Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
148 Bukan Orang Sembarangan


__ADS_3

Freya tetap saja cemberut. Arby mengecup bibir chery Freya yang sangat menggoda. Lalu dia mengusap perut Freya, dan berbisik pelan.


"Anak daddy, kamu mau makan apa?"


Mendengar pertanyaan Arby itu, Freya jadi ingin makan asinan sayur dan buah, yang dijual di pinggir jalan. Arby tentu saja menolaknya, karena takut tidak sehat.


"Aku saja yang buatkan, ya?"


"Kelamaan. Aku maunya sekarang, makan di sana langsung."


"Tapi ...."


"Tuh kan. Kalau sama kamu mah banyak larangannya, mendingan aku enggak usah pulang, puas-puasin dulu jalan-jalannya."


Arby yang malah cemberut. Pasti istrinya itu makan sembarangan. Wajah Freya langsung terlihat sedih.

__ADS_1


Dan ini juga mengingatkan Arby saat mereka kecil dulu. Freya yang suka ngumpet-ngumpet kalau mau jajan di luar. Dia yang selalu dibatasi agar tidak makan dan minum sembarangan, akhirnya selalu meminta sahabat-sahabatnya untuk membawakan makanan lain.


"Maafkan aku," lirih Arby.


Arby sadar dia sangat protektif pada Freya. Dia hanya tidak mau Freya dan calon anak mereka nanti sakit. Sekarang dia baru mengerti akan sikap opa dan oma Freya dulu, karena mereka sangat menyayangi Freya, sama seperti Arby saat ini.


"Iya deh, tapi jangan terlalu banyak, ya."


Freya tersenyum dan mengangguk. Mereka ke luar dari ruangan sambil bergandengan tangan. Freya kembali cemberut pada Jasmine.


"Jangan cemburu pada orang yang enggak selevel sama kamu."


"Bagusan juga body kamu ke mana-mana, Yang."


Kata-kata itu terdengar menyakitkan di telinga Jasmine. Haruskah dia dibanding-bandingkan dengan istri Arby?

__ADS_1


"Jangan tersinggung, kamu tahun sendiri kan bagaimana bos kita itu. Perempuan yang akan dia perlakuan dengan baik hanya ibu dan istrinya saja, mungkin juga nanti kalau dia punya anak perempuan." Evan memberikan pengertian kepada Jasmine.


"Ya tapi enggak udah bicara terang-terangan begitu juga, kali."


"Ck, kamu masih juga enggak mengerti. Arby tidak akan peduli dengan perasaan orang lain, yang paling penting adalah perasaan istrinya."


"Aku sudah mengenal Arby sejak kami kuliah di Jepang. Banyak perempuan yang sakit hati karena sikap Arby yang bicara asal-asalan. Hanya Freya saja yang bisa menjinakkan dia. Kalau Arby itu playboy, sudah dari dulu dia mencari pengganti Freya. Namanya kucing, kalau dikasih ikan asin juga girang. Tapi kamu lihat sendiri kan, rekan bisnis kita yang dari berbagai kalangan, mereka cantik-cantik, tapi tetap saja tuan Arby cuek. Selain itu, kamu juga harus tahu, masuk ke dalam lingkaran keluarga mereka itu tidak mudah. Mungkin dulu mamanya Arby ingin menjodohkan kamu dengan Arby, tapi apa kamu yakin, yang lain juga setuju? Masih ada tuan besar Frans yang harus kamu hadapi."


Evan, yang sering ikut dan sedikit banyaknya terlibat dalam urusan keluarga besar itu, jadi semakin tahu. Bos besarnya itu bukan sembarangan orang, istrinya pasti juga harus bukan dari kalangan yang biasa saja.


Ini bukan cerita Cinderella yang mana perempuan miskin dan biasa-biasa saja akan menjadi pasangan pangeran tampan dan kaya.


Lihat saja lingkungan mereka. Semuanya adalah keluarga terpandang.


Jasmine menghela nafas. Dia memang sangat menyukai Arby, sejak pertama kali dia melihat pria itu. Dulu, saat dia tahu mamanya Arby ingin menjodohkan dia dengan bosnya itu, tentu saja dia sangat senang. Tapi dia terlalu banyak berkhayal. Dia cukup sadar diri, jika dibandingkan Freya, apalah dia yang bukan apa-apa.

__ADS_1


Ini bukan cerita novel yang mana seorang bos akan terpikat dengan sekretaris yang pintar dan cantik.


"Jadi, aku ingatkan padamu, jangan coba-coba merusak rumah tangga Arby, atau kamu sendiri yang akan mendapatkan kesulitan, termasuk semua keluarga kamu. Mereka bukan orang sembarangan, Jasmime."


__ADS_2