Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
223 Belajar Dari Daddy


__ADS_3

"Cape Dad, gendong!"


"Cape apaan? Olahraga aja enggak, malah makan."


Sachi dan si kembar menatap Arby dengan wajah polosnya.


Arby balas menatap mereka dengan wajah polosnya, walau enggak ada polos-polosnya sama sekali.


"Sini, biar mommy gendong."


"Jangan Beb, mereka berat."


"Sachi sama Om Jan, ya. Tangan Daddy enggak cukup kalau harus menggendong kalian bertiga." Tentu saja Arby harus mengatakan ini, agar tidak ada yang iri kalau tidak digendong olehnya.


"Ichi juga sama Om Jon saja."


"Ishi sama Om Jun."


Mereka bertiga akhir menggendong anak-anak itu.


"Ayo Om, olahraga."


Baru saja mereka mau menurunkan ketiganya, mereka langsung protes.


"Gendong, Om."


"Tadi katanya mau olahraga?"


"Iya, Om gendong kami, terus lali. Kan kami juga mau olahlaga."


Itu namanya bukan olahraga, tapi nyusahin! Batin ketiganya.


Untung bukan aku yang gendong, batin Arby.


"Dah sana, kalian lari sama anak-anak." Arby memberikan semangat kepada mereka, seolah itu tidak ada apa-apanya.

__ADS_1


"Ayo Yang, kita makan bubur."


Arby tersenyum puas saat para bocil sudah tidak ada, tapi dia menoleh ke samping, ternyata ada Chiro.


"Kamu tidak ikut olahraga?"


"No, Dad. Menjaga Mommy satu pekerjaan yang lebih penting."


Gagal deh, berduaan.


Ketiganya makan bubur ayam, dengan sate yang banyak.


"Nanti pulangnya bungkus bubur kacang hijau, ya."


"Nanti aku bikinin saja."


"Enggak mau, mau beli saja. Sekalian bagi-bagi rejeki sama pedagangnya."


"Oke. Pak, bungkus bubur kacang hijaunya dia kukuh bungkus, ya. Ada?"


Pedagang bi


bubur itu girangnya bukan main. Pagi-pagi dagangannya sudah laku sebanyak ini.


"Satenya juga saya borong semuanya, Pak," ucap Arby kepada penjual bubur.


"Kalian juga makanlah dulu, terserah mau makan apa. Nanti gantian sama yang lain."


"Terima kasih, Tuan."


Kedatangan Arby dan keluarganya ke taman ini benar-benar memberikan para pedagang rejeki. Mereka merasa senang, ada orang kaya yang tidak pelit, bahkan tidak malu untuk memakan makan yang bukan dari restoran, minta bungkus, lagi.


"Yang lain katanya nanti siang mau pada main ke rumah. Nanti sekalian kita beli buah-buahan."


"Iya. Aku sudah bilang sama para pelayan untuk masak yang banyak."

__ADS_1


"Daddy."


"Mommy."


"Abang."


Tangan kanan kiri Sachi dan si kembar sudah banyak memegang bungkusan. Beli mainan dan makanan. Sudah pasti itu menggunakan uang Ti J.


"Mau saya transfer atau kasih cash, uang gantinya?"


"Tidak usah, Tuan. Ini buat anak-anak."


"Jangan begitu. Saya transfer saja, ya. Soalnya habis ini masih mau jalan-jalan lagi, nanti uang cash saya habis."


Sachi melihat gadis kecil berbaju pink. Dia mendekati anak perempuan itu, lalu memberikan balonnya.


"Ini balon cantik, untuk cewek cantik."


Arby dan Freya melebarkan matanya. Bisa-bisanya anak mereka ini merayu perempuan di hadapan mereka.


"Gitu ya, Dad, ya ... kalau merayu perempuan?" tanya Sachi dengan polosnya.


Ichi dan Ishi sudah ingin maju, ketika melihat ada dua lagi anak perempuan, tapi langsung ditahan oleh Arby dan Freya.


"Kalian masih kecil, kenapa genit begitu."


"Kan kata Daddy, harus ikutin jejak Daddy. Apa-apa harus belajar sejak sekarang, biar nanti terbiasa. Nanti Sachi biar terbiasa godain cewek, Mom. Kaya Daddy, tuh."


Arby menepok jidatnya, bisa-bisa diamuk Freya, nih.


"Enggak, aku enggak kaya begitu ngajarin mereka, Yang."


"Itu, kemarin Daddy ngasih bunga ke Mommy. Kata Daddy, bunga cantik untuk perempuan cantik."


"Ish, tukang nguping kalian!"

__ADS_1


__ADS_2