
"Bukan salah Chiro atau adik-adik."
Meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Arby tidak ingin mengalahkan anak-anaknya.
Yang bisa dia lakukan sekarang hanya berdoa, semoga semuanya baik-baik saja. Dia begitu mengkhawatirkan Freya dan calon anak mereka. Berharap kalau keduanya tidak sedang bahaya.
Tolong lindungi mereka, Ya Allah.
Mereka hanya bisa menunggu di luar, dengan perasaan cemas, bahkan sangat takut.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?"
Arby lalu menyuruh Didi untuk mengambil laptop dari dalam mobilnya. Setelah laptop itu di tangannya, Arby langsung memeriksa CCTV dengan kode rahasia.
Mereka melihat CCTV, di mana Sachi dan si Kembar yang menjatuhkan tepung dan mentega ke lantai. Kemudian anak-anak itu pergi ke ruang TV. Tidak lama kemudian, Freya yang berjalan dengan pelan, ternyata terpeleset karena tepung dan mentega itu.
Apa ini yang aku rasakan sejak tadi, tidak mau meninggalkan Freya dan anak-anak? Kalau saja aku tidak pergi, pasti semuanya akan baik-baik saja.
Arby benar-benar menyesali kepergiannya. Sekarang yang ada hanya penyesalan saja. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah terjadi, tidak bisa dicegah lagi.
Melihat banyaknya darah yang mengalir dari kaki Freya, Arby bisa menyimpulkan kalau pasti anaknya akan dilahirkan prematur.
__ADS_1
Berkali-kali Arby menghela nafas. Dia tidak sabar menunggu dokter keluar dan memberikan kabar yang bisa melegakan hatinya.
Para keluarga dan sahabat sangat paham dengan kegelisahan pria itu. Mereka pun sama cemasnya.
Sachi, Ichi dan Ishi yang tadinya sempat tertidur dalam pangkuan Marcell, Vian dan Agam, akhirnya terbangun. Tidak mau terjadi sesuatu yang mungkin bisa memancing hari yang sedang kalut, Ikmal akhirnya segera membelikan makanan dan minuman.
Tapi anehnya, anak-anak itu tidak ada yang mau makan dan minum. Mereka juga tidak banyak tingkah, hanya duduk diam dengan wajah sedih.
Mungkin mereka sadar dengan apa yang terjadi dengan mommy mereka. Meskipun masih kecil, tapi semua anak Freya itu sangat cerdas.
"Sayang, kalian makan, ya. Nanti sakit," ucap Arby.
Ini murni kecelakaan. Jika ada yang harus disalahkan, maka dia akan menyalahkan dirinya sendiri.
Mereka kagum dengan kesabaran Arby, yang tidak menyalahkan anak-anak atau melampiaskan kekesalan pada mereka.
"Daddy suapin, ya."
Arby lalu menyuapi Sachi, Ichi dan Ishi.
"Kamu juga makan, Chiro. Nanti Daddy suapin, ya."
__ADS_1
"Chiro makan sendiri saja."
Chiro mulai menyuap makanan. Bukan karena dia lapar, tapi karena tidak mau membuat Arby khawatir.
Daddy dan anak itu memang satu hati, mengerti dengan perasaan masing-masing. Chiro uang dibesarkan oleh Arby sejak bayi, tentu saja sangat paham dengan Daddy-nya itu.
"Daddy juga, makan." Chiro menyuapi Arby.
Arby menerima suapan Chiro. Bukan juga karena lapar, tapi karena tidak mau membuat Chiro merasa bersalah dan sedih.
Melihat mereka yang begitu kompak, yang lain merasa iri. Berharap kalau mereka juga akan sama seperti itu, selalu bersama apa pun yang terjadi.
"Kalian pulang saja, ya. Nanti kalau mommy dan adik bayi sudah lahir, Daddy kasih tahu."
"Gak mau puyang." Ishi mulai berkaca-kaca, dan Arby langsung menggendong anak itu.
"Iya, gak pulang. Jangan nangis, ya."
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan melihat kumpulan orang yang seperti sudah mengantri sembako.
"Bagaimana mana, Dok?"
__ADS_1
"Dokter Freya ...."