Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
135 Singkong Mahal


__ADS_3

Arby mengelus perut Freya yang masih rata.


"Kapan perut ini akan membesar? Apa dia kekurangan gizi? Mungkin kamu kurang makan? Apa susunya kurang? Apa dia ngambek? Atau dia diet?"


Freya menghela nafas berkali-kali, mendengar pertanyaan Arby yang sama selama berhari-hari.


Arby kembali menoel-noel perut Freya dengan telunjuknya.


"Baby, ayo cepat besar. Nanti kalau kamu lahir, daddy berikan kamu hadiah."


Sementara Arby sibuk dengan perut Freya, perempuan itu sibuk mengunyah singkong rebus super mahal.


Bukan membelinya dengan harga mahal, tapi ....


Ikmal yang mencabut singkong itu langsung dari kebun.


Vian yang mengupasnya, dan memotongnya dengan ukuran yang harus sama.


Marcell yang merebusnya dengan tingkat kematangan yang sesuai diinginkan Freya.


Moco yang melakukan menatanya di piring dengan bagus ala restoran mahal.


Marva dan Agam juga punya tugasnya sendiri, yaitu membersihkan apa yang berantakan.


Mahal kan?


CEO dan dokter mana yang mau melakukan hal itu? Sanggup bayar mereka berapa?

__ADS_1


Bibir mereka terus komat-kamit membicarakan ibu hamil itu.


"Sumpah, aku pengen cepat-cepat nikah, nanti aku suruh istri aku menyiksa Arby. Istrinya yang hamil, kenapa kita yang repot? Nyumbang benih dan ikut bikin dedek bayi saja enggak?"


Pluk


Kulit singkong yang masih banyak tanahnya itu mendarat di atas kepala Vian.


Vian mendengkus. Tangan mereka masih penuh dengan tanah, karena Freya bilang, "Belum lengkap rasanya kalau makan singkong tanpa makan ubi."


Jadinya sekarang mereka harus panen ubi.


"Apa dia enggak bosan ya, sering makan ini?" tanya Marcell.


Di klinik, mereka yang tidak mampu, kadang memberikan hasil panen mereka, dan itu masih berlanjut sampai sekarang.


Arby mendengus saat Freya menyebut dokter ganteng. Itu bukan Marcell, tapi Agam.


Mereka sedang berlibur di vila. Arby memperluas kebunnya, dan menanam banyak pohon buah dan sayur. Itu juga memperluas lapangan pekerjaan untuk warga setempat.


Arby sudah mewanti-wanti agar tidak ada ular di kebun itu. Para pekerja di sana juga boleh mengambil hasil panen, tanpa perlu membayar. Dan sebagian hasilnya akan dijual ke supermarket dan restoran.


Kebun yang ini, sudah Arby siapkan sejak dulu, dan memang dia rencanakan untuk diberikan pada anaknya yang masih dalam perut Freya.


"Kalua setiap Freya hamil, terus punya kebun, apa jadinya kalau mereka benar punya sepuluh anak?"


Mereka langsung membaringkan tubuh mereka di tanah, tidak lagi peduli dengan kotor.

__ADS_1


CEO kok disuruh nyabut singkong dan ubi?


"Kira-kira, anak mereka laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki atau perempuan, tetap saja bakalan galak kaya orang tuanya."


Mereka melirik Arby, yang kerjanya cuma ngelus-ngelus perut Freya.


Sedangkan keluarga yang lain, tidak ada yang mau membantu.


Para perempuan juga sibuk ngerujak sambil maraton drama Korea.


"Dasar mesum. Mereka itu, bukan tertarik sama jalan ceritanya. Tapi pengen nonton adegan kiss-nya tuh. Yang kaya begituan ngapain ditonton? Praktek dong sini langsung sama aku," ucap Marcell.


Marcell langsung memonyongkan bibirnya sambil merem.


Dan benar, ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Ubi dengan ukuran besar dan tanah menggumpal di kulitnya.


"Anjirr, jorok woy!"


"Makan tuh tanah!" ucap Nania puas. Marcell membersihkan bibirnya, lalu mengejar Nania.


"Nania, ayo kita ciuman. Dari pada kamu penasaran gimana rasanya."


Nania semakin lari dengan kencang.


Bruk

__ADS_1


Marcell terjatuh saat Nuna dan Aruna menjengkal kakinya. Nuna dan Aruna hanya nyengir saja, sedangkan Anya dan Vanya tertawa.


__ADS_2