
Sejak kejadian itu, Freya jadi sering uring-uringan. Dia mudah marah, lebih galak, dan sering menangis. Hormon kehamilan juga memperburuk suasana hatinya.
Arby jadi sangat kesal. Bukan kesal pada Freya, tapi oleh orang-orang yang menyebabkan istrinya seperti ini.
Hubungan Arby dan Freya jadi memiliki jarak. Membuat Arby merana dan kesepian.
Hari ini Arby bangun pagi sekali, karena ada pekerjaan di luar kota. Dia menyiapkan sendiri keperluannya, karena memang dadakan.
Dia pergi dengan terburu-buru, dan tidak berpamitan pada Freya karena Freya masih tidur di kamar Chiro.
Freya bangun satu jam kemudian. Membangunkan Chiro untuk pergi ke sekolah. Freya masuk ke kamarnya, dan tidak melihat ada Arby. Di kamar mandi, dapur, ruang kerja juga tidak ada Arby.
"Lihat Arby, Bi?"
"Tadi tuan sudah pergi pagi-pagi sekali, Nyonya."
Freya mencoba menghubungi Arby, tapi tidak bisa. Hingga siang, Arby juga tidak bisa dihubungi. Akhirnya Freya menghubungi Evan, asisten Arby.
"Arby di mana?"
"Tuan Arby ke Bandung, karena ada meeting dan pengecekan lapangan untuk proyek baru, Nyonya."
"Sama siapa?"
"Sama saya dan Jasmine. Tapi saya harus kembali lagi ke Jakarta, karena ada berkas penting yang ketinggalan."
"Kenapa harus kamu yang ke Jakarta? Kenapa bukan Jasmine?"
Di seberang sana, Evan bingung mau bilang apa. Jangan sampai dia salah bicara.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Evan, Freya langsung mematikan sambungan telp itu. Dia langsung menjemput Chiro meskipun belum waktunya pulang.
"Ayo Chiro, kita ke Bandung susul daddy."
Chiro langsung senang mendengarnya. Dia tahu akhir-akhir ini mommy dan daddy diam-diaman.
Freya sendiri yang menyetir mobil, dan sudah menyediakan banyak makanan dan minuman di dalamnya.
"Kita jalan-jalan dulu ya, sebentar. Baru nanti kita susul daddy di hotel."
"Iya, Mommy."
Freya sudah mencari tahu, di hotel mana Arby menginap.
Menjelang malam, mereka baru tiba di hotel. Freya yang sudah mendapatkan kartu kamar Arby, langsung mengajak Chiro ke kamarnya itu.
Pintu perlahan di buka.
"Fre ... Freya!"
Wajah Arby langsung pucat saat melihat Freya yang datang bersama Chiro.
Freya menatap nanar Arby, yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya, sedangkan di hadapan Arby, berdiri perempuan cantik yang hanya menggunakan lingerie saja.
"Dasar perempuan terkutuk!"
Plak Plak Plak
"Freya, jangan!"
__ADS_1
"Apa? Kamu mau membela pelacur kamu ini?"
"Bukan, dia bukan pelacurku!"
"Apa? Kamu semakin membela dia? Dasar suami bajingan. Lihat saja Arby, kamu dan ****** ini akan menyesal!"
Freya kembali menjambak perempuan itu. Arby mencoba memisahkan keduanya.
Si perempuan yang tidak terima dengan perlakuan Freya, ingin membalasnya, tapi langsung ditendang oleh Chiro.
"Ayo Chiro, kita pergi dari sini. Dan kamu pria sialan, tunggu surat perceraian dariku!"
Deg
"Tunggu Frey, jangan bicara sembarangan."
"Kamu yang jangan sembarangan ke aku! Dasar brengsek!"
"Chiro benci Daddy. Daddy sudah menyakiti hati Chiro dan mommy!"
Hati Arby teriris mendengar perkataan itu dari mulut Freya dan Chiro. Ibu dan anak itu langsung pergi.
"Tunggu Freya!"
"Arby, tolong aku!" ucap si perempuan.
Arby tidak peduli. Dia mengambil pakaiannya yang berantakan di lantai, menyusul istri dan anaknya.
Dia menuju loby, melihat Freya yang mengendarai mobilnya sendiri.
__ADS_1
"Freya, jangan menyetir sendiri! Berhenti!"
Arby menghalangi mobil itu, dan Freya tidak peduli. Dia langsung menekan gas dan Arby menghindarinya sebelum Freya menabraknya dengan kencang.