Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
146 Di Mana Mereka?


__ADS_3

Arby terus saja terlihat manyun, setelah mendengar perkataan Chiro. Bagaimana bisa Freya mengidam seperti itu.


Chiro lalu lalu berteriak heboh, dengan kedua tangan memegang pipinya.


"Jangan-jangan adikku nanti perempuan? Benar, pasti adik bayi perempuan, makanya mommy jadi seperti itu. Kalau begitu, Chiro harus menjadi pria yang sangat takkan, buat adik bayi nanti sayang pada Chiro."


Arby melengos, tapi perkataan Chiro itu membuat dia jadi kepikiran juga, kan. Bagaimana bisa, anaknya yang masih di dalam perut bisa secentil itu? Apa ini pengaruh karena bersahabat dengan Nania? Apa benar anaknya nanti perempuan.


Tidak bisa, kalau memang benar anakku nanti perempuan, dia tidak boleh centil dan digoda oleh banyak pria. Sudah cukup aku kualahan menjaga Freya.


"Daddy dan uncle tahu enggak, banyak yang ngajak mommy dan para aunty kenalan. Chiro juga dibelikan mainan sama uncle ganteng. Katanya, 'Kamu jadi anak uncle saja kau, enggak?' begitu."


Kepala Arby seperti mengeluarkan lahar panas dan tanduk. Kalau saja yang cerita ini bukan Chiro, pasti sudah langsung digeplak oleh Arby.


"Jangan gosip, Chiro."


"Kan tadi Daddy sendiri yang bertanya, ya Chiro jawab, lah."


Perhatian mereka kembali teralih pada Freya yang datang dari dapur, dengan membawa semangkuk besar dan penuh bubur kacang hijau.


Freya memang terlihat semakin cantik, dengan menggunakan dress tanpa lengan berwarna putih polos. Benar-benar seperti bidadari di mata Arby.


"Sayang, apa yang kamu dan Chiro lihat itu, hanya salah paham saja."


Freya diam saja, sibuk mengunyah bubur dicampur apel, entah bagaimana rasanya.

__ADS_1


"Sayang, jangan diam saja."


Freya memasukkan potongan apel ke mulut Arby, lalu menggigitnya dari bibir itu.


Arby yang mendapat perlakuan itu, langsung senyum-senyum. Dia ikut memasukkan apel ke mulut mulut Freya lalu menggigitnya.


Untung saja Chiro tidak melihatnya, sedangkan yang lain melengos.


"Gampang amat dibaikinnya."


"Disogok pakai bibir langsung girang."


Freya mengecup pipi Arby, dan Arby yang tidak mau kalah mengecup pipi Freya.


"Anjirr!"


Ikmal yang kesal, langsung menarik Arby dan mengeteki pria itu. Yang lain ikut mengeroyok pria itu.


"Minggir kalian, aku mau muntah!"


"Memangnya kami peduli."


Huek huek


"Sialan!"

__ADS_1


Tuh kan, dibilang mau muntah enggak percaya.


"Jorok!"


Tentu saja yang lain terkena muntahan Arby kecuali Freya dan Chiro yang tertawa girang. Ibu hamil itu memegangi perutnya agar tidak terlalu terguncang.


Mereka bergegas ke kamar mandi. Mungkin harus mandi kembang tujuh rupa tujuh hari tujuh malam.


"Jadi yang lain juga ikut pulang, kan?" tanya Marva. Freya menatap sengit pria itu, dan tidak menjawab.


"Nania juga ikut pulang, kan?" tanya Marcell.


Kali ini Freya menutup telinganya, terlihat jelas kalau dia mengibarkan bendera perang.


"Sudah aku bilang sejak dulu, kalau mereka itu punya penyakit menular. Yang satu kesal, yang lain ikut marah. Dan Freya adalah induk semangnya," ucap Arby pelan.


💧💧💧


"Freya, please, katakan di mana mereka."


Marcell mengiba, ingin sekali dia tahu di mana Nania berada. Marva, Vian dan Ikmal juga ingin tahu di mana keberadaan Rei, Aruna dan Nuna.


"Enggak udah bawel, dan enggak usah tanya-tanya."


"Kenapa kamu pulang hanya dengan Chiro saja?"

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang, lagi ngidam bubur kacang hijau buatan Arby. Lagian kalau mereka pergi, ya itu kesalahan kalian sendiri. Rasakan, tuh!"


"Ar, bujuk Freya untuk bilang di mana mereka," ucap Marcell. Tapi Arby hanya menggeleng. Dia tidak ingin Freya kembali marah padanya, kalau dia ikut campur masalah mereka.


__ADS_2