Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
224 Kolam Renang (Saat Freya Masih Kecil)


__ADS_3

Anak-anak langsung berlarian begitu orang-orang datang. Mereka dibanjiri oleh ciuman dari opa, Oma, uncle, aunty tidak juga lupa tangan mereka penuh dengan mainan sekarang.


Yang datang harus membawa pajak bertamu.


"Gimana kandungan kamu, Sayang?"


"Baik, Ma."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Enggak tahu, dan gak mau nanya juga. Biar jadi kejutan."


"Semoga yang ini kembar lagi ya, mudah-mudahan kembar perempuan."


Freya meringis, apa jadinya kalau dia punya empat anak kembar. Mudah-mudahan tidak rusuh seperti Ichi dan Ishi.


Melihat sekarang para bocah berlarian sana sini, sudah membuat dia pusing.


Para anak-anak bermain bersama. Yang perempuan ngerumpi sambil ngerujak, sedangkan para pria membicarakan bisnis.


Kini anak-anak itu guling-gulingan di rumput, ada juga yang balapan kura-kura.


Ichi mengambil salah satu kura-kura, lalu menceburkan ke dalam kolam renang. Merasa kurang, anak itu lalu mengambil kura-kura yang lain.


Anak itu lalu berlari ke dapur, mengambil bebek dan menyemplungkannya juga. Bukan sembarang bebek, tapi bebek yang masih hidup.


"Ayo beyenang."

__ADS_1


Kenapa bisa ada bebek hidup?


Karena dia sendiri yang meminta Arby untuk beli bebek setelah pulang dari taman tadi. Belum ada yang memperhatikan apa yang dilakukan oleh anak itu, kecuali Sachi dan Ishi.


Keduanya ikut-ikutan memasukkan bebek mereka dan ikan dari akuarium.


"Aaaa!" teriak Aruna.


"Apa, apa?"


"Kenapa?"


"Coba lihat ke kolam renang."


"Ya ampunnn!"


Freya sepertinya mau pingsan saja.


Ikan-ikan itu—selain ikan yang ada di akuarium, rencananya mau dibakar untuk nanti malam.


Semua memandang bengong. Bahkan kini anak-anak itu—semuanya—sudah ikut menceburkan diri ke dalam kolam.


"Daddy, Daddy, cini belenang."


"Nguras kolam renang lagi, deh."


"Mendingan kamu isiin lagi kolam ikan, daripada kolam renang yang dijadikan korban."

__ADS_1


Tadinya mereka memang memiliki kolam ikan yang tidak terlalu dalam, agar tidak membahayakan anak-anak mereka, tapi ikannya suka mabok karena dimainin terus sama anak-anak sampai mati semua.


"Puas-puasin deh mereka main."


"Anak-anak, jangan main ke kolam yang dalam, ya!"


"Kalian awasi mereka, kalau perlu ikut berenang sana!" perintah Arby pada beberapa bodyguard.


Bau amis, bau amis deh, tuh!


"Cucu-cucu kita lucu-lucu, ya."


Perbedaan tipis antara lucu dan ngeselin.


Jasa kuras kolam renang sudah sangat hapal dengan rumah ini. Rumah yang terlalu sering menguras kolam renang. Mana kolam renangnya besar banget, seperti yang ada di tempat wisata.


"Biarkan mereka bermain, yang penting tidak membahayakan keselamatan mereka," ucap ayah Freya.


"Kalau ingat saat Freya masih kecil dulu, anak-anak kalian ini sangat beruntung."


Mereka terdiam, lalu melihat Freya yang sedang makan rujak bersama teman-temannya di sana. Arby menghela nafas. Dia jadi ingat saat pertama kali melihat Freya. Lalu pertemuan-pertemuan selanjutnya, tidak ada yang pernah dia lupakan satu pun. Jangankan seperti anak-anaknya, bersikap seperti anak pada umumnya saja susah.


Begitu juga dengan Nuna, yang masa kecilnya pun seperti itu.


Arby lalu memerhatikan keempat anaknya. Merasa bersyukur karena keempat anaknya sangat akrab, bahkan dengan sepupu-sepupu mereka juga dekat dan mau bermain bersama.


Dia tidak mau apa yang dulu Freya alami, juga dirasakan oleh anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2