Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
229 Tembakan


__ADS_3

Di rumahnya, Freya merasa tidak tenang. Kenapa sampai jam segini, Arby dan anak-anaknya belum ada yang pulang juga. Jasanya suaminya itu akan rajin menghubungi dirinya tanpa diminta.


Dia lalu mencoba menghubungi Arby, tapi tidak bisa. Menghubungi Chiro, tapi ponsel Chiro mati. Dia lalu mencoba menghubungi kantor Arby.


"Tuan sedang meeting, Nyonya."


Untung saja Didi sudah diberi tahu lebih dulu oleh Arby, agar mengatakan dirinya meeting saat Freya menelepon.


Freya lalu mencoba menghubungi sahabat-sahabatnya, tapi ....


Ck, siapa yang sudah berani menyabotase ponselku!


"Berikan ponsel kalian!" ucapnya pada para asisten rumah tangga.


Ponsel mereka juga ternyata sudah disabotase.


"Nyonya, Nyonya mau ke mana?"


"Perusahaan."


"Maaf, Nyonya, tapi tuan meminta Nyonya untuk diam di rumah saja."


"Memangnya kenapa?"


"Tuan khawatir Nyonya akan kelelahan."


"Minggir, jangan menghalangi jalanku."


"Mereka membentuk barisan untuk menghalangi Freya, membuat Freya curiga."


Perempuan itu lalu kembali ke kamarnya.


"Mereka pikir, aku bodoh?"


Freya mengambil ponsel lain dari tasnya, lalu menghubungi yang lain.


[Mereka juga belum ada yang pulang.]


[Dari tadi susah dihubungi.]

__ADS_1


Freya lalu meletakkan ponselnya, dan meretas ponsel Arby dan melacaknya.


Perut Freya terasa keram saat mengetahui kalau anak-anak itu diculik.


"Aw, aduhh, sakit!"


"Bi, Bibi!" teriak Freya.


Freya menghubungi sahabat-sahabatnya, meminta mereka untuk datang ke rumahnya sekarang juga.


Hampir satu jam kemudian Nuna dan yang lainnya datang.


"Coba tenangkan diri kamu dulu, Freya."


Rei memberikan Freya teh hangat manis dan mengusap pelan perut Freya.


Dalam hati, mereka juga tentunya sangat khawatir.


Di sana


Beberapa bodyguard sudah berhasil masuk ke dalam kapal tepat waktu. Sisanya ada di darmaga. Mereka yang ada di dalam kapal, kini kembali bertarung.


Berkat kerja keras ketiga anak yang lebih dewasa, kontainer itu bisa sedikit penyok di bagian pintunya.


Tiga orang penjahat masuk ke dalam kontainer dengan memegang senjata api. Salah satunya mengarahkan kepada si kembar.


Chiro menutupi tubuh adiknya, menjadikan dirinya sendiri tameng.


Pria itu menarik tubuh Sachi.


"Lepaskan adikku!"


"Lepasin abang!" teriak Ichi.


Bruk


Pria itu mendorong tubuh Ichi hingga anak itu jatuh dan keningnya berdarah.


"Cakit!"

__ADS_1


"Kamu melukai adikku!"


Chiro langsung menendang bagian vital pria itu.


"Anjing, sakit sialan!"


Pria itu ingin menampar Chiro, tapi Chiro berhasil menghindar.


"Jaga adik-adik," ucap Radhi pada Raine.


Radhi dan Rai membantu Chiro, mereka menendang dan memukul.


Penjahat yang jatuh itu, langsung dikeroyok oleh anak-anak kecil itu.


Dor


Salah satu penjahat melepaskan tembakan, hampir mengenai Raine.


Para bodyguard yang mendengar suara tembakan, menjadi panik. Mereka semakin memperkuat serangan.


"Bawa kedua anak kembar ini!"


Ichi dan Ishi digendong paksa.


"Lepaskan adik-adikku!"


Mereka memasukkan anak-anak itu ke dalam kontainer yang baru. Yang lebih kuat.


"Tutup pintunya."


Sebelum pintu itu tertutup rapat, Chiro mengganjalnya dengan pulpen di bagian bawah pintu, agar ada sedikit celah.


Ichi masih menangis, kepalanya mengeluarkan banyak darah.


"Jangan nangis, ada Abang di sini. Ichi makan dulu, ya."


Anak itu mengangguk. Chiro membagi-bagikan makanan yang masih ada ke semuanya. Masalah sakit perut, urusan belakangan, yang penting tidak ada yang pingsan karena kelaparan dan kehausan.


Mommy, Daddy ....

__ADS_1


__ADS_2