."
"Kan sudah ada daddy kamu, Chiro," ucap Ikmal saat itu.
"Ya biar uang daddy awet lah, ayah Ikmal."
"Apa kamu berniat membuat kamu bangkrut?"
"Memangnya ayah-ayah Chiro sekere itu, ya? Kata Daddy, uang daddy tidak akan habis mau sampai keturunan ke berapa juga!"
Chiro hanya tertawa saja. Dia bukannya anak matre, tapi dia hanya suka saja melihat mulut para ayahnya itu komat-kamit, seperti ikan maskoki, pikirnya.
Kembali ke saat ini, Arby mengelus dadanya, anaknya itu benar-benar kompor. Jangan sampai nanti Freya mendengar dan minta dibawakan pria tampan.
Akhirnya Arby membawakan Freya bakso yang dulu sering Freya beli saat masih sekolah.
Sesampainya di rumah
"Sayang, aku pulang."
__ADS_1
Arby langsung berhenti melangkah, saat dia melihat ada seorang pria yang menyuapi istrinya makan.
Ikmal
"Mal, kamu mau jadi pebinor?"
"Apes banget aku, giliran aku yang nyuapin Freya, si bucin malah pulang."
Tidak hanya Ikmal, yang lainnya juga menyuapi Freya. Termasuk Nuna, Nania, Aruna dan Rei.
"Sayang, kamu sakit?"
Arby melihat Freya yang pucat.
"Tadi dia muntah-muntah dan hampir pingsan, untung ada kami."
Kini wajah Arby yang pucat.
"Kenapa enggak hubungi aku?"
"Baru Ar, belum ada lima menit. Untung Nuna membawakan sup buat Freya."
Arby meletakkan bungkus bakso di atas meja. Freya yang melihat itu langsung mengambilnya.
"Ini buat aku?"
__ADS_1
"Iya, Sayang."