Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
209 Begah


__ADS_3

Sachi dan si kembar melihat ada kumpulan anak-anak perempuan. Mereka bertiga dan saudara-saudara mereka yang masih kecil-kecil lalu menghampiri anak-anak perempuan itu, sepertinya ingin mengajak mereka bermain agar lebih ramai. Para pengawal juga dengan sigap mendekati mereka, meski tidak terlalu mencolok agar pengunjung yang lain tidak merasa terganggu.


"Main yuk," ajak Sachi.


Anak-anak perempuan itu melihat mereka, lalu mulai bermain bersama. Ya hanya sekedar main gelembung sabun, pistol-pistolan, terompet, tapi sudah sangat rusuh.


Si kembar terlihat menggemaskan memakai topi bulu berbentuk beruang dan panda. Sachi memakai topi bulu berbentuk macan, sedangkan yang lain juga sudah memakai topinya dengan karakter yang berbeda juga.


"Ayo anak-anak, kita pulang."


Para pengawal membawakan semua mainan yang dibeli oleh anak-anak kecil itu. Arby menggandeng tangan Freya, sedangkan di depan mereka, semau anak itu berlari ke sana ke mari dan berteriak, mengalihkan perhatian para pengunjung.


"Yang, ada yang mau kamu beli di sini?"


"Enggak, tapi nanti kita beli bakso beranak, ya."


Arby mengerjapkan matanya, agak aneh mendengar ibu hamil itu mengatakan bakso sedangkan dia sendiri lagi hamil. Dia jadi membayangkan, bagaimana proses bakso yang melahirkan? Apa di sesar? Tanpa sadar, Arby jadi meringis.


"Dih, aku jadi enggak sabar makan somay."

__ADS_1


Tadi bukannya bilang bakso? Kenapa malah somay?


"Nanti kita beli sate, ya."


Arby melirik ke sampingnya. Apa hanya dia yang salah dengar, atau memang istrinya yang mengatakan semua itu?


Mobil penuh dengan mainan-mainan milik anak-anak mereka. Seperti sudah memborong toko mainan, padahal memang hampir semua penjual mainan di kebun binatang itu mereka datangi. Ini piknik ala Freya yang dia sukai, melihat tempat-tempat terbuka, bukannya berbelanja di mall.


Pulang dari kebun binatang, Freya benar-benar berwisata kuliner. Bukan untuk dibawa pulang, tapi makan di tempat. Mulai dari sate, tongseng dan rawon, lalu nasi uduk dengan lau bebek bakar.


Siapa yang begah?


Arby


"Kenyang aku, Yang."


"Makan kamu aja boleh, enggak?" bisik Arby.


Freya langsung menyuapi Arby dengan sambal yang ekstra pedas.

__ADS_1


"Pedas banget, Yang. Kasihan anak aku di perut, itu." Pria itu langsung menyeruput es jeruk sampai tandas satu gelas."


Arby mengusap-usap perutnya yang kepenuhan.


"Pokoknya nanti aku tidurnya mau dipeluk."


Freya melirik pada Arby. Kekenyangan kok, tidurnya minta dipeluk!


Anak-anak mereka juga makan dengan anteng. Mereka sudah menguap berkali-kali, tapi Sachi dan si kembar tetap saja mengunyah. Arby sampai meringis melihatnya. Gimana ketiga anaknya itu enggak pada gembul-gembul.


"Habis ini beli martabak, ya. Kaki saja nanti malam aku mau ngemil."


"Oya, beli saja yang mau kamu beli sekarang, daripada nanti malam aku harus keluar, nyampe rumah kamu malah tidur."


Freya terkekeh. Untung saja Arby selalu sabar dalam menuruti semua kemauan masa ngidamnya. Ya enggak hanya saat hamil saja, sih. Dalam setiap keadaan pun, pria itu selalu memberikan apa yang Freya mau.


"Dede udah kenyang, belum?" tanya Arby sambil mengusap-usap perut Freya.


"Belum, Daddy."

__ADS_1


Ya ampun!


__ADS_2