
"Kami sama-sama berjuang mewujudkan impian kami meski tak pernah lagi bertemu selama beberapa tahun, karena teman onarku ini pergi begitu saja meninggalkanku tanpa pamit. Tapi kami sama-sama tahu dan yakin, bahwa kami saling mendoakan dan percaya akan bertemu kembali di waktu yang tepat jika sudah sama-sama sukses."
Mico merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh Freya, teman sekolahnya yang tak pernah mengguruinya saat melihat dia merokok dan minum bir, sama-sama bolos dengan memanjat tembok belakang sekolah, dan kenakalan lainnya.
"Untuk Nuna, maaf atas kesalaha pahaman kecil antara kita dulu, dan untuk kalian yang pernah salah paham dengan permasalahan kami, aku minta maaf. Nuna tidak salah, dan selalu menjadi sahabatku yang baik."
Nuna menundukkan wajahnya, menahan buliran air yang akan menetes dari matanya.
"Untuk pernikahanku dengan Arby ...."
Arby mengeratkan genggamannya pada Freya, sambil menggeleng pelan. Dia tidak ingin Freya mengatakan apapun, bukan karena malu dan nama baik keluarga, tapi karena tidak ingin Freya dicap buruk oleh orang-orang, yang tak tahu apa-apa.
"Apa pun yang telah terjadi, aku telah benar-benar ikhlas, bahkan sejak aku menginjakkan kakiku di London. Untukmu Arby, aku minta maaf atas segala keegoisanku, maafkan aku yang telah meninggalkanmu juga baby Chiro dan memilih jalanku sendiri, maafkan aku yang ...."
"Tidak, aku lah yang seharusnya meminta maaf padamu. Maafkan semua keegoisanku," ucap Arby dengan suara yang bergetar.
"Untuk My Chiro, maafkan mommy yang meninggalkanmu dan tidak menjadi mommy yang baik untukmu, maafkan mommy yang ...."
"No Mommy ...."
Seorang anak kecil yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang, berlari menghampiri Naya. Pengawal yang sebelumnya menjaga Chiro tak dapat menghentikannya. Mereka memang membawa Chiro, namun tidak membawanya di depan kamera karena tak ingin Chiro menjadi sorotan meski wajahnya nanti akan diblur.
"You are my best mother in my life. Mommy is my sun, Mommy is my rainbow. Thank you for giving birth to Chiro. Thank you for always praying for Chiro even though we are not together. I really love Mom. Continue to be with me until I grow up and make Mom happy."
(Translate: Kamu adalah ibu terbaik dalam hidupku. Mommy adalah matahariku, Mommy adalah pelangiku. Terima kasih sudah melahirkan Chiro. Terima kasih selalu mendoakan Chiro meski kita tak bersama. Aku sangat menyayangi Mommy. Teruslah bersamaku hingga aku dewasa dan membahagiakan Mommy)
Cup
Cup
Cup
Chiro mengecup wajah Naya.
Cup
Cup
Cup
Kecupan balasan dari Naya dengan air mata yang mengalir.
__ADS_1
"I'm sorry, Chiro. Thank you for being in my life. Wherever I am, my prayers are always with Chiro. Achieve your dreams and be yourself. Always be happy, even without me by your side."
(Translate: Maafkan mama, Chiro. terima kasih telah hadir di kehidupanku. Di mana pun aku berada, doaku selalu menyertai Chiro. Raihlah mimpimu, dan jadilah dirimu sendiri. Berbahagialah selalu, meski tanpaku di sisimu.)
Mereka yang mendengar ikut terharu. Suatu ungkapan sayang antar ibu dan anak yang mengharukan.
"Untuk semua teman-teman sekolah dan kuliahku, juga rekan-rekan kerjaku, terima kasih atas dukungan kalian. Maafkan kalau aku pernah menyakiti hati kalian. Untuk guru-guru, dosen-dosen, pembimbing dan para profesor, terima kasih atas bimbingan kalian, tanpa kalian, aku bukan siapa-siapa. For my family, aku benar-benar minta maaf sudah membuat kalian kecewa. Maaf jika sampai kini aku belum benar-benar membanggakan kalian. Tolong maafkan segala kekhilafanku, agar Tuhan memudahkan jalanku."
Pihak keluarga dan sahabat mulai gelisah. Perkataan Freya yang terus meminta maaf, seolah ini adalah kesempatan terakhirnya.
"Nona Freya, opa dan oma Anda ...."
Kembali kepala Freya berdenyut kencang saat wartawan itu menyebut opa dan oma.
"Aaa, sa ... sakitttt ...."
Naya langsung pingsan dan tangannya tak lagi memeluk Chiro.
"Mommy!" teriak Chiro menangis kencang.
"Frey?"
"Freya!"
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi dengan kesehatan dokter Naya?"
"Apa kondisi nona Freya masih belum stabil, melihat keadaannya yang datang dengan kursi roda dan masih menggunakan perban di kaki dan kepala?"
Petugas menghalau wartawan dan membuka jalan. Mico terlihat kesal, sudah lihat keadaan lagi genting begini, masih saja mengajukan pertanyaan.
"Ngebut!" perintah Erlang yang tak melihat siapa yang menyetir, yang penting cepat sampai, pikirnya.
Kamu kuat Frey, bertahanlah. Jika bukan demi aku, setidaknya bertahanlah demi Chiro kita.
Di depan loby rumah sakit, brankar sudah disiapkan. Mereka membawa Naya dengan sedikit berlari. Pintu ruang UGD tertutup, meninggalkan orang-orang yang menatap nanar ke pintu itu, seolah itu adalah pintu akhirat yang akan memisahkan mereka dengan Freya.
.
.
.
__ADS_1
Detik jam seirama dengan detak jantung mereka.
Pintu UGD terbuka, menampakan wajah dokter dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Bagaimana, Dok?"
"Keadaannya sudah mulai stabil, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan. Tolong jangan berikan dia tekanan, perhatikan tingkat emosinya, dan buatlah dia merasa tenang!"
Mereka melihat keadaan Naya setelah dipindahkan ke ruang perawatan.
"Memaksakan dia menjalani operasi sedangkan dia sendiri menolaknya, bukan hal yang baik. Ini akan berpengaruh di alam bawah sadarnya."
Dua jam kemudian Naya terbangun.
Erlang langsung mengecup kening wanita itu, tidak peduli dengan penolakan yang akan dilakukan oleh Freya nanti, namun ternyata dia diam saja. Seharusnya Erlang merasa senang, namun justru membuat pria beranak satu itu takut.
"Ayo kita menikah, aku berjanji akan membahagiakanmu dan anak kita."
"Kamu mau, menjadi duda untuk yang kedua kalinya karena perempuan yang sama?" Naya tertawa pelan, namun air matanya mengalir.
"Frey ...."
"Aku tahu kondisiku yang sebenarnya. Mungkin aku sadar hanya untuk diberikan kesempatan untuk meminta maaf pada kalian."
"Frey ...."
"Juga membersihkan namamu, Chiro, keluarga kita, juga Nuna."
"Frey ...."
"Maafkan aku yang melupakanmu, Ikmal, dan Nuna, dan tak mampu mengingatnya hingga sekarang."
Naya mengusap ujung matanya.
"Pa, Ma?"
"Ya, Freya?"
"Apa opa dan oma masih hidup? Selama ini aku ingin mencari tahu tentang mereka, tapi aku takut, aku ... jika mereka sudah meninggal, aku ingin ke makam mereka. Jika mereka masih hidup, aku ingin bertemu dengan mereka."
Hening, tak ada yang langsung menjawabnya. Mereka memperhatikan gelagat Naya yang sepertinya selalu merasa sakit jika ada yang membahas tentang opa dan oma. Apa ini yang menjadi pemicunya? Apa selama ini opa dan oma lah yang membuat Freya terus berusaha untuk membuka kenangan yang terlupakan itu?
__ADS_1
"Apa mereka masih ada? Aku ingin bertemu."
"Mereka ...."