Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
129 Ruangan Rahasia


__ADS_3

Arby sedang melamun di dalam kamarnya. Membayangkan nanti anaknya akan mirip seperti siapa. Apa akan mirip dengannya, atau mirip Freya? Atau seperti Chiro, yang wajahnya perpaduan dia dan Freya.


Rasanya Arby tidak sabar untuk membeli kebutuhan bayi. Dia ingin membeli banyak baju berukuran kecil dan pasti terlihat menggemaskan.


Dia lalu masuk ke ruang khusus. Di dalam ruangan itu, banyak lemari, yang bukan lemari biasa. Lemari itu punya kode seperti brankar, jadi tidak bisa dibuka sembarangan.


Arby menekan beberapa nomor, lalu salah satu lemari itu terbuka. Dia mengambil satu baju berukuran kecil, sangat kecil dalam pegangan tangannya.


Baju Chiro saat masih bayi. Bahkan, itu baju Chiro di hari pertama dilahirkan, dan dia sangat ingat itu. Semua barang-barang Chiro masih dia simpan dengan baik. Banyak baju yang berukuran kecil dilioat dalam lemari itu.


Ada baju kodoknya Chiro, dan kain bedongannya.


Lemari yang lain juga Arby buka. Ada botol-botol susu Chiro yang masih bersih dan terawat. Arby mengambil botol pertama Chiro.

__ADS_1


Dia menghela nafas, mengingat ada satu botol yang ketinggalan saat dia makan di kafe. Saat dia kembali ke kafe itu, botol itu sudah tidak ada.


Banyak kenangan tentang dia dan Chiro yang terlintas. Tulisan tangan pertama Chiro, sepatu bayi Chiro yang jika Arby lihat sekarang, ternyata sangat kecil. Topi, kaos kaki, dan banyak barang lainnya.


Dia tidak mau adik Chiro merasakan apa yang Chiro rasakan dulu, tumbuh tanpa kasih sayang mamanya. Arby tidak akan membiarkan Freya pergi lagi. Dia akan benar-benar menjaga rumah tangganya, jauh dari pelakor dan pebinor.


Rasanya Arby tidak sabar menunggu kelahiran anak keduanya. Membesarkan anak itu bersama Freya, dan menjadi keluarga yang sempurna.


Arby mengusap barang-barang itu dengan lembut. Freya tidak tahu, kalau Arby menyimpan barang-barang ini. Kalau dia tahu, dia pasti akan banyak bertanya. Arby lalu mengambil selimut kecil, yang masih tebal dan sangat halus. Selimut yang dulu selalu dia bawa bersama Chiro.


Selimut itu berwarna merah.


Benar juga, banyak barang di sini yang berwarna merah. Itu warna kesukaan Freya.

__ADS_1


Arby memasukkan lagi barang-barang itu, mengunci semua lemarinya dengan kode, lalu menutup pintu dan menguncinya juga.


Dia kembali ke kamarnya, melihat Freya yang tidur. Dia mengusap kepala Freya. Kepala yang dulu pernah botak, kini rambut indah kembali tumbuh di kepala itu.


Rasa sakit saat mengingat itu membuat Arby meneteskan air matanya. Dia dan Chiro punya kamar rahasia sendiri, tanpa Freya tahu.


Air mata Arby tidak berhenti menetes, membelai lembut rambut hitam panjang itu. Di balik rambut indah itu, tentu saja ada bekas operasi.


Kehamilan Freya kali ini, membuat Arby gampang menangis. Tentu saja tidak menangis di hadapan Freya. Nanti, setelah Freya tidur nyenyak, saat bulan menemani langit malam.


Jujur saja, Arby juga takut saat proses persalinan nanti. Takut sast Freya harus masuk kembali ke ruangan yang membuat hati orang bergerak tak menentu.


Memang, dia pasti akan menemani Freya di dalam ruang persalinan itu, seperti dulu dia menemani Freya saat melahirkan Chiro.

__ADS_1


__ADS_2