Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
69 Keluarga Bahagia


__ADS_3

Hening beberapa saat, hingga letusan balon menyadarkan mereka dari perkataan Arby yang ke luar jalur.


"Anjir, aku sudah serius dengerinnya sampai ikut deg-degan!" keluh Vian.


Arby langsung memasangkan cincin, bertepatan dengan taburan bunga dan letusan kembang api yang bertuliskan


...Freya...


...I ❤ U...


Dia tak membutuhkan jawaban dari Freya. Bukan tak butuh sebenarnya, tapi tidak ingin, karena mau menolak pun, dia akan tetap mengejarnya. Arby membawa Freya dalam pelukannya. Sedangkan Freya, dia melihat cincin yang tersemat di jari manisnya. Cincin yang bertaburan permata, dan dirancang khusus oleh Arby.


Freya merasa seperti sedang bermimpi. Tapi dia sangat yakin bahwa dirinya melihat bunga dan balon yang masih bertaburan dari atas, melihat dan mendengar suara kembang api, Arby yang bernyanyi, juga sorakan-sorakan dari mereka yang menyaksikan.


"A ... aku ...."


Belum sempat Freya menjawab, Arby langsung mengecup bibir merah itu.


"Aku ...."


Belum lagi selesai berbicara, Arby kembali mengecup bibir itu.


Kalau seperti ini terus, bagaimana aku mau menjawabnya? Bisa-bisa bibirku yang jontor. Dasar duda mesum.


"Ar, itu jangan disosor terus, Freya kan belum jawab," ucap Elya, mommynya Arby.


Freya melihat Elya dan Arlan.


Kamu pikir orang tuanya Arby mau menerima kamu kembali, setelah kamu meninggalkan anak dan cucu mereka?


Dasar perempuan tidak tahu malu.


Freya jadi teringat perkataan wanita yang ada di loby dulu. Freya menunduk, dengan pandangan mata yang kosong. Arby yang melihat itu langsung khawatir.


Apa aku akan ditolak lagi?


"Memangnya orang tua kamu tidak membenciku?" tanya Freya dengan cepat, sebelum kembali disosor oleh Arby.


Pertanyaan pelan dan lirih itu terdengar sangat jelas di telinga Arby.


"Memangnya kenapa mereka harus membencimu?"


"Kan, katanya aku meninggalkan kamu dan Chiro saat masih bayi."


Arby mengepalkan tangannya, mengingat perkataan siluman wanita itu, yang bisa merusak semua rencana Arby.


"Freya, kamu adalah menantu pilihan kami. Apa pun yang terjadi di masa lalu, dijadikan pelajaran saja. Yang lalu biarlah berlalu, yang penting adalah masa depan."


Secara tidak langsung, mereka membenarkan bahwa aku dulu pergi meninggalkan Arby dan Chiro. Meskipun mereka tidak bilanh iya, juga tidak bilang tidak.


Arby mengecup kening, kedua pipi, kedua mata, hidung, dagu, dan bibir Freya.

__ADS_1


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Arlan.


"Awal bulan depan saja!"


Bukan Arby yang menjawab, tapi Freya. Orang-orang kini memandang Freya.


"Kalian tahu sendiri kan, Arby itu orangnya gak sabaran."


Lah, kenapa aku lagi yang jadi kambing hitam? Aku kan belum ngomong apa-apa.


Namun Arby langsung tersenyum.


Tapi bukannya ini berarti Freya menerima aku, kan? Dih, jadiin aku alasan gak sabaran, padahal dia juga pengen, tuh.


"Mana main sosor terus, lagi. Bisa-bisa aku belendung duluan."


Mereka serempak mengangguk, membenarkan apa yang Freya katakan. Sedangkan Arby hanya manyun.


"Ya udah, deh. Yuk ngamar, tuh hotel gede banget, sayang kalau dianggurin," tunjuk Arby dengan dagunya.


Arby langsung mendapat serangan dadakan dari Ikmal, Marcell, Vian, Marva, Mico, Evan, dan saudara-saudara laki-laki mereka yang lain.


"Ceburin aja ke laut!"


"Buka bajunya, woy."


Mereka melepas sepatu, jas, dan kemeja Arby. Menggotongnya ramai-ramai. Arby memberontak dengan sekuat tenaga.


"Woy, pelecehan ini! Lempar saja aku ke ranjang, sekalian sama Freya."


"Dua ...."


"Tiga ...."


BYUR ....


Arby langsung dihempaskan ke laut, tidak terlalu jauh, jadi masih aman dan sangat terang karena banyak lampu yang di pasang di sepanjang ujung pantai itu, membuat kilauan di air, seperti berlian.


Para lelaki muda itu ikut menceburkan diri mereka ke air, bermain layaknya anak kecil.


"Mommy, kenapa daddy main di air?" tanya Chiro yang terbangun.


Tadi dia ketiduran dalam pangkuan Vanya karena keenakan mendengar Arby ngamen.


"Daddy lagi nyari Putri Duyung, Chiro."


"Mom, Chiro juga mau main di sana."


"Jangan, bahaya."


Chiro hanya bisa memandang daddynya yang sedang asik dilelepin oleh para unclenya.

__ADS_1


Mereka bisa melihat Arby yang berusaha mencapai darat, namun kembali di tarik oleh mereka. Membuat mereka yang melihatnya tertawa.


Saat mereka lengah, pria itu langsung berlari ke arah Freya.


"Aku butuh kehangatan," teriaknya dari jauh.


Freya yang telah hafal kemesuman Arby, langsunv mendapat alarm di kepalanya. Dia langsung berlari menghindari Arby. Jadilah mereka kejar-kejaran layaknya film India.


"Tum paas aaye, yun muskuraaye ...."


"Stop, jangan nyanyi lagi!"


Mereka tertawa melihat Freya dan Arby yang kejaran-kejaran. Nuna dan Ikmal saling pandang, lalu tersenyum. Mereka jadi teringat masa kecil mereka, masa-masa yang hanya bisa diingat oleh mereka bertiga saja.


Lalu Nuna dan Ikmal ikut mengejar Freya dan Arby, meski seluruh tubuh Ikmal masih basah.


"Aaa ... lepas!"


Arby langsung menggendong Freya bridal style saat berhasil menangkap perempuan itu.


Kembali, Arby, Nuna dan Ikmal saling pandang, sama-sama teringat kenangan di Singapura dulu. Nuna menekan hidungnya, agar tidak menangis, antara sedih, bahagia dan terharu.


Ikmal pun sebenarnya terbawa perasaan, namun dia tidak ingin merusak suasana yang membahagiakan ini. Dia menggenggam tangan Nuna, dan sebelah tangannya merangkul pundak Arby yang masih menggendong Freya.


Hal tersebut tidak lepas dari bidikan kamera.


Empat sahabat sejak kecil yang masih bertahan hingga saat ini.


"Aku jadi iri dengan persahabatan mereka," ucap Kirei.


"Iya, aku juga," Nania ikut menimpali.


"Kita juga bersahabat."


Nania, Aruna dan Kirei saling merangkul.


"Jangan lupakan kami," Marcell menunjuk dirinya sendiri dan Vian.


Para anak muda itu akhirnya mendirikan tenda yang sudah disiapkan oleh Arby. Yang tua-tua juga akan ikut berkemah namun dengan kondisi tenda yang memungkinkan untuk menjaga kesehatan mereka.


Api unggun juga disiapkan di beberapa sudut agar tidak terlalu dingin. Sedangkan yang peremluan menyiapkan barbeque.


"Tenda buat Freya diamanin, woy. Jangan sampai nanti Arby pura-pura ngelindur masuk ke sana."


"Wah, ide yang bagus tuh!" ucap Arby ceria, yang langsung mendapat toyoran dari Arlan.


Mereka makan dengan penuh suka cita, merasa bahwa ini adalah makanan ternikmat karena suasana kekeluargaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seluruh keluarga besar dari banyak keluarga berkumpul, memenuhi area pantai itu.


Bukannya tidak ingin tidur di kamar hotel, tapi hal seperti ini terasa lebih nikmat, mereka bisa saling sharing dan bercerita. Kirei dan Evan yang sebagai orang luar, merasa beruntung bisa diajak ke acara keluarga ini.


Mico juga sejak tadi tak henti-hentinya melontarkan candaan, yang membuat mereka tertawa.

__ADS_1


Arby menutupi punggung Freya dengan selimut tebal. Mereka semua sudah berganti baju dengan pakaian biasa.


Chiro duduk di antara Arby dan Freya, membuat mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


__ADS_2