
Freya terpaku pada replika rumah itu. Didesign dengan sangat halus dan benar-benar detail.
Para tamu juga, mereka ingin sekali membeli replika itu, mau berapa pun harganya. Itu sebuah karya yang luar biasa.
Arby menekan sebuah tombol, dan replika itu berputar seperti komedi putar. Tepuk tangan tiada henti, membuat senyum di wajah Arby semakin mengembang.
"Tuan Erlangga, apa kami bisa memesan yang seperti ini?"
Sistem akutansi di otak Arby langsung berjalan. Berapa keuangan yang bisa dia peroleh? Tapi dia juga tidak mau ada yang menyamai apa yang dia berikan untuk Freya.
"Saya akan membayar berapa pun."
"Ambil saja, Yang. Lumayan uangnya buat beli pula dan kapal pesiar. Aku juga mau pesawat pribadi," ucap Freya, tanpa bisik-bisik.
Sengaja, membuat para wanita ketar-ketir karena iri. Arby, si suami bucin langsung manggut-manggut.
"Bisa, tapi tentu saja tidak boleh sebesar milik istriku, juga tidak akan semewah punyanya."
__ADS_1
Dia akan selalu menempatkan Freya dalam urutan pertama. Enak saja mau menyamai punya istrinya.
Sahabat-sahabat Freya menahan tawa, begitu juga dengan kakak dan adiknya. Mereka tahu, banyak perempuan yang sudah seperti cacing kepanasan. Mereka iri, sirik dan dengki.
"Sebagai penutup acara ini, aku akan melelang sebuah perhiasan."
Perhiasan yang dilelang adalah sebuah bros. Meski kecil, tapi bros itu sangat mewah. Hasilnya akan Arby sumbangkan ke yayasan milik mereka juga untuk anak yatim piatu dan klinik.
Sebagai tanda syukurnya, Arby juga memberikan beasiswa untuk tiga ratus anak yang tersebar di seluruh negeri. Yang benar-benar dipilih secara selektif, dari berbagai usia.
Bagi Arby harta yang paling berharga adalah istri dan anak-anaknya. Jika tidak ada mereka, maka untuk siapa harta itu? Buat siapa harta yang dia dapatkan?
Akiko mengepalkan tangannya, dia tidak terima dengan apa yang Freya miliki.
Dia meminta ayahnya untuk ikut acara pelelangan itu. Dia ingin memiliki bros itu.
Ikmal dan yang lain, sudah memasang harga tinggi. Bukan, bukan karena mereka mau bros itu, tapi agar bros itu semakin memiliki harga jual yang tinggi.
__ADS_1
Arny harus berterima kasih pada kami.
"Apa yang akan kita dapatkan dari Arby sebagai bentuk terima kasihnya?" tanya Vian.
"Paling nanti dia bilang begini, 'Kalian bokeh menganggap anakku seperti anak kalian sendiri.' Terus nanti ujung-ujungnya dia menitipkan Chiro dan adiknya, dia malah enak-enakan bikin adik bayi lagi sama Freya."
Mereka tertawa pelan. Sudah bisa ketebak dah, bagaimana Arby nanti akan mengatakan hal seperti itu.
"Kenapa dia tidak bilang, 'Anggap saja istriku seperti istri kalian sendiri.' Awww, sakit!"
Mereka menoleh ke belakang, dan ternyata Arby yang mengeplak kepala kalian.
"Bercanda, Ar."
Wajah Arby sudah terlihat galak. Ikmal tidak peduli dengan kesakitan yang Marcell dan Vian rasakan, suruh siapa bercanda membawa nama Freya. Sudah tahu sendiri Arby itu berkuping tajam jika menyangkut Freya. Freya nyasar di rumahnya sendiri saja dia sudah menangis bagai kucing jangan kehilangan kucing betina.
"Jangan ngambek, nanti gantengnya hilang," bujuk Marcell, yang membuat Nania merinding geli mendengarnya. Jangan-jangan Marcell sudah tidak normal.
__ADS_1