
"Dokter Freya baik-baik saja, dia akan segera dibawa ke ruang persalinan karena sudah mau pembukaan sepuluh."
Tanpa basa-basi, Arby langsung ikut masuk. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya melahirkan tanpa didampingi dirinya, apalagi ada insiden seperti ini.
"Kamu kuat, Yang. Ada aku yang selalu mendampingi kamu."
Freya mengatur nafasnya. Dokter menyarankan dia untuk dicesar saja, tapi perempuan itu tidak mau. Sebisa mungkin dia mau semua anaknya dilahirkan normal, apalagi dia ingin ikut mengurus bayinya dengan lancar.
"Ayo, Yang, kamu bisa. Bayangin saja kita lagi membuatnya, biar rasa sakitnya hilang. Ngedennya diganti ******* aja, gak apa-apa, gak usah malu."
Ingin sekali Freya menjambak rambut Arby, dibotakin sekalian.
Dokter dan perawat menahan tawa. Kalau saja mereka juga lagi hamil, bisa-bisa anak mereka juga akan ikut brojol di sini.
Arby menarik nafas dalam-dalam, tapi sebelum dia menghembuskannya, dia sudah dicubit dulu oleh Freya.
Bisa-bisa nanti anaknya, pas udah mau keluar, malah masuk lagi, ngumpet di dalam. Malu punya bapak kaya begitu.
Arby mengelap wajah Freya yang berkeringat. Pikirannya malah jadi traveling, membayangkan keringat yang lain.
"Ja ... jangan mesum, deh!" ucap Freya di sela ringisannya.
Arby cengar-cengir saja, merasa bangga punya istri yang begitu memahami dia.
"Oke, pembukaan sempurna, ya. Siap-siap, ikuti instruksi dari saya."
Arby menggenggam erat tangan Freya. Dia berdoa, agar anak dan istrinya diberi keselamatan dan kesehatan. Dia akan menjadi ayah siaga untuk anaknya, entah itu anak laki-laki lagi, atau perempuan. Syukur-syukur kalau kembar lagi, biar si kembar ada saingannya.
"Kepalanya sudah kelihatan, ya. Ayo, sedikit lagi."
Arby menahan nafas tanpa dia sadari. Merasakan genggaman Freya yang begitu erat, bahkan sangat terasa di telapak tangannya.
__ADS_1
Ternyata tidak membutuhkan waktu lama, anak mereka telah lahir dengan selamat, tanpa kekurangan satu pun. Arby bernafas lega.
Suara bayi seperti sebuah irama yang menangkan hati Arby dan Freya. Keduanya tersenyum bahagia, akhirnya anak mereka lahir juga.
"Anak kita perempuan, Yang."
Freya bernafas lega. Akhirnya dia memiliki anak perempuan juga. Arby mengecupi seluruh wajah Freya.
"Dia cantik banget, Yang. Kaya aku."
"Kamu cantik?"
"Sembarangan, aku mau ganteng."
"Tadi kamu bilang, kamu cantik."
"Dia aku versi perempuan pokoknya."
"Daddy, Daddy!"
Terdengar suara teriakan dan gedoran pintu.
"Kami akan segera membawa Dokter Freya ke ruang perawatan."
"Daddy, mau mommy."
"Iya, nanti ya."
"Mana adik?"
"Lagi dibersihkan dulu."
__ADS_1
"Adik main kotol, ya?"
"Enggak, kan adiknya baru lahir, masa main kotor."
"Itu tadi katanya dibelsihkan."
"Iya, deh."
Arby mau menghemat tenaganya. Tadi sudah diprotes oleh Freya, sekarang diprotes oleh bungsu gak jadi.
Freya akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya baik-baik saja setelah mengalami pendarahan, untung saja cepat ditangani oleh dokter.
Perawat membawa bayi perempuan itu. Chiro dan adik-adiknya begitu antusias. Wajah Ichi dan Ishi terus menatap pintu dan adik bayi mereka.
"Kenapa, Sayang? Ini adik bayi."
"Kenapa cuma catu?"
"Ya memang satu."
Ishi mulai menangis, diikuti oleh Ichi.
"Mau enam, Daddy. Enam, bukan catu. Bial adil."
Omegod
Enam?
Kembar enam?
Kembar dua saja sudah kliyengan, ini lagi minta kembar enam, dengan alasan biar adil.
__ADS_1
Arby sih mau-mau aja bikin lagi, tapi Freya pasti akan mencincang dirinya ....