Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
63 Berwajah Abstrak


__ADS_3

Freya memasuki halaman sekolahnya. Perasaannya campur aduk, seperti orang yang sedang bernostalgia, namun tak ingat apapun akan nostalgia itu.


Para alumni dan guru-guru sudah berkumpul, membicarakan tentang masa-masa sekokah mereka dulu. Alumni-alumni itu menggunakan seragam sekolah, benar-benar ingin mengulang saat-saat penuh warna di usia remaja. Nuna, Aruna dan Nania mengenalkan Freya pada mantan teman-teman sekelas mereka, agar Freya bisa saling bertegur sapa saat mereka bertemu di jalan.


Mereka yang melihat Freya untuk yang pertama kalinya saat konferensi pers itu, dibuat kagum. Siapa sangka gadis cerdas dan berprestasi, yang selalu membuat keributan dengan senior laki-laki mereka (Arby cs), yang bergaul dengan anak-anak orang kaya (Nuna, Nania, dan Aruna), yang selalu menggunakan angkutan umum saat pergi dan pulang sekolah, yang berjualan kue, yang pernah diskors akibat perkelahian, ternyata pewaris keluarga Zanuar dan menikah dengan musuh bebuyutannya, bahkan memiliki anak laki-laki yang berwajah tampan dan menggemaskan.


Mata Freya menoleh ke sana ke mari, melihat sekeliling sekolah elite yang menjulang tinggi.


Ini bukanlah hari libur, tapi hari Senin. Acara reoni yang sengaja di pilih di hari sibuk dan jam sibuk, seolah mereka masih anak sekolahan. Bahkan, acara dibuka tepat jam tujuh dengan bel sebagai penandanya, juga melakukan upacara.


Senyum terukir di wajah Freya.


Setelah upacara, acara selanjutnya mengobrol ringan yang diselingi dengan pembicaraan bisnis. Juga tak lupa dilakukan games, yaitu cerdas cermat yang akan mengetes kemampuan mereka, apakah mereka masih ingat dengan pelajaran-pelajaran mereka dulu atau tidak.


Rei menhawab pertanyaan itu dengan cepat, bahkan mengalahkan Arby yang menjadi murid terpintar di angkatannya.


Biarin, yang namanya suami memang harus mengalah pada istri.


Kalimat untuk menghibur diri sendiri.


"Pintarnya emang enggak terkalahkan," ucap salah satu alumni.


"Bagus si Arby sama Freya enggak satu angkatan. Coba kalau satu angkatan, bisa-bisa berantem mulu dulu mereka karena saingan menjadi yang terbaik.


Selesai melakukan game, mereka makan bersama di kantin, dengan menu yang sama saat mereka sekolah dulu.


"Sudah lama banget aku enggak makan yang beginian," ucap Vian.


Sebenarnya makanan di sana sama saja seperti makanan yang ada di cafe atau restoran, karena sekolahan itu adalah sekolah elit, hanya saja makan dj sekolah setelah bertahun-tahun lulus membuat rasanya lebih nikmat.


Selesai makan, mereka melakukan acara bebas, ada yang masuk ke kelas mereka, ada yang tetap di kantin ada yang sekedar jalan-jalan ke perlustakaan, dab ada juga yang melakukan olah raga bersama seperti futsal dan basket.


Freya mengikuti nalurinya, kakinya melangkan ke belakang sekolah, yang diikuti oleh Mico. Arby dan yang lain yang melihat itu, juga mengikuti mereka.


Mereka tiba di belakang sekolah, Freya dan Mico melihat tali yang ternyata masih menggantung di tembok meski keadaaanya tak sekuat dulu. Tangan Freya menyentuh tali itu, dan langsung mencoba memanjat.


"Freya, kamu ngapain?" teriak yang lain kecuali Mico.

__ADS_1


Entahlah, Freya sendiri bingung kenapa dia memanjat tembok itu.


"Hati-hati jatuh, Freya!"


Arby, Ikmal, Vian dan Marcell yang teringat bahwa mereka memang pernah memergoki Freya yang bolos dengan cara memanjat, hanya saling pandang.


Freya lalu berjalan ke arah bagian kuar gudang sekolah. Dia duduk selonjoran di sana. Disentuhnya lantai kotor itu. Matanya memicing melihat tembok.


"Mico ... Mico ... Lihat, ini nama kita bukan? Freya, Mico. Tuh, namanya sama," ucap Freya dengan heboh.


"Iya, itu nama kita. Dulu kita yang mengukirnya di sana."


Arby yang mendengarnya merasa cemburu. Sepertinya memang banyak kenangan antara Mico dan Freya, meski kenangan itu adalah kenakalan-kenakalan remaja.


"Kenapa ada nama kita di sini, dulu kita pacaran?" tanyanya polos.


Mico terkekeh sambil melirik Arby yang manyun.


"Enggak, tapi dulu kita memang sering duduk di sini sambil membicarakan masa depan. Tentang impian yang ingin kita raih, tentang dunia yang luas, pembuktian diri ...."


Mico kembali mengingat masa lalu itu. Hati Freya merasa terenyuh, meski dia tak ingat, tapi perkataan Mico membuatnya terharu.


Dua orang itu hanyut dalam kenangan. Jika Mico mengingat masa-masa suram itu, maka Freya menerka-nerka dan mencoba mereka ulang kejadian.


💕💕💕


Freya memasuki loby perusahaan Arby, setelah sebelumnya dia praktek di rumah sakit.


"Untuk apa lagi kamu ke sini?"


Freya menghentikan langkahnya, melihat seoranh perempuan berwajah angkuh.


"Kamu siapa?" tanya Freya.


Wanita itu mengepalkan tangannya dengan wajah penuh kebencian.


"Jangan pura-pura tidak tahu kamu, Freya. Kamu sungguh tidak tahu malu ya, apa setelah pergi meninggalkan suamimu dan anakmu yang masih bayi, lalu sekarang kamu mau kembali?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Jangan pura-pura pikun, semua orang juga tahu kamu meninggalkan Arby dan Chiro saat masih bayi. Lalu sekarang seenaknya saja kamu kembali. Apa kamu pikir Arby akan menerimamu begitu saja? Kamu pikir orang tuanya Arby akan menerima kembali menantu kurang ajar sepertimu, hanya karena kamu ibu dari cucu mereka?"


Freya mengernyitkan keningnya.


Seorang security menghampiri mereka.


"Jangan.membuat keributan di sini! Cepat pergi dari sini."


Perintah itu tentu saja ditujukan untuk Angel, namun wanita iti seolah tak mendengar.


"Kamu sendiri yang membuat Chiro tak mendapatkan kasih sayang seorang ibu."


"Sebenarnya kamu siapa? Apa kamu pegawai di perusahaan ini? Apa kamu juru bicara keluarga Abraham? Kenapa Arby bisa menerima pegawai yang tak punya sopan santun sepertimu? Ikut campur urusan atasannya. Jika aku yang memiliki pegawai sepertimu, pasti sudah langsung aku keluarkan."


Angel mengepalkan tangannya. Dia jadi teringat dengan Arby yang mengeluarkannya dengan tidak hormat.


Resepsionis langsung menghubungi Evan untuk memberi tahukan apa yang terjadi.


"Pergi jauh dari kehidupan Arby dan Chiro, kamu tidak pantas untuk mereka. Mungkin Arby bersikap baik padamu hanya karena kasihan."


Freya mengepalkan tangannya mendengar perkataan Angel.


"Aku akan pergi jika memang aku ingin pergi. Kamu bukanlah siapa-siapaku yang berhak mengaturku. Dilihat dari wajahmu yang abstrak itu, aku malah jadi kasihan padamu."


Mereka yang mendengar perkataan Freya menahan tawa saat Angel dikatakan berwajah abstrak.


"Angel, apa yang kamu lakukan di sini!" teriak Arby.


"Hai Arby, apa kabar? Aku ke sini untuk ...."


"Pergi dari sini sekarang juga. Sudah aku katakan jangan pernah kamu menginjakkan kaki lagi ke perusahaan ini!"


"Arby, aku ...."


"Pergi!"

__ADS_1


"Kenapa aku? Seharusnya perempuan yang telah meninggalkan kamu dan anak kamu saat masih bayi ini yang harus pergi."


Wajah Arby menegang, selama ini tak ada yang pernah berkata pada Freya bahwa perempuan itulah yang meninggalkan dia dan Chiro begitu saja.


__ADS_2