Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
33 Tidak Ingin Memilih


__ADS_3

Antara sadar dan tak sadar, Erlang senyum-senyum sendiri dalam tidurnya. Dia dapat merasakan bahwa ada yang menggerayangi tubuhnya. Tubuhnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menibannya.


Ya ampun Freya, kamu ganas juga, ya. Sok malu-malu kucing.


Dia juga merasakan rambutnya diremas dan sedikit terasa sakit.


Sedangkan Naya?


Dia merasa pipinya dicium-cium, dan ada yang memeluk dirinya dengan erat. Nafas seseorang terasa hangat di lehernya.


Entahlah, mungkin mereka berdua sama-sama lagi mimpi basah.


Puk


Puk


Puk


"Aw!"


Erlang terbangun saat pipinya ditepuk, begitu juga Naya yang terbangun saat mendengar suara seorang pria yang sangat dekat dengan kupingnya.


Mata mereka saling bertemu.


"Arby, ngapain kamu tidur sama aku?"


"Daddy, kenapa daddy tidur di sebelah mommy? Seharusnya Chiro yang tidur di tengah."


Naya dan Erlang melihat Chiro yang berusaha menyelip di tengah-tengah mereka. Chiro memanyunkan bibirnya, kesal dengan sang daddy yang curang padanya.


Melihat posisi Chiro yang seperti itu, kini dia sadar bahwa Chiro lah yang meniban tubuhnya. Menepuk pipinya dengan kesal juga menarik rambut Erlang, sebagai bentuk protes.


Kini Erlang yang cemberut.


"Mommy, daddy curang. Hiks ...."


Erlang langsung panik saat Chiro mulai menangis. Hal yang paling dia tidak ingin lihat selama beberapa tahun ini adalah melihat Chiro menangis.


Itulah sebabnya dia selalu berusaha menyenangkan hati Chiro, kecuali saat dulu Chiro selalu meminta untuk bertemu dengan mommynya.


Bukannya bermaksud memanjakan, tapi Chiro adalah penyemangat hidupnya, kalau Chiro bersedih, lalu siapa yang akan menghibur diri Erlang?


"Kenapa daddy memisahkan Chiro dengan mommy?"


"Enggak Chiro, mana muungkin daddy memisahkan Chiro dengan mommy."


"Ecan, ayo mommy mandikan Ecan."


"Asik asik asik, dimandikan mommy."


Naya menggendong Chiro. Chiro memeletkan lidahnya pada Erlang.


Dasar, bocah licik. Huft, sabar Arju, belum saatnya kamu berinteraksi dengan Freya.


Sekarang hari Sabtu, Erlang libur kerja, dan hal itu dia manfaatkan untuk pedekate dengan mantan istrinya itu.


Sementara Naya memandikan Chiro, Erlang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Erlang membuatkan nasi goreng seafood, makanan yang dulu pernah Naya minta saat ngidam.


Naya sudah memakaikan baju Chiro. Baju Naya terlihat basah karena tadi bercanda dengan Chiro di dalam kamar mandi.


"Ayo!"


Erlang menarik tangan Naya ke kamar, lalu membuka salah satu pintu lemari.

__ADS_1


"Ini, kamu pilih saja."


Deretan baju perempuan berjejer rapih di dalamnya. Tidak hanya itu, bahkan pakaian dalam wanita juga ada.


Naya menatap sinis pada Erlang.


"Jangan cemburu, Beb. Ini baju dan pakaian dalam baru semua, loh. Khusus buat kamu. Ukurannya juga pas buat kamu. Nih, kamu pakai CD dan bra yang ini saja. Warnanya bagus banget, kan aku jadi gemes."


Erlang memegang bra dan CD berwarna merah terang, membuat wajah putih Naya ikut memerah. Kamu cobain dulu sini, aku mau lihat beneran pas apa kekecilan."


Naya langsung menoyor Erlang dan masuk ke kamar mandi dengan membawa salah dress dan pakaian dalam berwarna hitam.


Erlang terkekeh geli. Dia jadi ingat saat membeli semua itu di mall bersama Chiro. Dengan percaya dirinya, dia memilih semuanya dan dilihat oleh orang-orang.


Habisnya, memang dia mau siapa yang membelikan semua itu?


Evan?


Mana sudi dia kalau Evan memilihkan baju untuk Naya, apalagi pakaian dalam, sudah pasti otak asistennya itu travelling ke mana-mana.


Jasmine?


No, takutnya nanti Naya salah paham kalau Jasmine yang memilihkannya dan tidak sesuai dengan selera Naya, melainkan selera Jasmine.


Pokoknya apapun yang berhubungan dengan Naya dan Chiro, harus dia sendiri yanv melakukannya.


Naya ke luar dari kamar mandi dengan pakaian basahnya. Membuat Erlang meneguk salivanya.


"Sini!"


Kali ini Erlang ingin mengeringkan rambut Naya.


"Aku bisa sendiri."


"Dah diam, pokoknya aku saja yang mengeringkannya."


"Daddy, saja."


"Chiro."


"Daddy."


"Chiro Chiro Chiro."


"Ini, Ecan saja yang mengeringkan rambut mommy."


Sekali lagi Chiro memeletkan lidahnya pada Erlang.


Erlang ke kamar mandi dengan wajah ditekuk, merasa kesal karena kalah saing dengan anak sendiri.


Selesai Erlang mandi, mereka langsung sarapan bersama. Selesai sarapan, Chiro pergi menonton kartun anak.


"Aku mau meminta izin padamu," ucap Naya.


"Apa?"


"Bolehkan malam ini Chiro menginap di rumahku, satu malam saja. Tapi hanya Chiro."


"Terus aku?"


"Ya kamu di sini lah, sendiri."


"Enggak boleh. Aku enggak bisa tidur tanpa Chiro."

__ADS_1


Dan itu memang benar.


"Ya sudah, enggak jadi."


Erlang dapat melihat kekecewaan di wajah Naya. Bukannya dia ingin melarang. Tapi kalau Chiro menginap di rumah Naya, terus dia sendiri. Kalau pun Erlang boleh ikut menginap, pasti pisah ranjang dan kamar.


Memangnya Naya mau tidur satu ranjang dengannya?


"Ayo kita menikah lagi."


"Aku pulang dulu. Lain kali jangan pura-pura sakit, nanti sakit beneran kan kasihan Chiro. Kan kamu sendiri yang bilang kalau kalian tidak bisa tidur terpisah."


Selalu saja menghindar. Apa kamu benar-benar memakai prinsip buanglah mantan pada tempatnya?


Naya mengambil tasnya dan kantong baju kotornya.


"Ecan, mommy pulang dulu, ya."


"Mommy mau kembali lagi ke London?"


"Enggak. Sekarang mommy tinggal di Jakarta bersama para aunty."


"Yey, berarti Ecan bisa sering-sering bertemu dengan mommy, kan?"


"Iya. Tapi mungkin untuk beberapa waktu ini mommy akan sibuk, karena banyak yang harus mommy urus. Ecan janji ya, harus rajin sekolah. Enhvak boleh bolos."


"Iya, Ecan janji enggak akan bolos sekolah kecuali daddy ke luar kota atau luar negeri. Karena Ecan dan daddy enggak bisa jauh-jauh."


Naya tersenyum tipis mendengar perkataan Chiro.


.


.


.


Di dalam mobil, Naya selalu terngiang-ngiang perkataan Erlang. Sedangkan Erlang menghela nafas. Tadinya dia ingin menghabiskan waktu seharian ini untuk mengajak Naya dan Chiro jalan-jalan. Ke Puncak, pantai, kebun binatang, atau ke mana pun yang bisa membuat hati Chirodan Naya bahagia.


Dia ingat saat mereka masih kecil, Freya selalu ingin pergi ke taman bermain, pantai, kebun binatang, memiliki boneka yang ukurannya lebih besar dari dirinya.


Dia belum sempat mewujudkan semua impian Freya itu, meskipun Freya tak ingat apa-apa.


"Daddy, kapan mommy akan tinggal bersama kita."


Pertanyaan yang Erlang sendiri tidak tahu apa jawabannya.


"Chiro saja yang minta mommy tinggal sama kita, ya. Soalnya kalau daddy yang minta, mommy pasti enggak mau."


"Apa mommy masih marah pada Daddy?"


"Iya, mommy masih marah pada daddy."


Chiro memeluk Erlang.


"Daddy jangan sedih lagi, nanti Chiro bujuk mommy, agar mommy mau baikan sama daddy. Kan enggak boleh marahan lama-lama, nanti dosa."


"Chiro mau kalau tinggal sama mommy saja?"


"Sama Daddy juga?"


"Enggak, daddy di sini sendiri. Chiro sama mommy."


Pelukan Chiro semakin erat.

__ADS_1


"No, Daddy. Jangan nyuruh Chiro memilih. Chiro mau Daddy dan mau mommy juga."


Chiro mulai terisak pelan, membuat ngilu hati Erlang.


__ADS_2