
Menangis Semalam
Judul lagu yang Arby dengarkan. Bukan, bukan menangis semalam, tapi sudah bermalam-malam.
Dia setiap hari akan mual-mual. Bukan hanya karena kurang tidur, tapi juga kurang makan dan pengaruh kehamilan simpatik. Arby menolak diinfus, karena dia selalu teringat Freya jika melihat infusan.
Arby memejamkan matanya, membayangkan Freya ada bersamanya. Dan benar saja, dia merasa kepalanya diusap, pipinya dicium dan dia dipeluk dengan berat. Bahkan dia seperti melihat Freya yang ada di hadapannya, dengan memakai lingerie putih yang sangat tipis.
"Sayang, aku kangen. Jangan pergi lagi," gumam Arby.
Dia tahu ini hanya mimpi. Dia ingin tetap merasakan dekapan hangat itu.
Dia tidak ingin bangun, meski dia tahu, untuk pergi tidur dengan tenang lin pasti susah. Ini lebih buruk dari dulu. Dulu masih ada Chiro, yang akan menemani dia setiap hari.
Arby sangat khawatir dengan anak, istri, dan calon anaknya. Dia juga tidak bisa menyalahkan Freya. Setiap orang pasti akan berpikiran buruk, saat melihat pria dan wanita yang ada di dalam kamar hotel yang sama hampir naked. Jika dia melihat Freya dan pria lain yang seperti itu pun, dia pasti juga marah besar, bahkan mungkin akan langsung membunuh pria itu.
π§π§π§
Arby membuka matanya, melihat ke sampingnya dan ternyata Freya tidak ada. Itu memang hanya mimpi.
Arby berjalan dengan gontai menuruni tangga. Dia bisa tidur tadi malam, karena bermimpi tentang Freya.
Yang lain memutuskan untuk tinggal bersama Arby, menghibur pria itu yang nasibnya selalu ditinggalkan istri.
Marga pun sama merananya, ditinggalkan oleh perempuan yang dicintainya dan itu juga karena kesalahannya sendiri.
Mereka mencoba menghibur Arby dengan main game bersama. Melakukan kegiatan saat mereka masih sekolah dulu, dan membuat ruangan berantakan.
"Berisik banget, sih!" Suara lembut tapi ketus mengalihkan pandangan mereka.
__ADS_1
"Freya?"
"Kamu lama bangat bangunnya. Aku sudah nungguin dari tadi. Aku kan pengen makan bubur kacang hijau campur ketan hitam buatan kamu."
Arby menghela nafas berat.
"Bahkan saat aku bangun, aku masih membayangkan wajah Freya. Apa jangan-jangan aku masih tidur?"
"Ar ... Ar!" Ikmal menepuk pundak Arby, menyadarkan lamunan pria itu.
"Apa?"
"Itu, Freya minta bubur."
"Hah?"
"Itu, Freya minta bubur."
"Freya, kamu kemana saja? Kami semua khawatir."
Para pria itu satu persatu memeluk Freya. Memaafkan keadaan di saat Arby masih linglung, kalau enggak, mana mungkin mereka bisa memeluk Freya seperti itu.
Pluk
Pluk
Pluk
Bukannya membalas pelukan mereka, Freya malah menendang lutut mereka satu persatu.
__ADS_1
"Aku masih marah ya sama kalian. Kalau bukan karena aku pengen makan bubur kacang ijo buatan Arby, malas banget aku pulang."
"Mommy jangan marah, biar Chiro saja nanti yang memarahi mereka."
Arby langsung tersadar. Dia menangis dan langsung memeluk Freya.
πΈπΈπΈ
Mereka geleng-geleng kepala. Ajaib memang ibu hamil satu ini. Pergi dan pulang tiba-tiba, seolah sedang pergi piknik saja.
Freya pergi ke dapur untuk menambah bubur kacangnya.
"Kalian ke mana saja, Chiro?"
Chiro diam, ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Ayo bilang pada daddy, Chiro."
"Nanti kalau Chiro cerita, Daddy jadi ngambek dan sakit hati, terus marah."
"Enggak, daddy enggak ngambek dan enggak akan marah. Kalian ke mana saja?"
"Mommy kemarin lagi ngidam lihat cowok-cowok ganteng. Mommy dan para aunty hunting-hunting pria tampan bertubuh sixpack yang kata aunty Nania pelukable."
Mereka langsung membisu mendengar perkataan chiro, yang selalu jujur itu.
Wajah Arby langsung merah padam.
Tuhkan, ngambek!
__ADS_1