Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
43 Rahasia Masa Kecil


__ADS_3

Seorang anak kecil berwajah putih bersih dan imut duduk di bawah pohon. Kakinya mengayun pelan, seirama dengan poni yang bergerak karena tertiup angin. Rambutnya dikuncir kuda, dengan pita berwarna merah. Sesekali anak itu menghembuskan nafas berat, seolah hidupnya penuh masalah di usia yang masih sembilan tahun, namun sikap dan caranya berpikir lebih dewasa dari umurnya, karena didikan dari opa omanya.


"Eya, kamu kenapa?"


"Aby, kamu ngagetin aku saja!"


Pria kecil yang dipanggil Aby itu mencubit gemas pipi chuby Eya.


Nama lengkap mereka adalah Freya Canaya Zanuar dan Arby Erlangga Abraham. Aby mengayunkan pelan ayunan yang diduduki oleh Eya.


Mereka memanggil Aby dan Eya hanya saat berdua saja, seperti saat ini.


"Kamu kenapa, Eya?"


"Ck, aku kesal."


"Kesal kenapa?"


"Setiap kali ikut ke pesta bersama opa dan oma, pasti ada saja teman-teman mereka yang ingin menjodohkan aku dan anak atau cucu mereka. Ada yang katanya calon dokter, calon CEO perusahaan keluarga mereka, pilot. Banyak lah, pokoknya."


"Terus, opa bilang apa?"


"Opa hanya diam saja sambil tersenyum. Tapi aku rasa, aku akan dijodohkan dengan salah satu dari orang-orang yang ditawarkan kepada opa dan oma."


"Lalu, kamu mau?"


"Aku mana mungkin bisa menolak keinginan opa dan oma. Mereka sudah mengatur semuanya tentang diriku. Jurusan apa yang harus aku ambil saat kuliah, di universitas mana, calon suami yang seperti apa, kursus apa, apa saja yang harus aku pelajari ...."


"Berarti kamu mau?"


"Ya mau enggak mau, harus mau."


Entah kenapa Aby merasa tidak suka mendengarnya.


"Tapi kalau kamu tidak menyukai dia, bagaimana?"


"Hmm, ya mana aku tahu."


Tiba-tiba saja Eya mendekatkan wajahnya pada Aby, yang membuat pria itu langsung berdebar.


"Jangan-jangan ...."


"Jangan-jangan apa?"


"Jangan-janagn kamu juga salah satu kandidat yang akan dijodohkan denganku."


Mata Eya mengerjap-ngerjap lucu, dan sekali lagi jantung Aby berdetak tak karuan.


"Opa omaku dan grandpa grandmamu kan sahabat."


Aby tersenyum dengan warna merah merona diwajahnya.


"Tapi bisa juga sama Ikmal, sih, keluarga mereka juga akrab dengan keluargaku," ucap Freya sambil terkikik geli.


Arby mendengkus pelan, setelah dibuat melayang oleh gadis kecil berumur sembilan tahun itu, kini dihempaskan lagi ke tanah berbatu.


"Aby?"

__ADS_1


"Hm?"


"Kamu suka sama aku, enggak?"


"Suka dong, kita kan teman."


"Kalau gitu kamu saja yang menikahiku, bagaimana? Kamu bujuk grandpamu untuk melamarku pada opa."


"Kita masih kecil, Eya."


"Ya enggak sekarang, lah. Opaku mana mungkin menikahkan aku di usia yang masih sangat muda, bahkan jika aku sudah lulus S2 pun, aku tidak mungkin langsung menikah. Opa dan oma pasti mau aku meniti karir lebih dulu."


Mereka terdiam sesaat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Pembicaraan yang terdengar lucu karena diucapkan oleh sepasang anak kecil. Salah satu alasannya karena Freya memang sering diajak oleh opa omanya ke pesta-pesta perusahaan dan meminta secara khusus agar Freya menjadi bagian keluarga mereka nanti. Bukan hanya masalah bisnis saja yang sering Freya dengar.


Dia jadi berpikir, mungkin dalam hal bisnis, perjodohan itu sudah biasa. Dirinya yang seharus bermain dan menonton film kartun, harus yerbiasa mendengar pembicaraan masalah perjodohan, mengira-ngira, siapa yang nanti akan menjadi jodohnya. Melihat dari kesempurnaan opa omanya, tentu di pikirannya juga sudah didoktrin untuk mencari yang sempurna.


"Masih ada waktu lima belas hingga dua puluh tahun lagi. Kamu harus jadi orang yang sukses. Opa dan omaku tidak mungkin menikahkan aku dengan sembarang orang, meski itu cucu sahabat mereka sendiri. Pria itu harus sukses dengan usahanya sendiri, dan membuka perusahaan sendiri."


Freya sendiri juga tidak mengerti kenapa dia yang harus dituntut ini itu oleh opa omanya, dan semua sudah diatur oleh mereka, sedangkan dia masih memiliki kakak dan adik perempuan.


Curhatan anak kecil yang mungkin asal bicara karena tak paham makna sebenarnya dari pembicaraan itu, lalu besok lupa dan biasa-biasa saja.


Lagi-lagi dia berbicara layaknya orang dewasa, seperti ketika dia ditanya tentang bisnis, saham, jatuh tempo, royalti, oleh opanya. Atau apa itu sel darah merah dan sel darah putih, apa itu pankreas, usus besar, usus dua belas jari oleh omanya.


"Tenang saja, aku akan memberikan perusahaan padamu dengan usahaku sendiri."


"Perusahaan apa?"


"FJ."


"FJ?"


"Janji?"


"Janji."


"Baiklah, tapi hingga lima belas tahun lagi, kamu tidak boleh berpacaran dengan siapapun, tidak boleh menyukai perempuan mana pun. Aku tidak mau barang bekas."


"Oke."


Freya, yang sejak masih kecil selalu dituntut kesempurnaan oleh opa omanya, membuat dia terbiasa dengan sesuatu yang sempurna.


Yang baginya, sesuatu yang sempurna itu juga harus sesuatu yang baru, bukan bekas orang. Jadi dia tidak ingin memiliki pasangan yang telah menjadi milik orang lain sebelumnya, meski itu hanya berpacaran.


"Jadi, kamu berjanji, kan, saat dewasa nanti akan menikahiku?"


Arby yang usianya memang lebih tua dari Freya, dan melihat bagaimana om dan tantenya yang menjalani perjodohan karena bisnis, tentu lebih mengerti. Bahkan ada sepunya yang sejak masih kecil, sudah dijodohkan.


"Iya."


"Jangan sampai ingkar janji."


"Iya."


"Kalau kamu ingkar dan menyakiti hatiku, aku akan bilang pada opa dan oma."


"Iya."

__ADS_1


"Jangan ceritakan ini pada siapa pun, termasuk Nuna dan Ikmal. Ingat, ini rahasia antara kita berdua saja."


"Iya, ini akan menjadi rahasia kita berdua saja."


"Kamu hanya boleh mengingatnya dalam hati dan pikiranmu saja."


"Iya Eya, iya."


Aby sangat gemas dengan gadis yang ada di depannya itu.


"Aku tidak akan bilang pada siapaun kalau kamu memintaku untuk menikahimu nanti."


Arby langsung tertawa melihat wajah Freya yang cemberut dengan mata yang melebar kesal.


"Aby! Aku enggak pernah bilang gitu, ya. Kalau kamu enggak mau, ya sudah."


"Eh, jangan ngambek, dong. Aku kan hanya becanda. Ini janji aku sendiri, bukan karena kamu yang meminta. Kalau pun kamu enggak bilang, aku tetap akan menikahimu nanti, saat kita dewasa. Aku akan belajar yang rajin agar selalu mendapat nilai yang bagus. Aku akan membuat perusahaan sendiri yang akan go ingernasional dan memberikannya padamu."


"Jangan sampai lupa dengan janji kita!"


"Iya, aku enggak akan lupa. Jangan-jangan nanti malah kamu yang lupa dengan janji kita, dan melupakan aku."


Freya terdiam sesaat.


"Hm, kalau aku lupa, kamu tetap harus mengingatnya dan menepatinya. Enggak boleh lupa apalagi mengingakarinya hanya karena aku tak ingat."


"Baik, aku tidak akan melupakannya. Akan aku tepati meski rintangannya begitu berat."


"Kalau pun aku tetap melupakannya seumur hidupku, berjanjilah akan selalu berada di sisiku. Jangan membenciku dengan apa yang aku lakukan."


"Iya, meski kamu melupakanku seumur hidupmu, aku lah yang akan selalu mengingatmu dan menjagamu seumur hidupku."


"Janji?"


"Ya. Aku yang akan melengkapi hidupmu. Aku yang akan menjadi buku harianmu. Jadi, jika tiba waktunya kamu bertanya tentang masa lalu, aku yang akan memberikan jawabannya. Jika kamu kehilangan arah, aku yang akan menjadi kompasmu. Jika kamu tersesat, aku yang akan menjadi petamu. Jika kamu takut melangkah, aku yang akan menjadi kakimu. Aku tempatmu pulang."


"Kalian berdua ngapain di sini?" tanya Nuna yang datang bersama Ikmal.


"Lagi ngomongin SMP yang akan kita masuki sebentar lagi," jawab Arby.


"Ayo kita kembali ke kelas."


Mereka berjalan di koridor. Di depan, Nuna dan dan Ikmal jalan bersama sambil berxanda, sedangkan di belakang mereka, Arby dan Freya berjalan sambil berbisik-bisik.


"Ingat, kamu tidak boleh lupa, dan ini rahasia kita berdua," ucap Freya.


"Iya, kamu juga jangan sampai lupa."


Tak mendengar jawaban dari Freya, membuat pria itu memandang lekat pada bola mata bening itu. Freya hanya memberikan senyumannya, senyuman yang selalu membuat Arby merindukan dirinya.


"Maaf, jika nanti aku sendiri yang lupa, bukan mauku seperti itu."


"Aku memaafkanmu, dan tak akan pernah melupakan dan meninggalkanmu, meski kamu yang melupakanku seumur hidupmu."


Tangan kecil itu saling menggenggam, rahasia anak kecil yang belum memahami banyak hal, namun telah terikat janji.


Seperti sebuah firasat, karena dua hari kemudian semua tak lagi sama. Rahasia itu tetap terjaga dan hanya diingat oleh salah satu pihak saja.

__ADS_1


Bahkan, hingga lima belas tahun kemudian, tetap tersimpan rapih dalam hati dan pikiran Arby, tanpa ada satu orang pun yang tahu.


__ADS_2