Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
25 Video Call


__ADS_3

Naya kembali ditugaskan ke Durham. Di sana, dia bertugas mendampingi dokter Marco yang merawat sepasang suami istri yang sudah sangat tua.


"Tuan Besar, Nyonya Besar, ini dokter Naya yang akan mendampingi saya," ucap dokter Marco.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya. Perkenalkan, saya Freya Canaya, panggil saja saya Naya."


Sepasang suami istri itu tersenyum pada Naya, yang membuat Naya merasa nyaman.


"Kami sudah menyiapkan kamar untukmu, Naya. Boleh, kan, kalau kami memanggil Naya, saja?"


"Tentu saja boleh, Tuan dan Nyonya besar."


"Panggil saja kami opa dan oma. Jangan sungkan ya, pada kami. Selain dengan pelayan, kami hanya berdua saja, karena anak dan cucu kami lagi di luar negeri."


"Baiklah kalau begitu."


.


.


.


Sementara di London, Erlang menghela nafas berkali-berkali. Chiro juga sejak tadi terus memanggil mommy, karena Naya belum bisa dihubungi.


Kenapa aku seperti istri yang ditinggal oleh suaminya merantau?


Tidak lama setelah itu, terdengar lagu yang disetel oleh Marcell.


Bang Toyib ... Bang Toyib ... kenapa enggak pulang, pulang ... anakmu, anakmu, panggil-panggil namamu.


Erlang mencebik kesal melihat tingkah Marcell.


"Enggak usah belagu, mentang-mentang sekarang kamu bisa satu rumah sakit dengan Nania."


Marcell memamg minta dipindah tugaskan ke rumah sakit yang sama dengan Nania.


Sementara itu di apartemen para perempuan, Kirei menunduk lesu saat gosip sedang menimpa dirinya. Dia digosipkan sedang dekat dengan seorang pria.


Jika pria biasa, dia tidak akan peduli, namun pria yang digosipkan dengannya adalah pria beristri yang telah memiliki anak.


Bukan gosip biasa, salah seorang perawat bercerita pada rekan kerjanya bahwa dia melihat dokter Kirei sedang berciuman dengan pria itu.


"Jadi benar, kalian berciuman?" tanya Letta.


"Dia yang tiba-tiba menciumku, enggak bilang-bilang."


"Kalau dia bilang-bilang, kamu juga mau, dong?"


"Apaan, sih, Let."


"Coba ada Naya di sini," ucap Zilda.


"Lah, yang ada dia sewot. Bisa-bisa Kirei dibilang pelakor, kaya aku dulu. Aku aja yang enggak pernah pegangan tangan apalagi ciuman sama Arby, dibenci sama dia, apalagi Kirei yang ciuman samaa tuh cowok," ucap Monic sambil tertawa kecil.


Dia tidak pernah marah saat dulu Naya mengatainya pelakor. Ya siapa sih yang enggak akan marah saat sahabat san suaminya terlihat dekat, meskipun Naya saat itu tidak pernah mencintai Arby.


Lagi pula, itu tidak sepenuhnya sakah Naya. Dia dan Arby memang tidak bisa begitu saja menjelaskan tentang hubungan mereka, karena akan mempengaruhi kesehatan Naya yang mengalami amnesia, bahkan sampai sekarang masa lalunya itu tidak pernah dia ingat.


Akan ada banyak pertanyaan yang akan Naya ajukan jika mereka bilang sudah bersahabat sejak kecil, dan dokter sudah mewanti-wanti bahwa dia tidak boleh memaksa untuk mengingat masa lalunya sebelum kecelakaan itu terjadi.

__ADS_1


"Naya tuh sebenarnya bukan kesal sama kamu. Dia hanya kesal dengan Arby yang menurutnya serakah, sama kamu mau, sama Naya juga enggak mau dilepas. Malahan dia mikir dengan kehadiran kamu, dia bisa lepas dari Arby."


"Udah, kenapa jadi bahas Arby, Naya dan Monic, sih. Sekarang tuh masalah Kirei, harus kaya gimana."


"Tenang saja, Naya enggak akan marah sama kamu, Rei. Kami berempat, kan, tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan peduliin omongan orang-orang."


"Tapi kasihan anak-anaknya."


Mereka berempat sama-sama menghela nafas panjang. Masa lalu Kirei datang bersmaan dengan masa lalu Naya (termasuk Monic, Letta dan Zilda).


"Kamu tenang saja, apapun yang akan terjadi, kaminakan selalu berada di sisimu."


"Betul, walau kamu dicap sebagai pelakor."


"Kalau perlu rebut tuh cowok dari istrinya."


"Kuras hartanya."


"Kalau sudah bangkrut, tinggalkan dia, cari lagi yang lebih kaya."


Keempat perempuan itu tertawa. Semua perkataan itu memang candaan, agar Kirei tidak setres menghadapi masalah pribadinya dengan sang pria beristri itu.


"Dih, licik banget jadi perempuan!"


Mereka langsung menengok, para pria itu sedang menatap Monic dan yang lain.


"Enggak usah protes, kalian ke sini juga paling cuma.mau numpang makan," cibir Monic yang diangguki Zilda dan Letta.


.


.


.


"Naya, wajahmu pucat. Apa kamu sakit?"


"Tidak, Oma. Naya baik-baik saja."


"Periksalah ke rumah sakit, kamu harus menhaga kesehatan."


"Iya.Oma, terima kasih."


Oma juga seorang dokter, namun sudah pensiun beberapa tahun yang lalu, dan saat ini hanya ingin menjalani masa tuanya dengan suami tercinta.


"Oma kenapa bersedih?"


Naya meligat gurat kesedihan di wajah oma yang masih terlihat cantuk meski rambutnya telah memutih.


"Oma hanya sedang merindukan cucu oma saja. Sudah lama sekali oma tidak melihatnya."


Naya langsung memeluk tubuh wanita tua itu.


"Jangan sedih Oma, kalau Oma tidak keberatan, Oma boleh menganggap Naya cucu Oma sendiri."


"Benarkah?"


Naya mengangguk mantap. Naya selama ini kurang mendapatkan kasih sayang dari kakek neneknya yang menurutnya hanya sayang pada Anya dan Vanya yang meneruskan bakat seni mereka saja.


Malam harinya

__ADS_1


Naya sedang melakukan video call dengan Chiro.


"Mommy, apa mommy sakit?"


Chiro melihat wajah Naya yang sedikit pucat. Naya menggeleng, tidak ingin membuat Chiro khawatir. Erlang yang baru saja ke luar dari kamar mandi, langsung merebut ponsel dari tangan Chiro untuk melihat wajah Naya yang kata Chiro pucat.


"Kamu sakit?"


"Enggak."


"Pucat begitu."


"Aku hanya kelelahan."


"Kelelahan gimana? Satu ronde aja belum."


Naya mencebikkan bibirnya.


"Ronde apa, Daddy?"


"Ronde gelut, Chiro. Chiro bobonya, daddy ada pembicaran serius sama mommy."


"Oke, Daddy."


"Good Boy!"


Pembicaraan serius apaan, ngomong mesum, aja.


"Besok aku jemput."


"Mau ngapain?"


"Bawa kamu ke London, kalau perlu bawa kamu kembali ke Jakarta."


"Aku kan lagi kerja."


"Kamu enggak perlu kerja terlalu keras. Meski pun kamu hanya sebagai ibu rumah tangga, aku masih sanggup kok, menafkahi kamu dan Chiro, bahkan menafkahi sepuluh adiknya Chiro."


"Kamu mau menikah lagi?"


"Iya, lah."


"Sama siapa?"


"Menurutmu?"


"Ya mana aku tahu. Bisa jadi sama sekretaris kamu, bisa juga sama ratu kecantikan itu."


"Ck, mereka bukan tipeku."


Tidak ada sahutan dari Naya.


"Frey, ayo kita menikah dan kembali ke Jakarta. Apa kamu tidak merindukan keluargamu di sana? Ayo kita ulang semuanya dari awal."


Naya hanya diam sambil menggigit bibirnya.


"Sudah dulu, ya."


Tanpa menunggu jawaban, Naya langsung mematikan video call itu. Erlang hanya bisa menghela nafas panjang.

__ADS_1


Apa benar-benar tak ada aku di hatimu?


Tidak ada yang tahu, bahwa saat ini Naya sedang merintih kesakitan sambil memegang kepalanya. Sakit kepala luar biasa yang selalu datang setahun sekali, namun akhir-akhir ini semakin rutin dan terasa sangat sakit.


__ADS_2