
Sebagai rasa syukurnya, Arby membuat sekolahan baru, untuk mereka yang tidak atau kurang mampu. Bisa saja sih dia memberikan beasiswa agar mereka bisa di sekolah milik keluarga, atau bersekolah di mana pun yang mereka mau. Tapi belajar dari pengalaman, ini adalah yang terbaik. Bersekolah di tempat yang bagus, dengan para muridnya yang anak orang kaya semua, bisa membuat kesenjangan sosial. Mereka bisa iri, atau yang paling buruk, dibully.
Syukur-syukur kalau mereka bisa saling berbaur dan menerima. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Fasilitas yang diberikan oleh Arby untuk sekolah itu juga tidak asal-asalan. Sama seperti sekolah favorit lainnya, mereka juga akan belajar banyak bahasa asing, untuk menunjang masa depan mereka. Kalau mereka memang pintar, mereka akan bisa menjadi penerjemah dan sebagainya.
Atas bujukan Freya, Arby akhirnya mengalah untuk menunjuk Mico sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus semuanya.
Freya berpikir dalam hati, kenapa Arby tidak pernah suka pada Mico. Padahal sebenarnya bukan tidak pernah suka, tapi selalu merasa was-was.
__ADS_1
Sedangkan Arby juga berpikir dalam hatinya, kenapa Freya yang meskipun sudah hilang ingatan, tetap dekat dengan Mico, tidak bersikap layaknya orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya.
Lokasi yang dipilih tidak jauh dari klinik D'LIMA. Agar mereka bisa saling memantau dan membantu, dan memang tujuan utamanya juga semakin mensejahterakan warga sekitar.
Freya dan yang lainnya, tentu saja semakin dikenal oleh para warga. Mereka banyak terbantu. Dengan berdirinya klinik dan kafe milik Freya saja, mereka sudah mendapatkan pekerjaan. Belum lagi para dokter yang membeli rumah di sana, mereka bisa bekerja di rumah itu.
Pernah, ada yang berobat, berpura-pura tidak mampu, tapi memiliki mobil. Bukan mobil pinjaman, atau mobil kantor, tapi memang mobil pribadi. Rumahnya juga bertingkat. Dan setelah diselidiki lebih lanjut, dia memiliki pekerjaan yang bagus, sebagai manager di salah satu perusahaan asing.
__ADS_1
Itulah yang pihak Freya hindari, orang-orang yang memanfaatkan keadaan. Jika ada yang mau membayar, tentu saja diterima, tapi uangnya untuk keperluan klinik juga.
Banyak sudah donatur yang menyumbang untuk klinik ini. Lexa juga banyak membantu, karena mereka lebih pengalaman dalam hal-hal yang seperti ini.
"Terima kasih ya, kamu bukan hanya suami yang baik, tapi kamu juga pria yang baik."
Hidung Arby langsung mekar, dengan wajah yang merona. Dia selalu malu kalau dipuji oleh Freya. Freya menoel-noel pipi Arby. Saat ini mereka sedang melihat lokasi akan didirikannya sekolah. Mico yang mendampingi mereka, hanya geleng-geleng kepala. Dia juga senang melihat Freya dan Arby kembali bersama, meski di masa lalu, dia sering disalahkan dan diketusin oleh Arby. Mengingat itu, membuat Mico tertawa. Dia memang sangat dekat Freya, tapi bukan berarti mereka akan bersama. Hubungan dia Freya, sulit untuk dijelaskan. Mico juga sebenarnya sedih, karena Freya yang hilang ingatan.
__ADS_1
Tapi melihat sisi positifnya, dia tidak perlu lagi mengingat masa-masa remaja dulu, saat kami sama-sama mencari jati diri. Freya, ingatlah kamu dengan janji kita dulu?