
Haiii, aku kembali. Masih menyimpan cerita ini di favorit, kan? Baca lanjutan kisah Arby dan Freya, ya. Jangan lupa tinggalkan jejak, 😄
.
.
.
Jantung Arby berdetak kencang, dia dari tadi senyum-senyum sendiri.
Dia mencium ketiaknya.
Wangi
Lalu melihatnya.
Mulus, enggak ada bulunya.
Lalu melihat juniornya.
Jangan sampai kamu membuat aku malu. Ingat, kita punya misi penting, memberikan dedek bayi untuk Chiro.
Benar, ini adalah malam pertama Arby.
Ya ampun, aku harus apa nanti malam?
"Ar, kamu kenapa sih, dari tadi senyum-senyum sendiri."
"Iya dong, aku kan lagi membayangkan malam pertama kita, hehehe."
__ADS_1
Wajah Freya memerah, dia memejamkan matanya. Kenapa Arby harus mengatakan ini di hadapan orang-orang, dasar tidak tahu malu.
"Ar, kamu enggak malu apa, membicarakan itu?"
"Yang malu tuh, yang menghadiri pernikahan orang dengan status jomblo. Gandengan kok sama angin, emang berasa?"
Izinkan mereka menoyor kepala Arby dengan berjamaah. Freya menahan tawanya, melihat wajah kesal orang-orang di hadapannya.
"Aku tahu apa yang ada dalam pikiran kalian, awas saja kalau ada yang berani mengganggu malam pertama aku. Dedek Chiro mau diproduksi, dan itu enggak cukup lima menit."
Freya dan tim cewek langsung kabur, sudah tidak kuat menanggung malu. Jangan sampai nanti kuping mereka terkena virus dan harus terlepas dari tempatnya.
Plak
Bugh
Tuk
"Lihat dong aku, aku ngejar-ngejar bebeb Freya akhirnya dapat juga. Sampai nikah, lagi. Lah kalian? Ditolak mulu, kapan nikahnya? Ngejar orang yang sama kok enggak dapat-dapat."
Ingin sekali mereka menyumpal mulut Arby yang saat ini hanya nyengir penuh kemenangan.
"Aduh, nanti malam aku tidur ada yang melukin. Ada bidadari tak bersayap di sampingku. Bukan bertemankan guling tanpa wajah."
Mereka langsung berhambur mengeroyok Arby.
"Aku doain Freya datang bulan."
"Aku doain pria ini terkunci di kamar mandi."
__ADS_1
☘️☘️☘️
Arby dan Freya memasuki kamar pengantin mereka. Wajah mereka sama-sama bersemu merah melihat dekorasi kamar itu.
"Tunggu, kasur ini tidak ditaburi dengan obat gatal, kan?" tanya Arby.
"Obat gatal? Memangnya siapa yang mau menaruh obat gatal dan buat apa?"
"Ya mereka, deretan jomblo ngenes itu."
"Lagian kamu iseng banget sama mereka, sekarang jadi ketakutan sendiri."
Mereka mandi bergantian, Sama-sama terlihat canggung. Ternyata mantan duda tapi masih mesum itu bisa malu juga.
Dilihatnya wajah Freya yang semakin hari semakin cantik. Perempuan yang selalu dia cintai sejak dulu. Arby merasa lega usahanya tenyata tidak sia-sia.
Dia akan menjaga istrinya ini sebaik mungkin. Karena dia tahu, bukan hanya dia saja yang sering dikejar-kejar oleh perempuan, taki juga Freya yang disukai banyak pria. Banyak dokter yang masih muda, ada juga yang seorang duda, belum lagi para pengusaha. Namanya orang, sering tidak peduli kalau orang yang kita sukai itu sudah memiliki pasangan atau belum, pasti ada saja yang ingin merebut demi kebahagiaan sendiri.
Arby mendekatkan wajahnya. Pria yang biasanya langsung menyosor itu kini layaknya pria lugu yang malu-malu.
Di ciumnya kening Freya, kedua mata, pipi, hidung, dagu dan bibir.
Freya pun merasakan hal yang sama. Jantungnya berdetak kencang, dia merasa malu dengan suasana ini.
Arby menekan tengkuk Freya ....
Brak Brak Brak
Wajahnya langsung cemberut saat ada yang menggedor pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Dasar para jomblo, sudah dibilang jangan ganggu, awas saja kalian!"
Sudah dimundur, sekarang malah diganggu lagi. Kasihan sekali kamu, Arjun.