
Tapi mereka melihat Freya yang justru terlihat lesu.
"Freya sakit, Ar?"
"Enggak, dia hanya lagi kalem saja."
Para kaum perempuan sedang membuat rujak, sedangkan yang laki-laki disuruh untuk mengupas kulitnya.
"Aku seperti pernah mengalami hal ini deh, kapan ya?" tanya Marcell.
"Itu tuh, dulu. Waktu Arby dan Freya baru nikah, kan mereka itu bikin rujak di balkon kamar Freya, nah kita yang disuruh ngupas kulit dan manjat pohonnya, kan?"
"Iya, ya. Dulu waktu hamil Chiro, kita juga yang bikin rujak nya, kan?"
"Iya, sering."
Mereka jadi teringat masa-masa kehamilan Freya dulu. Ada yang lucu, ada yang yang tidak. Ya walaupun lebih banyak yang sedihnya.
Arby terdiam, dia jadi sedih. Dalam hati dia berjanji, kalau nanti Freya hamil, dia benar-benar akan jadi suami siaga. Dia akan menuruti semua yang Freya ngidamkan.
Kemudian dia tersenyum, tadi malam dan tadi pagi, dia baru tahap pertama melakukan proses produksi, semoga bisa segera launching.
"Kamu kenapa sih, Ar? Tadi kelihatan senang, terus sedih, sekarang senang lagi?" tanya Ikmal.
__ADS_1
"Tahu enggak, masa tadi malam ...."
"Aaa ... pedas-pedas ...."
Freya langsung menjejalkan mangga asam beserta sambelnya yang sangat pedas. Jangan sampai mulut bocor itu bercerita macam-macam. Ya kali, kegiatan tadi malam dan tadi pagi juga mau diceritakan?
"Aaa ... sakit-sakit ...." Kali ini Freya yang berteriak, setelah Arby menggigit bibirnya. Dia langsung menjambak rambut Arby.
"Aw, sakit! Tangan kamu habis pegang cabe, Frey!"
Mereka hanya bisa menonton drama rumah tangga itu. Pasangan baru yang tidak segan menunjukkan KDRT di depan umum.
Freya langsung ke kamar mandi, dengan wajah senang karena sudah membuat Arby kepedasan.
"Eh eh eh, tahu enggak tahu enggak tahu enggak? Nih lihat!"
Arby membuka kancing kemejanya, dan langsung menunjukkan bekas merah memanjang dan bulat.
"Bagus, kan. Kalian enggak ada yang punya dong! Bebeb Freya nih, yang bikin. Tadi malam sama tadi pagi."
Mereka langsung menahan nafas, sesak rasanya.
"Gede-gede, kan? Merah banget lagi. Makanya sana, buruan nikah kalau mau punya yang beginian!"
__ADS_1
Mata mereka seperti mau keluar mendengar perkataan Arby.
Songong!
"Pokoknya sebelum ini hilang, aku harus sudah punya yang baru. Nanti malam bikin lagi, ah. Apa aku tidak udah mandi tujuh hari tujuh malam, ya?"
Pluk
Ada yang melempari Arby dengan kulit kacang.
"Kamu itu sudah dewasa Arby, sudah punya anak. Jangan bersikap tidak tahu malu seperti ABG gitu!" ucap Elya heran dengan sikap anaknya yang berubah sejak kehadiran Freya kembali.
"Justru kerena aku sudah dewasa dan punya anak, Mom. Makanya aku seperti ini. Coba kalau aku masih ABG, mana mengerti aku yang kaya beginian. Pastinya aku masih polos dan tidak paham tentang yang beginian."
Mereka menghela nafas, ada saja jawaban pria itu. Elya hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan anaknya itu.
Para perempuan itu, kecuali Rei dan Nina, melirik leher Arby. Kan mereka jadi traveling ke mana-mana pikirannya, apalagi si Nania.
Marcell melihat wajah Nania yang merah.
"Nan, kamu mau bikin itu di leher aku?"
"Dih, ngarep."
__ADS_1
"Sstt ... diam! Bebeb Freya datang, awas kalau ada yang cerita-cerita!" ancam Arby. Dia buru-buru mengancingkan lagi kemejanya.