
Freya merangkul lengan Arby, sedangkan Chiro digandeng oleh Arby di tangan sebelahnya. Saat ini mereka sedang jalan-jalan ke mall, setelah tadi Freya melakukan operasi. Arby pun belum cuti, karena percuma juga dia cuti kalau Freya justru masih kerja dan datang bulan.
Memangnya apa yang mau disodok, donat?
Tanpa sadar Arby terkekeh geli dengan pikirannya sendiri.
Donat rasa keju nanti ... Ya ampun, pikiranku!
"Pasti lagi mikir mesum, ya?" tanya Freya yang membuat Arby kaget.
"Kok tahu, Yang? Kelihatan banget, ya?"
Bukannya mengelak malah ngaku, benar-benar suami jujur.
Freya mengangguk, dia tentu saja sering mengamati ekspresi orang-orang yang dia temui, apalagi orang selalu ada di sekitarnya.
Tidak jauh dari situ, seorang wanita melihat kedekatan Arby dan Freya, lalu menghampiri mereka.
"Selamat sore, Tuan Erlangga."
"Oh, iya sore."
"Sayang, ayo kita makan, aku dan calon baby sudah lapar," ucap Freya sambil memeluk lengan Arby semakin erat.
Arby mengerjap-ngerjapkan matanya.
Calon baby? Arjun saja masih ngadem di dalam, belum berjuang.
"Ayo, Yang. Kasihan nanti baby kita."
Cup
Arby mengusap perut Freya lalu mengecup perut rata itu.
__ADS_1
Ish, nyuri-nyuri kesempatan. Untung sudah suami, kalau enggak aku toyor, deh.
Tidak sadar bahwa dirinyalah yang lebih dulu memulai.
"Kami duluan, ya. Ayo, Chiro."
"Ayo Mommy, Chiro juga mau membelikan mainan untuk calon adik Chiro."
Benar-benar keluarga kompak, yang satu mengada-ngada, yang lain mengikuti.
"Dedek bayi yang sehat, ya. Cup!"
Chiro juga ikut mengelus dan mengecup perut Freya. Freya langsung menarik tangan Arby dan Chiro sebelum mereka menjadi keluarga penuh drama.
Perempuan yang bernama Clara itu mengangguk dengan senyum kikuk.
"Sayang, kamu ngidam apa sekarang?" tanya Arby meledek. Dia langsung mencubit pinggang Arby yang hanya dibalas dengan tawa ringan penuh kebahagiaan.
Namun tidak ada yang sempurna, termasuk dirinya. Dirinya yang egois memaksa Freya untuk menikah dengan saat itu, dengan kedok perjodohan.
Entah dengan cara apa Arby harus bersyukur. Mengucap Alhamdulillah saja rasanya tak cukup, karena apa yang diberikan oleh Sang Pencipta kepadanya benar-benar luar biasa.
Yang harus dia lakukan adalah selalu menyayangi dan menjaga keluarga kecilnya.
Arby menyeka ujung matanya. Selain tingkat kemesumannya yang meningkat, dia juga jadi gampang mewek.
Di tempat makan itu, mereka melihat sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak laki-laki dan anak perempuan yang kira-kira berumur dua tahun dalam gendongan ayahnya.
"Nanti kita bikin, Yang, yang lebih cantik dari itu," bisik Arby di telinga Freya.
Mereka bertiga makan saling suap-suapan, membuat orang lain merasa iri melihatnya.
Di sudut tempat makan itu, seseorang meremas tanganya, merasa geram dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Semoga saja kalian tidak pernah bahagia dan segera berpisah, lalu aku bisa menggantikan posisinya. Aku lebih layak berada di sisinya.
Ya begitulah orang, ada saja yang iri melihat kebahagiaan orang lain. Merasa dirinya lebih oantas daripada orang lain, namun tidak mau berkaca apakah dirinya memang layak atau tidak.
"Habis ini kita mau ke mana?"
"Ke time zone saja, biar Chiro bisa bermain."
Arby mengangguk setuju, bukan hal yang sulit untuk mewujudkannya.
"Kamu jangan terlalu lelah bekerja ya, Yang. Harus ingat sama kesehatan diri sendiri."
"Iya, aku tahu."
Arby tidak ingin melarang Freya bekerja, karena dirinya sangat tahu seperti apa Freya. Jika dilarang maka akan memberontak, lagi pula apa yang dia kerjakan adalah impiannya sejak kecil. Tapi dia juga tidak ingin istrinya itu kelelahan.
Kalau hanya sekedar uang, Freya tak akan kekurangan karena kekayaan keluarga Zanuar sangat banyak, belum lagi dia menjadi istri Arby, yang menjadi putra satu-satunya Arlan Abraham, dan ibunya salah satu anak dari Frans Arthuro.
Mereka menuju time zone. Arbyndan Chiro memainkan boneka capit untuk diberikan kepada Freya. Ayah dan anak itu berlomba siapa yang lebih dulu berhasil mendapatkan boneka.
"Yeee, Chiro menang."
Arby dan Chiro sama-sama berhadil medapatkan boneka, namun Chiro berhasil lebih dulu.
"Wah, Chiro kok hebat sih ngambil bonekanya?"
"Iya dong, kan dulu aku dan Chiro sering bermain ini. Dah, ayo main yang lain."
Arby langsung mengajak Freya dan Chiro untuk bermain mobil-mobilan, sebelum Freya bertanya lebih banyak.
Mereka benar-benar puas bermain, hingga tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit.
Arby tersenyum, karena hari-harinya akan selalu menyenangkan karena bersama dengan anak dan istrinya.
__ADS_1