
Hari ini Chiro pulang cepat. Dia, Radhi, dan Raine sedang bermain di taman sekolah sekalian menunggu Sachi, Ichi dan Ishi pulang.
"Ayo Radhi, dorong yang kencang!"
"Nanti kamu jatuh, Rain."
"Ini kurang kencang, enggak enak." Akhirnya Radhi mendorong lagi ayunan adik kembarnya itu lebih kencang.
"Radhi, berhenti! Berhenti!"
Radhi langsung menahan ayunan itu sampai berhenti.
"Kan apa aku bilang, pasti kekencangan."
"Radhi, aku mau pipis."
"Ya sudah, ayo aku temani."
Radhi menemani Raine ke toilet, sedangkan Chiro masih duduk sendiri di taman.
Chiro merasa suasana sangat sepi saat ini. Dia juga memperhatikan para bodyguard yang menunggu mereka di depan gerbang sekolah. Biasanya lima menit sebelum waktu pulang, beberapa orang bodyguard akan menjemput mereka di depan pintu kelas.
"Abang ... Abang!"
Sachi, Ichi dan Ishi berlari menuju Chiro. Ini belum jamnya mereka pulang, hanya saja ketiga bocil itu iri melihat abangnya yang bermain di taman.
"Jangan lari-lari nanti jatuh!"
"Abang!" Ketiganya lalu memeluk Chiro.
"Kalian kok di sini."
"Mau es klim."
__ADS_1
"Nanti pas pulang sekolah, ya. Ayo masuk lagi sana."
"Enggak mau. Bosan di dalam."
"Mau main aja cama Abang."
"Beli pelmen yuk, Bang."
Ichi dan Ishi melihat ada penjual permen kapas di depan sekolah mereka, langsung berlari menuju sana, diikuti oleh Sachi.
"Hei, kalian bertiga jangan ke sana."
"Radhi, lihat itu Chiro mengejar adik-adiknya."
"Pasti mereka bertiga bikin ulah lagi. Rai ke mana, sih? Bukannya ikut menjaga adik-adiknya."
"Kenapa?" tanya Rai yang tiba-tiba datang.
"Kamu ke mana saja? Bukannya jagain Sachi dan si kembar."
Mereka bertiga akhirnya ikut menyusul Chiro dan adik-adiknya. Disusul juga oleh yang lain, membuat suasana semakin rusuh dengan kumpulan anak-anak kecil itu.
"Om, aku mau beyi."
"Ini adik kecil."
Baru juga Ichi mengambil permen kapas Oti, seseorang langsung mengangkat dirinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Hei, lepaskan adikku!" teriak Chiro.
Ishi dan Sachi juga dibekap oleh dua orang pria dan langsung memasukkan mereka ke dalam kontainer.
Para bodyguard mereka tentu saja sudah lebih dulu bertarung dengan para penculik itu. Bukan penculik abal-abal seperti Ti J, karena mereka benar-benar membawa senjata api.
__ADS_1
"Bawa keempat anak itu sekarang!"
Chiro, Sachi, Ichi dan Ishi, langsung dibekap dan dimasukkan ke dalam kontainer.
"Lepasin mereka!" teriak Radhi.
Raine menggigit tangan salah satu penjahat itu.
"Aaa, sakit sialan!"
"Bos, anak ini merepotkan!"
"Bawa saja dia sekalian, kita bisa untung banyak!"
Kini Raine yang dibawa oleh mereka, membuat Radhi dan yang lain semakin marah.
"Bawa saja semua anak-anak itu!"
Satu mobil itu akhirnya penuh dengan anak-anak, berdesakkan dengan tangan terikat.
"Radhi, hadap sana, lalu buka ikatan tanganku!" perintah Chiro.
Radhi membelakangi Chiro, sedangkan tangannya yang terikat berusaha membuka ikatan tangan Chiro. Keduanya saling membelakangi.
"Abang, cakit ini!"
Chiro melihat kening Ichi yang berdarah.
"Jangan nangis, ya. Anak mommy dan Daddy enggak boleh takut."
Begitu tangan Chiro terbebas, dia langsung membuka ikatan tangan Ichi, Ishi, Sachi, lalu yang lain.
Semua anak itu sudah kepanasan, meski belum lama di masukkan ke dalam sana.
__ADS_1
Mereka bisa merasakan mobil yang mulai bergerak.
Di belakang, Ti J yang baru datang langsung mengambil motor entah milik siapa. Mengejar kontainer itu.