Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
214 Peluk, Dong


__ADS_3

Ti J menggendong Sachi, Ichi dan Ishi yang kasih tidur. Sedangkan Arby menggandeng Freya yang terlihat masih sangat mengantuk.


"Kita nginap di mana, apartemen kamu?" tanya Freya.


"Di hotel saja, deh. Biar kaya liburan. Sekalian meeting di sana dengan beberapa rekan bisnis."


"Untung saja mereka masih pada tidur, kalau enggak pasti minta langsung ke sana ke mari."


Kepergian mereka saat ini bertepatan dengan liburan musim semi. Banyak turis di berbagai negara yang juga berlibur ke sini. Sepanjang jalan penuh dengan orang-orang yang berjalan kaki. Belum lagi indahnya bunga sakura yang bermekaran dengan warna yang cantik.


"Udah campe ya, Daddy?"


"Iya, Sayang."


Begitu Ishi terbangun, Sachi dan Ichi juga ikut bangun. Mereka berdua langsung melihat ke luar jendela.


"Jangan duduk di atas perut mommy ya, Sayang. Kasihan mommy dan adik bayi."


Ichi dan Ishi langsung melihat perut Freya, lalu mengusapnya.


"Dede, kita jalan-jalan nih, nanti Dedek mau apa?"

__ADS_1


"Tuh Dad, tuh. Dedeknya mau mamam."


"Heleh, bilang aja kamu yang mau makan. Anak-anak Daddy ini kenapa banyak sekali makannya?"


Arby sangat gemas, lalu mencium wajah Sachi, Ichi dan Ishi juga tak lupa Chiro. Meskipun Chiro sudah lebih besar, bukan berarti sikap Arby pada anaknya itu akan berubah. Dia tetap si kecil Chiro yang menggemaskan.


Arby lalu meminta supir untuk berhenti di tempat makan. Kalau untuk urusan makanan, dia tidak mau menunda-nunda, jangan sampai anak-anak dan istrinya harus menahan lapar, meskipun bisa saja makan di restoran hotel.


"Kalian semua juga makan, jangan sampai nanti saat menjaga malah pada pingsan karena kelaparan," ucap Arby pada para bodyguard yang ada.


"Terima kasih, Tuan."


Ti J masih saja kesulitan makan dengan sumpit, akhirnya meminta sumpit. Bahasa Jepang mereka juga masih belepotan, sedangkan bahasa Inggris cukup fasih. Mereka yang bekerja lada kejauhan itu juga dituntut untuk bisa berbagai bahasa asing, untuk memudahkan komunikasi dengan orang-orang sekitar.


Dalam hati, Ti J itu sudah pada ketakutan. Mereka seperti akan ujian, diuji dengan bahasa asing tapi enggak tahu apa yang ditanya, apalagi harus menjawab apa.


"Kenapa wajah kalian bertiga sangat pucat?" tanya senior mereka.


"Enggak."


"Pasti pasti ketakutan karena enggak bis bahasa Jepang," jawab senior lainnya.

__ADS_1


"Eits, jangan fitnah," jawab Jan.


"Karena fitnah yang ini memang benar," sambung Jun.


Mereka menahan tawa, lucu dengan junior mereka itu.


"Makanya sebelum tidur sempatkanlah untuk belajar bahasa asing dulu."


"Pekerjaan kita kelihatannya tidak memiliki jenjang karir, begitu-begitu saja, menghabiskan waktu di lapangan ...."


"Tapi bukan berarti kita tidak berilmu. Bahkan mungkin kita ini lebih baik dari sebagian orang-orang. Bukannya sombong atau apa, itu karena kita dituntut untuk mahir berbagai bahasa asing."


Dalam hati, Ti J benar-benar merasa beruntung bisa bergabung di para senior mereka. Mereka sadar kalau sejak dulu bukanlah orang-orang baik. Pertemuan mereka dengan si kembar benar-benar membawa keberuntungan.


"Ya ampun, kalian bertiga nangis?"


"Nangis karena ketakutan?"


"Terharu, Bang. Peluk, dong."


"Dasar!"

__ADS_1


__ADS_2