
"Mommy, kata daddy, Mommy diculik, siapa yang berani menculik mommy dan dede bayi?" tanya Chiro sesenggukan.
"Diculik? Memangnya siapa yang berani menculik mommy?" tanya Freya balik.
Chiro lalu mendekati Freya, memeluk ibu hamil itu lalu meletakkan kepalanya di perut Freya.
"Apa adik bayi sehat-sehat saja?"
"Sehat, Chiro."
"Pokoknya Chiro enggak mau tahu, mulai besok Chiro akan home schooling saja. Chiro sudah tidak percaya lagi sama daddy. Nanti daddy membuat mommy dan adik bayi menghilang."
Arby yang mendengar itu langsung cemberut.
Kenapa selalu dia yang disalahkan?
Karena itu memang salahmu!
Suruh siapa heboh duluan dan tidak mau melihat CCTV lebih dulu.
"Kalian nangis?" Tanya Freya, saat melihat mata semua orang merah dan basah.
__ADS_1
"Enggak!" Jawab mereka serempak. Bisa-bisa Freya menertawakan mereka sampai berbulan-bulan lamanya. Ibu hamil itu memang suka mengungkit hal yang memalukan.
"Sayang, jangan tinggalkan aku lagi!" Arby langsung mencium bibir Freya, mumpung Chiro tidak melihatnya.
Iya, Chiro memang tidak melihatnya, tapi yang lain melihatnya. Diam-diam Arby mengambil semua cemilan itu, agar Freya todak makan itu lagi.
Nuna dan para perempuan langsung ikut melihat barang apa saja yang berantakan di lantai dan kasur.
Mereka tersenyum. Ini adalah Kenangan-kenangan dari Arby. Freya juga punya banyak foto Chiro yang dia dapatkan dari orang suruhannya.
Opa dan omanya Freya, ikut melihat semua itu. Mereka sangat menyayangi Chiro, meski tidak ikut andil saat Chiro masih kecil dulu. Kondisi mereka saat itu tidak memungkinkan untuk bertemu dengan yang lain, karena ada perasaan kecewa juga, kenapa harus menikahkan Freya saat masih berusia enam belas tahun, lalu malah berpisah.
Mereka sangat menyayangi Freya, dan benar-benar bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bersama cucu dan cicit mereka.
Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, semua pasti akan lebih baik lagi, termasuk Freya.
Tapi ya sudahlah, itu namanya takdir.
Arby lah yang mulai memahami, kenapa dulu opa dan oma Freya sangat protektif terhadap Freya, termasuk apa yang dimakan dan diminum oleh gadis kecil itu dulu. Karena sekarang dia lun melakukan hal yang sama.
Apa pun yang berhubungan dengan kesehatan Freya dan Chiro, akan dia lakukan. Dia tidak mau lagi ada yang sampai dirawat di rumah sakit, kecuali mungkin saat Freya melahirkan anaknya.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu, begitu banyak trauma yang Arby rasakan. Yang tahu hanya aunty Irma saja, psikolog yang juga masih kerabat mereka.
Ruangan itu seperti menjadi tempat piknik dadakan. Makanan dan minuman yang sehat dibawa ke sana. Arby terus saja manyun, karena Freya belum makan nasi sejak tadi.
"Nanti kalau bayi aku jadi kurus gimana?"
"Nanti kalau dia lahir, langsung kamu kasih emas batangan, pasti dia gemuk," celetuk Mico, yang heran kenapa Freya bisa terjerumus lagi pada pria bucin itu.
Arny mendelik kesal pada Mico.
"Ngomong-ngomong soal emas batangan, kenapa di sini tidak ada emas batangan? Atau berlian dan permata lainnya?" tanya Freya.
"Ada."
"Mana?"
"Di hadapanku. Semua yang ada pada dirimu, sangat berharga. Tanganmu yang halus lebih dari mas batangan. Mata indahmu, ibarat berlian yang berkilau, bibirmu permata. Mutiara atau apa lun di dunia ini, akan kalah oleh pesonamu."
"Aaahhh, suamiku ini kenapa selalu so sweet, sih? Kamu mau berapa ronde nanti malam?"
"Lima ronde sja, jangan banyak-banyak," ucap Arby saja sambil mengecup-ngecup pipi Freya.
__ADS_1
"Aw!" Arby meringis saat hidungnya kena timpuk sepatu bayi Chiro.
"Aaaa ... sepatu bayi Chiro nanti rusak!"