
Tidak lupa Arby meminta doa dari anak-anak yatim itu, juga pada pemuka agama.
"Tolong doakan Chiro dapat dedek bayi sepuluh, ya."
Freya langsung menatap horor pria itu, sedangkan yang lain cekikikan.
"Jangan lupa, bonus satu, bonus dia juga boleh," lanjutnya.
Dia kira beli barang?
"Iya Om, aamiin!"
Freya menelan salivanya, bolehkah untuk kali ini saja dia berdoa agar doa-doa anak yatim itu tidak dikabulkan.
Malam harinya, setelah acara syukuran selesai, mereka melakukan acara bakar-bakar.
"Jangan ngambek, baby." Arby terus saja membujuk Freya yang sejak tadi manyun.
Mereka akhirnya memasuki kamar masing-masing. Rumah ini sangat besar, dan Arby sudah menyiapkan kamar untuk masing-masing orang.
Mereka kembali tidur bertiga, dengan Chiro yang berada di tengah. Tangan Arby terasa sangat penuh karena memeluk Chiro dan Freya. Ini yang dia impikan sejak dulu, tidur bersama anak dan istrinya, mengisi hari libur bersama dengan kegiatan apa saja.
☘️☘️☘️
"Chiro, hmmm ... mulai malam ini, Chiro tidur sendiri ya, bisa kan?"
Chiro langsung melihat Arby. Pandangan mata anak itu langsung terlihat sedih. Dia juga selama ini tidak bisa tidur tanpa Arby. Mereka saling membutuhkan.
__ADS_1
"Why Daddy? Apa Chiro nakal?"
"Bukan! Chiro anak yang baik, dan tidak nakal sedikit pun."
Arby sebenarnya tidak tega mengatakan ini pada Chiro. Tetapi tetap harus dilakukan, kan?
Pria itu lalu memeluk anaknya, mengusap punggung Chiro dengan lembut. Chiro tidak membalasnya, dan langsung berlari meninggalkan Arby.
"Chiro!"
Chiro tidak menoleh ke belakang, membuat Arby cemas.
Siang harinya, Arby melihat banyak barang yang datang ke kamarnya.
"Barang-barang apa ini? Siapa yang memesannya?"
"Chiro? Kenapa aku tidak tahu?"
Ikmal menghela nafas.
"Chiro bilang kamu sudah tidak mau tidur dengannya lagi."
Arby diam, apakah Chiro sangat marah padanya, sehingga tidak mau mengatakan apa pun padanya.
Mereka memasuki kamar yang ada di sebelah kamar Arby dan Freya. Di dalam sana, Chiro sudah meminta para pekerja untuk mengecat kamarnya dengan warna biru muda.
Arby melihat banyak barang yang bermotif dan berbentuk pesawat terbang, kesukaan Chiro.
__ADS_1
"Daddy, coba lihat! Sebentar lagi Chiro akan punya kamar sendiri. Bagus, tidak?"
"Iya, kamar Chiro sangat bagus. Chiro sudah tidak marah pada daddy?"
"Tidak, Daddy. Kan kata mommy harus jadi anak baik dan penurut."
Hati Arby terenyuh, betapa beruntungnya dia memiliki istri dan anak seperti Freya dan Chiro.
Freya yang meskipun dulu terlihat pemberontak, tapi sebenarnya berhati baik (Baca Mother, di sana juga ada Arby dan Freya yang tidak ada di sini😊. Yang sudah baca sampai bab terakhir, tenang saja, aku lanjut kok. Cerita Mother dan Jarak ini kan saling berhubungan, makanya aku lanjut cerita ini dan stop sesaat yang di sana, gak lama sih, jadi sabar dulu ya, para pembaca yang setia😄)
Juga Chiro, yang ternyata bisa tumbuh menjadi anak yang baik meski tidak dibesarkan oleh mommy-nya. Jujur saja, pasti ada kekhawatiran kalau Chiro akan membenci Freya yang pergi meninggalkannya.
Ternyata tidak, Chiro ternyata sangat menyayangi Freya, dan selalu menurut apa kata Freya. Arby benar-benar merasa bersyukur atas nikmat ini.
Pria itu kembali memperhatikan kamar Chiro yang baru saja selesai dicat.
Sepreinya bermotif pesat, di dinding ada lukisan pesat, jam berbentuk pesawat, bahkan lampu di langit-langit juga berbentuk pesawat.
"Nanti daddy belikan lagi miniatur pesawat. Chiro suka?"
"Iya Daddy, Chiro sangat suka pesawat. Kalau tidak ada pesawat, mungkin mommy tidak akan pulang kembali ke kita kan, Dad?" Arby tidak menjawab, hanya senyuman sendu yang dia berikan.
Tidak kembali ke mereka?
Di luar kamar, Freya mendengar perkataan itu.
Mungkin maksudnya aku sedang ke luar kota atau negeri?
__ADS_1