Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
117 Si Penyuka Warna Merah


__ADS_3

Arby mencoba membuka pintu kamar Chiro.


"Eh, enggak dikunci."


Pria itu langsung melihat ke tempat tidur, ibu dan anak itu sudah tidur nyenyak, tidak mengingat dia yang kesepian dan kedinginan. Dia langsung naik ke atas kasur, memilih posisi di tengah, dan menarik tangan Chiro dan Freya agar memeluknya. Tersenyum puas.


Akhirnya aku bisa tidur nyenyak malam ini.


Paginya, Arby terbangun. Begitu membuka mata, dia melihat wajah dua orang yang cemberut. Sapaan pagi yang tidak menyenangkan.


"Loh, kok aku bisa ada di sini? Kalian berdua mindahin daddy ke sini, ya?"


Ini nih, yang namanya dia yang berbuat, orang lain yang dituduh. Mengkambinghitamkan orang lain, lempar batu sembunyi tangan.


Arby tetap saja memasang wajah tanpa dosanya.


Cup


Cup


Dia lalu mencuri ciuman dari Chiro dan Freya, lalu langsung kabur ke kamarnya, sebelum dia dikeroyok oleh ibu dan anak itu. Kalau dikeroyok oleh Freya saja, dia tidak akan protes, biar gantian, nanti dia yang kroyok Freya dalam tanda kutip.


🍁🍁🍁


"Kamu itu sebenarnya kenapa, sih? Memangnya apa salah aku?"

__ADS_1


"Kamu pikir saja sendiri!"


"Aku sudah mikir, tapi enggak ketemu jawabannya."


"Makanya, bilang sama mommy kamu, jangan terus-terusan bicara tentang mantan pacar kamu itu!"


"Mantan pacar? Siapa?"


"Itu tuh, cewek yang namanya Feya, Eya. Nama kok mirip sama nama aku, nyama-nyamain saja!" Arby tersenyum, matanya menerawang, dan itu semakin membuat Freya marah.


"Jangan-jangan, kamu nikahin aku karena mantan kamu itu, ya? Karena nama aku mirip sama nama dia?"


"Enggak, kok," jawabannya enggak, tapi mukanya tersenyum, kembali dan semakin memancing emosi Freya.


"Coba bilang sama aku, seperti apa perempuan itu?"


Pluk


"Aw!"


"Berani-beraninya kamu memuji perempuan lain!"


Arby cemberut saat Freya melemparnya dengan bantal sofa. Untung saja bantal, coba kalau vas bunga?


Yang lain menahan tawa. Biar saja Arby dimarahi oleh Freya. Karena hanya Freya yang bisa memarahinya tanpa perlawanan.

__ADS_1


Arby menahan tawa, memandang wajah cantik yang menggemaskan itu.


Apa dia sedang cemburu dengan dirinya sendiri?


"Kamu pasti membanding-bandingkan aku dengan dia? Mencari kesamaan antara kami, jadi kamu bisa selalu mengingat dia sesuka hati kamu? Kenapa dia juga suka sama warna merah?"


Warna merah!


Nuna dan Rei kembali mengenang saat itu. Mereka juga punya kenangan khusus dengan warna kesukaan Freya itu.


Gadis kecil berkuncir kuda. Bahkan sampai sekarang, Freya masih suka dikuncir kuda. Nuna dan Rei diam-diam meneteskan air matanya.


Entah apa jadinya jika dulu mereka tidak bertemu dengan Freya, si gadis berkuncir kuda yang juga memberikan mereka barang berwarna merah.


"Arby yang dimarahi Freya, kenapa kalian berdua yang menangis?" tanya Mico. Dia hanya meledek saja, karena dia sendiri juga punya kenangan khusus akan itu.


Hah, pasti yang dirasakan oleh Arby lebih sakit dari ini, batin mereka kompak.


Banyak kenangan, tapi pusat kenangan itu malah tidak mengingat satu pun. Mereka jadi hanya bisa mengenang.


"Jangan salah paham terus, my baby."


"Baby baby apaan! Jangan-jangan selama ini, kamu manggil aku baby itu, panggilan untuk dia, ya? Terus dia baby, aku babi, gitu?"


"Ya ampun, ya enggak lah."

__ADS_1


Arby langsung memeluk Freya, lalu mengecup wajah Freya sepuas mungkin. Sudah satu minggu ini dia tidak bebas memeluk dan mencium istri tersayangnya.


__ADS_2