
Orang-orang mulai berdatangan ke rumah Arby setelah Magrib. Selain karena ingin menumpang makan malam, besok pagi-pagi mereka akan pergi ke vila. Arby sudah membeli bis dengan interior seperti karavan. Ada kulkas mini, televisi, toilet dan tempat duduk yang nyaman, yang dapat diubah menjadi kasur.
"Ini, kami sudah membawakan bekal untuk perjalanan besok."
"Dan ini untuk persiapan besok."
Ikmal membawa kembang api dengan berbagai ukuran.
"Jangan main sekarang. Kalian harus diawasi agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain."
Chiro, Radhi dan Raine sebagai yang tertua di antara anak-anak itu, menjaga adik-adik mereka. Mau itu adik kandung atau sepupu, sama saja. Tidak membeda-bedakan.
Anak-anak itu berkumpul di kamar Chiro. Ada yang bermain game, ada juga yang bermain boneka.
"Semoga saja anak-anak kita tetap akur sampai mereka dewasa nanti, ya. Jangan sampai ada perselisihan, atau cinta segitiga."
"Kalau sampai ada cinta segitiga, aku tidak akan merestui satu pun, lebih baik mencari pasangan lain. Keluarga lebih penting."
Freya menidurkan Aileen yang mulai gelisah.
"Bobo ya, Sayang. Besok kita mau jalan-jalan. Yang anteng, ya."
__ADS_1
Aileen mulai memejamkan matanya, dengan bibir merah yang sedikit terbuka.
💕💕💕
Suara riuh dari lantai atas sampai lantai bawah benar-benar memekakkan telinga. Para bodyguard juga sudah siap dengan pakaian santai mereka. Mereka akan menggunakan tiga bis. Dua bis untuk bos mereka, dan satu bis untuk para bodyguard.
Arby mengendong Aileen. Pria itu memang susah untuk jauh-jauh dari anak perempuannya dan Freya. Ti J akan ikut bersama rombongan Arby.
Para opa Oma akan ada di bis yang lain. Bahkan masih ada mobil biasa yang akan berjalan di depan bis-bis itu. Membawa semua keturunan keluarga mereka, memang harus waspada. Jangan sampai kecolongan lagi seperti waktu lalu.
"Sini, Yang."
Arby memberikan bantalan di punggung Freya, agar istirnya lebih nyaman.
Anak-anak berjingkrak senang. Raine bahkan merasa seperti main rumah-rumahan.
Kaca-kaca bis itu anti peluru, dan Mico sendiri yang telah mencobanya dan dipastikan aman.
"Kalau Sidah besar nanti, aku akan membuat yang seperti ini," ucap Radhi.
Anak-anak itu mulai berkhayal tentang cita-cita mereka. Arby membuka kotak bekal yang isinya potongan buah-buahan, dan menyuapinya pada Freya.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu kelaparan, Yang."
"Kamu meledek atau apa, sih?"
Arby cengengesan saja. Tangan mungil Aileen bergerak lincah, menarik potongan buah yang dipegang oleh Arby.
"Anaknya Daddy mau? Belum boleh, ya. Nanti Aileen metik buah saja di kebun. Ada taman bunga juga."
Mico mendapatkan kabar dari anak buahnya melalui earphone. Keadaan di depan sana aman dan jalanan lancar. Pria itu mengambil potongan buah yang ada di kotak bekal Arby, membuat Arby mendengus.
"Kapan sih, kalian berdua akurnya?"
"Kami ini soulmate," ucap Mico. Dia selalu senang dan tetap saja suka membuat Arby kesal.
Mereka tiba di vila, dan anak-anak langsung berlarian sana sini. Masih pagi, udara masih segar.
Anak-anak mulai bernyanyi, suara mereka sahut-sahutan dan memekakkan telinga.
"Daddy masih ting ting ...."
"ABG tua ...."
__ADS_1
Mata Arby melebar, sedangkan Freya tidak tahu harus tertawa atau marah pada anak-anaknya.
Mico menahan tawa, tingkah anak-anak itu memang selalu di luar perkiraan.