
"Itu kenapa mobil mereka oleng begitu?" tanya Rei, yang mungkin tidak menyimak siaran langsung yang dilakukan oleh Nuna. Tangan Rei mencengkram erat tangan Marva, sedangkan yang lain kecuali Marcell, menahan nafas mereka, karena mobil ini dikendarai dengan sangat kencang.
Marva segera menghubungi keluarga Arby, untuk segera ke rumah sakit.
Di mobil depan, Freya meremas perut Arby untuk menahan sakit. Sedangkan Arby, entah kesempatan atau menahan sakit juga, meremas bokong Freya. Jadilah mereka aw aw-an.
Saat lampu merah, Nuna dan Ikmal kembali serempak menutup jendela mobil.
"Buruan!" rintih Freya.
"Dikit lagi."
"Dikit lagi, dikit lagi, mulu. Aku sudah enggak kuat, udah enggak tahan, mau keluar."
"Tunggu Yang, jangan dikeluarin di sini. Di sini bukan tempat yang enak buat dikeluarin."
"Enggak tahan, udah pengen keluar."
"Tunggu, tanggung."
"Lama!"
"Bentar lagi."
Nuna langsung menutup telinganya. Ikmal? Dia mau menutup telinga juga, tapi nanti siapa yang pegang setir mobil?
Kenapa kedua pasutri ini selalu mengatakan kalimat-kalimat yang ambigu? Kalau ada yang berpikiran mesum, siapa yang salah?
Freya pun sama saja. Antara ngeden sama mendesah, enggak ada bedanya.
Akhirnya Nuna dan Ikmal bisa bernafas lega. Mereka sudah tiba di rumah sakit dan langsung disambut oleh perawat dan dokter yang sudah lebih dulu dihubungi.
__ADS_1
Keluarga Arby dan Freya sudah menunggu. Untung saja posisi mereka tidak jauh dari rumah sakit.
Arby langsung membaringkan tubuh Freya di atas brankar.
Dokter langsung memeriksa Freya.
"Baru pembukaan lima."
"Mom, gimana ini. Aku takut," ucap Arby.
"Kamu yang tenang, ya."
Arby lalu masuk kembali ke kamar Freya. Dilihatnya wajah istrinya itu yang meringis menahan sakit.
"Sabar ya, Yang."
Lain di mulut lain di hati. Di mulut menenangkan, di hati dia yang juga butuh ditenangkan.
"Lagi dijemput."
"Mommy, Daddy," teriak Chiro. Tangan kecilnya itu memeluk boneka Koala yang besarnya seperti manusia dewasa.
"Tadi Chiro pulang dulu buat ambil boneka adik bayi."
Boneka koala dan boneka princess yang dibawa oleh Evan itu menarik perhatian mereka. Boneka yang sudah dipastikan untuk anak perempuan.
"Mana adik bayi?"
"Belum lahir, Sayang. Sabar, ya."
Setelah menunggu beberapa saat sambil berjalan-jalan dan makan, akhirnya Freya kembali mules dan akan segera melahirkan.
__ADS_1
Wajah Arby lebih pucat daripada wajah Freya. Tangannya mengelus perut Freya.
"Yang lancar ya Sayang, keluarnya. Jangan bikin mommy kesakitan dan Daddy cemas."
"Siap ya, Freya."
Saat Freya ngeden, Arbu ikut ngeden.
Saat Freya mengatur nafas, Arby juga ikut mengatur nafas.
Perawat menahan tawa.
"Aku enggak kuat."
"Kamu harus kuat, Sayang. Anak Daddy yang cantik, jangan lama-lama keluarnya, Ya. Kasihan mommy."
"Nanti kalau kamu sudah lahir, Daddy belikan kamu baju princess yang banyak. Kamu mau kan, cantiknya Daddy?" lanjut Arby.
"Dok, kenapa dia enggak mau keluar juga?"
Dokter senior itu juga sedikit panik.
"Ayo Freya, kamu harus bisa. Atur nafas, ikuti instruksi saya."
Tangan dan kaki Arby sudah gemetaran. Bukan hanya keringat saja yang keluar, tapi juga air matanya.
Jangan lagi ada hal buruk!
Di luar, orang-orang juga bingung. Kenapa sudah selama ini belum juga terdengar suara bayi?
"Kenapa lama?"
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab. Semua hanya diam dengan doa yang tiada henti.