
"Ni nu ni nu ... mici-mici olang ganteng mau lewat."
Si kembar berlarian di loby kantor, membuat para karyawan harus menyingkir.
Teriakan para bocah itu membuat loby seperti tempat penitipan anak.
"Abang, Abang, liat nih aku bisa goyang ngesot."
"Itu bukan goyang ngesot, tapi ngepel lantai."
"Kalo goyang nyapu lantai gimana, Bang?"
Sachi langsung memberikan contoh, yang membuat orang-orang meringis. Ketiga anak itu guling-gulingan di loby kantor yang sudah pasti dilalui banyak orang, jadi lantainya kotor.
"Nanti mommy marah, ayo bangun anak-anak" ucap Arby.
"Daddy, coba Daddy goyang pakum klinel, bica gak?"
Arby jadi membayangkan goyang vacuum cleaner.
Yang ada di dalam pikirannya, dia sedang menjadi vacuum cleaner di kasur, menjelajahi body seksi istrinya itu.
Tanpa sadar pria itu terkikik, kan kan kan jadi pengen. Aksi anehnya itu tidak luput dari perhatian orang-orang.
"Daddy, lagi apa?" tanya si bontot Ishi.
Buyar sudah khayalan Arby, seperti debu yang kembali bertebaran setelah disedot oleh si vacuum.
"Daddy, Daddy, Ichi udah bisa ...."
"Iya, iya, anak-anak Daddy pada pintar semuanya, ya." Kalau tidak dipotong, bisa-bisa anaknya itu pamer semua jurus aneh yang mereka bisa.
"Antik, kalau kamu kupu-kupu, aku adalah sayapnya yang akan buat kamu telbang."
__ADS_1
Tuing ....
Arby mendadak oleng.
"Kalian, sejak kapan kalian berani merayu seperti itu?"
"Balu aja, kan tadi udah bilang sama Daddy, kata Daddy iya, iya, anak Daddy pintal semua."
"Kita kan juga mau melayu mommy, Daddy. Kan Daddy kalau minta jatah sama mommy, pasti melayu dulu."
"Padahal kan Daddy makannya banyak, ya. Macih aja minta jatah."
"Pokonya kita juga minta jatah ah, ama Mommy, bial dikacih yang lebih banyak dali Daddy."
"Kalau mommy bulan?"
"Kita caayanya."
"Daddy galamnya, ya?"
"Acin, dong?"
Arby buru-buru menggendong si kembar, mana sopir lama banget lagi!
Steven dan Didi mules, woy.
Steven lagi-lagi kebagian jatah menggendong Sachi. Chiro sendiri lagi berpikir, dia sekarang punya saingan yang banyak untuk berebutan Freya.
"Kalau mommy ...."
"St, diam kembar."
Bisa malu si Arby. Mana jatah dibawa-bawa. Memangnya mereka tahu apa sih, jatah yang Arby maksud.
__ADS_1
"Kalau mommy poon jambu?"
"Daddy ulat bulunya."
"Ih, atel."
"Kalian mau belajar merayu mommy atau mem-bully Daddy, sih?"
Untung anak, kalau enggak Arby paketin ke Kutub Utara.
"Kalau mommy ...."
Arby langsung mencium gemes pipi si kembar.
"Kalau mommy pelangi, kita adalah warnanya, dan Daddy adalah geledeknya." Arby lupa kalau masih ada Sachi yang masih bebas dari dekapannya.
Ya ampun honey, tiruan siapa anak-anak ini?
Arby memasukkan anak-anaknya ke dalam mobil, lalu ikut duduk dan melonggarkan dasinya.
"Chiro Sayang, semoga adik kamu yang masih di dalam perut mommy nanti perempuan, ya."
Chiro melirik Arby. Dia juga ingin punya adik perempuan. Ingin membelikan boneka yang bagus-bagus dan menyuapi adik perempuan.
"Daddy, ayo kita beli boneka. Siapa tahu saja yang ini perempuan."
"Ayo. Sachi, Ichi, Ishi, kita ke toko mainan dulu, ya."
"Asyik, beli mainan."
Sudah bisa dipastikan kalau uang Arby akan terkuras. Tidak masalah, karena dia bekerja memang untuk istri dan anak-anaknya.
Sachi dan si kembar nyanyi-nyanyi dalam mobil, meski tidak jelas juga apa yang mereka nyanyikan itu.
__ADS_1