
"Kalau mommy tidak mau bertemu Chiro lagi, Chiro gak marah, Uncle. Yang penting mommy sembuh. Kalau mommy tidur, baru Chiro ngumpet-ngumpet melihat mommy. Chiro gak mau apa-apa, Uncle, hanya mau mommy. Katanya, doa anak soleh akan dikabulkan, jadi Chiro mau jadi anak soleh. Chiro akan menuruti semua perkataan mommy."
Chiro mengelap ingusnya.
"Chiro akan rajin sekolah seperti yang mommy mau. Kalau mommy mau Chiro jadi dokter, Chiro akan jadi dokter. Kalau mommy mau Chiro jadi insinyur, Chiro akan kadi insinyur. Chiro akan menjadi apapun yang mommy mau, yang penting mommy sembuh. Hmmm, tapi Uncle, kalau mommy mau Chiro marah dan membenci mommy, Chiro enggak bisa, Uncle. Chiro gak bisa pura-pura marah dan benci mommy. Apa itu berarti Chiro belum jadi anak soleh?"
Ikmal tak dapat lagi menahan air matanya. Dia tak pernah lagi menangis sejak dirinya kelas satu SD, entah itu karena jatuh dari sepeda, kesengklak karena main bola, atau apapun.
Tapi kini, di saat usianya telah dewasa, seorang anak kecil membuatnya menangis. Anak dari sahabat-sahabatnya. Anak yang perjalanan hidupnya masih panjang namun di usia sekecil ini sudah menanggung ujian yang berat.
Pintu kamar Naya terbuka, Erlang ke luar dengan wajah sembab yang merah. Ikmal merangkul sahabatnya itu, mencoba memberikan kekuatan meski dia tahu duka yang dirasakan terasa sangat perih. Chiro ada dalam pangkuan Monic. Kepala gadis itu bersandar di pundak Ikmal. Ketiga orang dewasa itu duduk sejajar.
Formasi mereka hampir lengkap, seperti belasan tahun yang lalu saat mereka masih di Singapura.
đź’§đź’§đź’§
"Mommy, Chiro mau mommy dioperasi ...." ucap Chiro pelan di samping brankar Naya. Tangan kecilnya mengusap pelan kening Naya.
"Chiro sayang mommy."
Chiro terus mengucapkan permintaannya dengan pelan. Tidak ingin membuat Naya terbangun, karena jika Naya bangun, Chiro akan berlari ke luar agar Naya tak melihatnya menangis.
Dalam tidurnya, Naya terus mendengar permintaan Chiro, perlahan matanya terbuka.
"Iya, mommy mau dioperasi demi Chiro."
"Mo ... Mommy ...."
"Chiro jangan nangis lagi ya. Mommy janji akan operasi."
"Maafkan Chiro, Mommy."
"Enggak. Mommy yang minta maaf karena sudah membuat Chiro menangis. Maafkan mommy yang nakal ini, jangan ngadu sama daddy, ya?" Naya terkekeh pelan.
Saat ini di ruangan itu memang sedang berkumpul semuanya. Erlang mendekati Naya dan Chiro, memeluk keduanya lalu mencium kening Chiro dan Naya.
.
.
.
Setelah pihak keluarga dan dokter berdiskusi, mereka memutuskan bahwa operasi akan dilaksanakan besok pagi. Tim yang bertugas pun dipilih yang terbaik di bidangnya masing-masing.
Malam ini mereka semua berkumpul di dalam kamar inap Naya.
Seorang mantri datang, sambil membawa kereta dorong yang di atasnya gunting.
"Sudah siap, Dokter Naya?"
Naya mengangguk.
Mantri itu lalu mengambil gunting dan mendekati Naya.
"Tunggu, mau diapakan mommy Chiro?"
"Rambut mommy harus dibotakin, Chiro," jelas Naya.
"Di ... dibotakin?" tanya Chiro bergetar.
__ADS_1
Naya mengangguk sambil tersenyum.
"Chiro saja!"
Chiro langsung mengambil kotak kaca yang di dalamnya terdapat pesawat kertas yang dia buat, yang sebenarnya adalah surat-surat rindu yang dia tulis untuk mommynya saat mereka belum bertemu dulu.
Dikeluarkannya pesawat-pesawat itu, lalu membersihkan kotak kaca itu dengan tisu dan pembersih, kemudian disemprotiannya dengan minyak wangi.
Chiro langsung duduk di belakang Naya. Disisirnya rambut panjang Naya dengan hati-hati. Diciumnya rambut Naya dari belakang. Jari-jari kecil itu mengusap rambut Naya.
Setelah puas menyisir dari ujung kepala hingga ujung rambut, Chiro lalu mengambil gunting.
Sret
Segenggam rambut telah Chiro gunting. Rambut panjang, hitam dan halus itu terlepas dari sang pemilik. Chiro menggenggam potongan rambut itu, menciumnya dengan penuh kelembutan, lalu menyimoannya dibdalam kotak kaca.
Air mata Chiro menetes, begitu juga dengan Erlang dan yang lain. Bahkan mantri yang masih ada dibsana oun, tak bisa menahan keharuan ini.
Sret
Lagi, diambilnya segenggam rambut Naya, lalu melakukan hal yang sama, menciumnya.
Jika bisa, Chiro ingin mencium helai demi helai rambut yang terlepas itu.
Chiro menggigit bibirnya, bahkan membekap mulutnya, agar tak ada isak tangis yang ke luar, tangisan yang tak ingin di dengar oleh mommynya.
Setelah guntingan yang ketiga, Chiro meletakkan gunting itu. Memeluk Naya dari belakang, mengecup kepala Naya yang sebagian sudah hampir botak.
Nuna memeluk Ikmal, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Nania pun melakukannhal yang sama pada Marcell.
Kirei pada Marva.
Mama pada papa
Anya dan Vanya yang berpelukan
Mommy pada daddy
Oma pada opa
Kakek pada nenek
Jasmine pada Evan
Hanya Erlang yang menahannya seorang diri. Tangannya terkepal, menahan gemuruh yang tak dapat dijabarkan.
"Sekarang daddy, Chiro."
Chiro bergeser, kepalanya kini dibaringkan dalam pangkuan Naya.
"Don't cry, Mommy!"
Tangan Erlang bergetar saat memegang gunting itu.
Ya Allah, berikan kesempatan agar rambut indah ini dapat kembali memanjang.
Guntingan pertama yang Erlang lakukan, direkam sedalam mungkin dalam ingatannya. Dihirupnya dalam-dalam aroma rambut yang sangat dia sukai tersebut. Disisirnya rambut Naya dengan jari-jarinya.
__ADS_1
“Tahu kaya begini, dari dulu seharusnya aku modelin rambutku macam-macam, ya? Dikepang, sanggul, dijepit.”
Naya mengerucutkan bibirnya, sebagai pengalihan kesedihannya. Bukan sedih karena rambutnya dipotong hingga botak, tapi karena harus melihat orang-orang yang disayanginya menahan tangis, menutupi kesedihan mereka, agar tak membuatnya bertambah sedih. Tentu saja dia tahu bahwa mereka menangis. Bahkan dia bisa merasakan air mata Chiro dan Erlang yang membasahi kepala dan punggungnya.
Tangan Naya mengusap kepala Chiro yang masih tidur dalam pangkuannya. Wajah anak itu menghadap perut Naya, menenggelamkan wajahnya serapat mungkin dan menggigit bibirnya dalam-dalam, agar tubuhnya tidak bergetar.
Erlang menyimpan potongan rambut Naya dengan teratur di dalam kotak.
Nuna dan yang lainnya ikut meminta jatah. Setelah semua rambut Naya dipotong, Erlang mengambil alat cukur.
“Wah, aku kelihatan kaya Tuyul, ya?” Naya cekikikan.
Chiro langsung bangun dari pangkuan Naya. Dia menutup kotak kaca yang penuh denfan rambut Naya itu dan menyimpannya dengan hati-hati di atas meja.
“Daddy, Daddy, Daddy!”
“Ya, Chiro?”
“Chiro juga mau dibotakin seperti mommy. Ayo cepat Daddy, cepat botakin kepala Chiro!”
“Oke.”
“Mana saputangan Daddy?”
Erlang mengeluarkan saputangannya dari dalam saku celana.
“Ini buat nyimpan rambut Chiro,” ucap bocah itu.
Erlang lalu mulai membotaki kepala Chiro, dan itu tidak membutuhkan waktu lama.
“Yeeyy, sekarang kepala Chiro sama kaya mommy. Mommy, Mommy!”
“Ya?”
“Chiro kaya Tuyul enggak, Mom?”
“Enggak dong, Chiro selalu tampan, mau seperti apapun penampilan Chiro.”
“Mommy juga, bagi Chiro Mommy selalu cantik seperti apapun penampilan Mommy. Panjang, pendek, botak. Mommy is best mother. I love you, Mommy!”
Naya langsung memeluk Chiro dan memberikan kecupan di seluruh area wajah anak itu.
Siapa pun tahu, bahwa kasih sayang anak itu tanpa batas. Seorang anak yang sangat menyayanginya mommynya.
“Daddy juga mau dong, Chiro, potongin rambut daddy.”
Chiro langsung jingkrak-jingkrak kesenangan.
Kepala Erlang kini botak plontos, namun tetap terlihat tampan. Untung saja bentuk kepalanya bagus, jadi tidak terlihat aneh setelah dibotakin seperti itu.
Sebagai bentuk solidaritas, yang lain juga ikut memotong rambutnya. Jika yang pria dibotakin, yang perempuan dibondolin, yang nantinya akan dirapihkan di salon.
”Ah, sayang banget aku sudah tanda tangan kontrak untuk iklan sampo. Setelah syuting iklan nanti, aku juga akan memotong rambutku. Rambut panjang juga sering bikin gerah, apalagi kalau harus syuting di luar ruangan,” ucap Anya, kakaknya Naya dan Vanya.
Naya merasa terharu akan kepedulian mereka. Matanya melihat kotak kaca yang berisikan rambutnya. Chiro memperlakukan benda itu seolah itu adalah peti harta karun.
“Mommy, Chiro janji, selama rambut Mommy belum tumbuh, Chiro juga akan selalu botak.”
Kembali air mata Naya menetes. Dia tak pernah menduga, anak yang dulu dia tinggalkan di saat umurnya masih beberapa bulan, ternyata sangat menyayanginya.
__ADS_1
Biarlah rambut-rambut itu menjadi saksi dan bukti, akan ketulusan anakku. Jika aku masih diberi kesempatan untuk hidup, maka rambutku yang nanti memanjang juga akan menjadi saksi akan kisahku yang baru. Aku akan menjakani hidupku yang baru, tanpa rasa beban lagi. Ya, seandainya aku masih diberi kesempatan untuk tetap hidup ....