
Malam harinya
"Chiro bobo, ya?"
"Iya, Mommy."
Freya dan Arby tiduran di sebelah Chiro. Dan saat anak itu sudah tertidur nyenyak, mereka pelan-pelan meninggalkannya.
Mereka masuk kamar dan berganti baju. Arby melihat Freya yang sudah menguap beberapa kali. Besok Freya ada jadwal praktek pagi-pagi, jadi mau ngajak bikin dedek Chiro, merasa kasihan.
"Kamu tidur, kan besok harus ke rumah sakit. Besok aku antar."
"Enggak apa aku tidur?"
"Iya."
"Yakin?"
"Enggak."
Freya melirik Arby, merasa gemes dengan pria ini.
"Habis besok kamu ada jadwal operasi, sih. Aku kan enggak mau kalau malam ini hanya satu ronde. Ya minimal sepuluh ronde dengan durasi satu jam peronde."
Mendengar itu Freya langsung merasa ngilu. Dia buru-buru menarik selimut sebelum khayalan Arby itu terjadi.
Arby cekikikan sendiri, lalu memeluk Freya.
Satu jam kemudian
Arby gelisah, bukannya karena Arjun yang demo menuntut hak, tapi karena tidak ada Chiro. Dia ingin ke kamar Chiro, tapi kalau itu dia lakukan, bukan solusi yang baik.
Di kamar sebelah
Chiro juga tidak bisa tidur. Tidak sampai sepuluh menit Arby dan Freya keluar, dia terbangun dan tidak melihat Arby. Dia terus duduk di atas kasurnya.
Chiro lalu ke luar dari kamarnya, dan berdiri di depan pintu kamar kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Tangannya sudah ingin mengetuk pintu, tapi dia tahan.
"Daddy ...," gumamnya pelan.
Chiro lalu duduk di depan pintu, menahan kantuk yang mendera. Kepalanya sedikit-sedikit terkulai, lalu jatuh ke lantai dan tertidur di depan pintu itu. Sesekali dia terbangun, lalu kembali tidur.
Di dalam, Arby merasa gelisah. Dia benar-benar ingin ke kamar Chiro, tapi tetap dia tahan. Arby yang sejak tadi terus bergerak gelisah, membuat Freya terbangun.
"Kamu belum tidur?"
"Ini mau tidur."
Freya melihat wajah Arby, dan teringat Chiro.
"Kamu mau ke mana?" tanya Arby
"Mau ke kamar Chiro."
Mereka membuka pintu, dan melihat Chiro yang meringkuk di depan kamar dan kedinginan.
Mata Arby langsung memerah, dia menggendong tubuh kecil anaknya itu.
"Bawa ke kamarnya saja," ucap Freya. Dia mencari kotak obat dan langsung memeriksa keadaan Chiro.
Diambilnya termometer, dan dilihatnya suhu tubuh anak itu.
"Sedikit demam, tidak tinggi."
Freya memasangkan stiker pengompres di kening Chiro, dan mengucapkan minyak ke perut dan punggung Chiro agar hangat.
"Maaf daddy, Chiro. Ini salah daddy."
"Bukan salah kamu, atau salah Chiro, tapi salahku."
"Hei, kenapa bicara begitu. Ini juga bukan salah kamu."
"Chiro memang tidak bisa dilepas begitu saja. Sebaiknya kita tetap tidur dulu bersama dia, tapi di kamarnya sendiri. Nanti pelan-pelan baru kita biarkan dia sendiri."
__ADS_1
"Baiklah."
"Daddy?" gumam Chiro.
"Ya, Chiro. Ini daddy. Chiro bobo, ya. Ada daddy dan mommy yang akan menemani Chiro."
Chiro kembali memejamkan matanya.
"Apa dulu Chiro sering sakit?"
"Tidak, dia hanya akan rewel saat tumbuh gigi. Waktu mau tumbuh gigi graham dulu, dia sampai diare dan muntah-muntah."
"Kata pertama apa yang dia ucapkan saat mulai bicara?"
"Dad. Lalu mom."
Arby kemudian menceritakan masa kecil Chiro pada Freya.
"Chiro waktu masih umur satu tahunan, suka sekali makan puding coklat."
Freya memperhatikan wajah Arby saat menceritakan tentang Chiro, kadang terlihat berbinar, kadang terlihat sedih.
Arby tiba-tiba terdiam dan melihat Freya.
"Sudah jam segini, Frey. Kamu harus tidur sekarang."
Freya lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Chiro.
"Ayo sini aku kelonin, biar cepat bobo kaya Chiro!"
"No! Kamu ngelonin aku beda lagi. Semuanya diempok-empok sama kamu."
"Uluh-uluh, pinter banget si bebeb Arby ini. Ayo mau DP dulu, sekalian dicicil."
"Kamu kira rumah dan kendaraan, di-DP terus dicicil!"
"Ya sudah, aku kasih cash. Arjun mah stok kecebongnya banyak."
__ADS_1