
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kehamilan Freya. Mereka dan Chiro sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Arby sudah tidak sabar melihat anaknya di monitor, begitu juga dengan Chiro.
"Adiknya laki-laki atau perempuan, Dad?"
"Enggak tahu, Sayang. Mau laki-laki atau perempuan, Chiro tetap sayang pada adik bayi, kan?"
"Iya. Tapi Dad, Chiro mau punya adiknya tiga."
Wajah Arby langsung cerah, berarti dia dan Freya harus lebih aktif lagi melakukan proses produksi.
Maumu!
Freya mendengus melihat ekspresi Arby. Mereka lalu masuk ke ruangan dokter kandungan.
Sebenarnya Freya ingin dokter yang menanganinya adalah sahabatnya, tapi Arby menolak. Bukannya apa-apa, karena dokter yang menangani Freya saat ini adalah dokter yang dulu juga menangani Freya, jadi dia sudah sangat tahu tentang kondisi Freya yang hamil di usia sangat muda dan pernah mengalami keguguran.
Mengingat masalah keguguran, Arby jadi pucat. Itulah sebabnya dia sangat protektif pada Freya. Arby belajar dari pengalaman, pengalaman saat kehamilan pertama, dan hamil Chiro.
"Selamat siang, Dok."
"Bagaimana kabar kalian?" tanya dokter itu, yang masih kerabat Arby.
"Baik, Aunty."
"Kau ada keluhan, Freya?"
__ADS_1
"Enggak ada, aku enggak pernah mual dan muntah juga. Cuma suka ngantuk saja."
Ya tentu saja Freya tidak mual dan muntah, karena yang mual dan muntah itu Arby.
Ayo kamu timbang dulu. Setelah ditimbang, lalu dilakukan pemeriksaan yang lainnya, seperti tensi, dan setelah itu Freya membaringkan tubuhnya di atas brankar.
"Ini janinnya, ya. Sehat semuanya."
"Adik aku laki-laki atau perempuan?"
"Tunggu, ya."
Mereka terus memperhatikan layar itu.
"Wah, adik bayinya lagi ngumpet nih, jadi belum kelihatan apa laki-laki atau perempuan."
"Mommy, kan yang biasa main petak umpet itu perempuan, ya? Pasti adik bayi perempuan, dia juga centil suka lihat pria tampan seperti aunty Nania."
Hening, mereka mencerna perkataan Chiro. Arby manyun mendengar perkataan Chiro. Bukan karena Chiro bilang adiknya itu perempuan, tapi karena Chiro bilang adiknya itu suka melihat pria tampan, dan centil seperti Nania.
Dasar Nania biang kerok! Centil mah centil saja, kenapa harus ajak-ajak anak aku!
Aku harus memberikan banyak pengawal untuk anakku, agar tidak ada pria yang menggodanya.
Sudah terlihat jelas, kalau Arby akan sangat posesif pada anak perempuannya itu.
__ADS_1
Dia pasti sangat cantik seperti Freya.
Dia juga jadi teringat, dulu juga dia sudah sangat suka pada Freya, saat mereka masih sangat pitik.
Jadi, sebenarnya yang genit itu siapa?
Ekspresi Arby yang kadang senyum kadang cemberut itu membuat Freya dan Chiro merinding.
"Mommy, apa daddy sedang kerasukan arwah ibu hamil?"
Aunty Caca langsung mengusap tengkuknya, dia jadi ingat, beberapa hari yang lalu ada ibu hamil yang meninggal karena kecelakaan. Dia lalu berdeham, dan menepuk Arby dengan kencang.
"Apaan sih, Ty, bikin kaget saja."
"Kamu yang apa-apaan, bikin orang takut saja."
"Emangnya aku hantu?"
"Stop, Arby. Jangan bergosip di rumah sakit."
"Dih, siapa yang gosip. Aku kan hanya nanya, emangnya aku hantu?"
Arby belagak polos, padahal dia sangat tahu, aunty-nya yang seorang dokter itu, seorang penakut.
Dia menahan tawanya melihat wajah aunty-nya yang sedikit pucat.
__ADS_1
Dokter kok takut hantu.