
Angel melemparkan barang yang ada di dekatnya begitu melihat konferensi pers. Sejak melihat berita di internet tentang seorang anak yang didufa adalah anak Arby Erlangga, dia sudah merasa sangat kesal. Jika berita itu benar, bukankah itu berarti saat mereka satu kamupus dulu, Arby telah memiliki anak, atau akan memiliki anak?
Lalu sekarang, dia melihat di televisi bahwa mereka membenarkan akan anak itu, dan yang paling membuatnya benci, ternyata ibu dari anak itu adalah Freya, atau yang lebih dikenal sebagai dokter Canaya.
Selama ini dia tidak pernah tahu bahwa Arby telah memiliki anak laki-laki. Lalu apa tadi? Freya Canaya Zanuar? Keturunan keluarga Zanuar? Wanita yang dia katakan tak jelas asal usulnya, perempuan ja*ang yang suka menggoda lelaki, anak haram yang juga akan menghasilkan anak haram. Pantas saja Arby sangat marah saat dia menghina Freya dan anaknya itu.
Ternyata oh ternyata!
Namun, bukannya menyesal dan merasa malu dengan sikapnya, si Angel yang berhati devil itu malah semakin tak suka mendapati kenyataan ini. Merasa tak terima dengan nasib Freya yang bagus, tak hanya karir yang cemerlang, tapi juga memiliki anak dengan Arby dan salah satu pewaris Zanuar.
Sial, beruntung sekali hidupnya!
Lain Angel, lain lagi Clara. Dia yang memang pernah bertemu dengan Freya dan si kecil Chiro pun terkejut dengan kenyataan itu. Dia tak pernah menyangka bahwa anak kecil itu adalah anak Arby dan Freya. Ya, salahnya sendiri saat mereka bertemu, dia hanya fokus memperhatikan wajah tampan Arby, sehingga tak memperhatikan kemiripan Chiro dengan Arby dan Freya.
Sial, ternyata mereka sudah menikah. Apa aku masih bisa merebutnya?
Namin dia tak seperti Angel yang melempar barang, karena saat ini dia sedang bersama rekan kerjanya. Jadi tentu saja dia harus jaga image agar tak memiliki citra buruk.
Mantan teman sekolah mereka, saat melihat video akad nikah itu, jelas melihat binar bahagia di wajah Arby, jadi orang-orang merasa yakin bahwa pernikahan itu dilakukan tanpa paksa.
__ADS_1
Memang pada saat akad nikah dulu, Ikmal, Vian dan Marcell melihat Arby yang tersenyum bahagia. Namun mereka pikir itu hanyalah kedok untuk menutupi perasaannya yang kacau, dan untuk menghormati acara sakral dan nama baik kedua pihak keluarga besar. Kini mereka tahu bahwa semua itu ternyata memang murni dari hatinya.
Orang-orang bisa melihat video itu saat Arby mengucapkan ijab kabul dengan Wildan yang berjalan lancar dan hanya dilakukan sekali tanpa salah sedikit pun.
Video tak lagi dilanjutkan, karena tentu saja mereka memilah apa yang harus ditampilkan di depan publik, yang pada kenyataannya adalah setelah itu Freya turun dengan baju kebaya yang telah digunting pendek dan riasan yang telah dihapus, lalu kekacauan lain yang dibuat oleh gadis enam belas tahun itu.
Tak ada satu pun mantan teman sekolah mereka, selain para sahabat, baik yang satu angkatan, senior, atau junior, yang mengira semua ini. Mereka melihat kehadiran Ikmal, Vian dan Marcell, yang ikut menyaksikan pernikahan itu secara langsung.
Bagaimana bisa mereka yang terkenal selalu bertengkar di sekolah, selalu membuat masalah satu sama lain, tim cowok vs tim cewek, senior vs junior itu ternyata menyimpan rahasia. Bukankah setelah mereka menikah, mereka tetap bertengkar hingga menyebabkan sebagian besar dari mereka diskors dalam waktu yang cukup lama? Gosip tentang Nuna yang saat itu menjadi orang ketiga antara Arby dan Freya kini kembali terekam dalam benak mereka.
Apa benar Nuna pelakor yang menyebabkan perpisahan antara Arby dan Freya hingga pernikahan itu tak pernah terpublikasin hingga saat ini, karena terlanjur berpisah?
"Saya rasa, hanya ini yang dapat saya sampaikan selaku perwakilan dari kedua pihak keluarga."
"Tuan, masih ada pertanyaan ...."
"Ada yang ingin saya tanyakan ...."
"Tunggu!" ucap Naya, membuat yang lain terdiam.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku sampaikan ...."
Arby menggenggam tangan Freya, bertanya apa yang ingin mommy Chiro itu sampaikan.
"Pertama, apapun yang menjadi alasan pernikahan kami, dan yang terjadi di masa lalu, saya sudah mengikhlaskannya. Untuk teman-teman yang pernah menjadi teman sekolah kami, baik yang satu angkatan, senior atau junior, kalian pasti tahu bagaimana dulu hubungan aku dan Arby," Freya tertawa pelan saat mengingat kenangan itu.
"Arby adalah seniorku di sekolah, sejak SMP hingga SMA. Kami tak pernah akur, ada saja yang kami ributkan. Semua itu berawal dari kesalah pahaman sahabat-sahabat kami, yang terus berlanjut karena sikap anak-anak kami, maklum, namanya juga ABG."
Tidak hanya Freya, bahkan Arby, Ikmal, Vian, Marcell, Nuna, Nania dan Aruna ikut tertawa mengenang masa-masa itu.
"Sejujurnya, aku tak pernah benar-benar membenci keempat cowok narsis yang sok tampan dan keren itu. Saat pertama kali bertengkar dengan mereka, aku merasa layaknya remaja sekolah. Aku jadi bisa merasakan bagaimana rasanya bertengkar dengan teman sekolah, berbuat iseng pada senior, diomelin guru karena tak sopan pada senior, dijulidin cewek-cewek yang ngefans pada mereka. Sebenarnya, bisa saja aku dan teman-temanku melupakan begitu saja kesalah pahaman kecil itu, namun aku dengan sengaja terus membahasnya, menjadikan itu alat agar terus bisa mengerjain mereka, karena jujur saja, aku merasa hidupku lebih berwarna, tak hanya fokus dengan buku-buku dan nilai tinggi yang selalu kudapatkan, yang membuatku akhirnya jenuh sendiri dan ingin merasakan sesuatu yang baru."
Ketujuh orang itu memandang Freya, mendengarkan isi hati Freya yang selama ini tertutup rapat dari siapapun, mungkin.
"Saat SMA, aku berteman baik dengan Mico, dia satu-satunya orang yang tahu hal terkelam dalam hidupku saat itu. Menjadi satu-satunya orang yang bisa melihat diriku apa adanya. Bukan Freya si juara kelas, penerima beasiswa dengan prestasi dan puluhan piala."
Freya menatap Mico, yang juga menatapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Sorot kamera kini beralih pada Mico, murid SMA yang dulu sering berbuat onar dan bolos sekolah.
"Saat itu kami berjanji dan berkata 'Boleh saat ini kita bandel, tapi nanti kita akan menjadi orang sukses dengan cara kita sendiri. Si bandel ini akan membantu orang banyak, terutama mereka yang tak punya cukup uang.' Dan kini kami sudah menepati janji itu."
__ADS_1
Wajah Freya menghadap kamera dengan sorot mata bahagia dan sedih bersamaan. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Mico, sudah memenuhi impiannya menjadi pengacara, bahkan dia yang membantuku saat aku melewati masa-masa sulit itu (malpraktik), dan aku sudah menjadi dokter yang ingin menyembuhkan orang-orang yang tak mampu."